Bab 14 Pertemuan?

40 2 0
                                        

Angin malam yang dingin berhembus kencang membuat seorang perempuan yang sedang duduk di depan rumahnya mengeratkan jaket yang sedang ia pakai. Tenang, itu yang sedang Zura cari sekarang, ia mencari ketenangan dengan duduk di kursi yang berada di depan rumahnya, menatap lurus dan tampak kosong melihat jalanan sepi dan rumah yang berada di depan rumahnya.

"Gini banget hidup," Zura tertawa kecil, "Tuhan.... Aku lelah," tidak terasa air mata yang sudah berada di pelupuk mata gadis cantik itu meluncur bebas.

Zura menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan tangisannya dari sang malam yang dingin dan gelap. Zura berada di luar pada pukul 12 malam, mungkin orang lain akan ketakutan ada hantu, namun Zura tidak memikirkan hal semacam itu, ia hanya ingin ketenangan.

Tangisan Zura terhenti ketika ia merasakan ada yang mengusap kepalanya. Hantu? atau manusia? Zura cukup ketakutan sekarang, ia memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang mengusap rambutnya.

Seorang laki-laki tampan sedang berdiri di hadapannya sambil tersenyum manis. "Zefan," ucap Zura.

Zefan menekuk kedua kakinya dan mensejajarkan dirinya dengan Zura dan menatap manik mata Zura yang sudah bengkak dan berlinang air mata.

"Gue di sini." Zefan mengusap air mata yang masih mengalir di pipi Zura. "Plis biarin gue buat bikin lo bahagia. Gue sakit liat lo nangis," Zura masih mematung, ia tidak membalas ucapan Zefan, ia masih berfikir apakah ini mimpi atau nyata.

Karena tak kunjung mendapatkan balasan, Zefan membawa Zura ke dalam pelukannya. Pelukan yang berhasil menghadang angin malam yang dingin. Zura masih tidak bereaksi apapun, namun karena pelukan itu terasa nyaman, Zura memberanikan diri untuk membalas pelukan Zefan.

"Thanks... udah nolongin gue," ucap Zura pelan, sangat pelan, namun Zefan masih bisa mendengarnya.

KRINGGGG......

KRINGGGG.....

BRAKK....

"Kak!"

Zura memegang kepalanya yang terasa berdenyut dan juga tangan kanannya yang terasa sangat sakit akibat terjatuh dari tempat tidurnya.

"Kak Zura! Kakak gak apa apa?" Tanya Zira sambil berlari kecil menghampiri Zura.

Zura mencoba untuk bangun dan duduk di tempat tidurnya kembali, "Aman Zira," jawab Zura sambil tersenyum kecil.

"Huh, untung aja. Kakak kenapa bisa jatuh sih?"

Zura mencoba mengingat kembali kejadian tadi. Revaldi dan Hiza datang untuk menemani Zura yang emosinya sedang tidak stabil akibat kejadian di sekolah, sampai malam mereka berada di rumah Zura sampai Zura tertidur baru lah mereka pulang.

Zura melihat jam dinding yang berada di kamarnya menunjukkan pukul dua malam, Zira tidur bersama dan ia terbangun karena Zura jatuh dari kasur.

"Kakak mimpi jatuh tadi, terus jadi ikutan jatuh," jawab Zura disertai senyuman kecil. "Zira tidur lagi, masih malem ini, kakak juga mau tidur lagi."

Zira kembali ke atas kasur dan mulai mencari posisi yang nyaman, Zura menepuk-nepuk pelan kepala Zira agar Zira cepat tertidur. Sangat bohong jika Zura bisa tertidur kembali, sekarang jam sudah menunjukkan pukul tiga malam. Zura memutuskan untuk keluar dari kamarnya dan mencari udara segar di luar.

Zura mematung di ambang pintu rumahnya, Zura melihat ada sebuah mobil yang terparkir di depan rumahnya dan ia sangat tidak asing dengan mobil itu. Sang pemilik mobil menurunkan kaca mobilnya dan tersenyum kecil ke arah Zura.

Plis ini mimpi?

Mimpi bukan sih?

Kok dia ada di sini?

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 23, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

A&ZTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang