Bab : 14 Pertemuan?

68 3 0
                                        

Angin malam berhembus dingin, menyusup hingga ke tulang. Seorang perempuan duduk sendiri di kursi teras rumahnya, mengeratkan jaket yang ia kenakan seolah kain itu mampu melindunginya dari lebih dari sekadar udara malam. Tenang. Itu satu-satunya hal yang sedang Zura cari sekarang.

Tatapannya kosong, lurus menembus jalanan yang sepi dan deretan rumah di seberang. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya redup, menciptakan bayangan panjang yang terasa sunyi dan sendu.

"Gini banget hidup," gumamnya sambil tertawa kecil, tawa yang lebih terdengar seperti kelelahan. "Tuhan... aku capek." Air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuk matanya akhirnya luruh, jatuh satu per satu tanpa bisa ia tahan lagi.

Zura menundukkan kepala, menyembunyikan tangisnya dari malam yang dingin dan gelap. Jam sudah menunjukkan lewat tengah malam. Orang lain mungkin akan merasa takut, tentang gelap, tentang hantu, tentang suara-suara asing. Tapi Zura tidak memikirkan hal-hal itu. Ketakutan terbesarnya bukan malam, melainkan ingatan.

Tangisannya terhenti mendadak ketika ia merasakan sesuatu yang hangat mengusap kepalanya. Jantung Zura berdegup kencang.

Hantu... Atau manusia?

Ia menahan napas, lalu perlahan mengangkat kepalanya. Seorang laki-laki berdiri di hadapannya. Wajah itu, terlalu nyata untuk sekadar imajinasi.

"Zefan..." suara Zura bergetar.

Zefan menekuk kedua lututnya, mensejajarkan diri dengan Zura. Tatapannya tertuju penuh pada mata Zura yang sembab dan merah, menyimpan terlalu banyak air mata dan terlalu banyak luka.

"Gue di sini," ucapnya pelan.

Tangannya terangkat, mengusap air mata yang masih mengalir di pipi Zura dengan lembut, seolah takut menyakitinya.

"Please," lanjutnya lirih, "biarin gue bikin lo bahagia. Gue sakit liat lo nangis."

Zura masih mematung. Kepalanya penuh tanda tanya. Ini mimpi, atau nyata? Rasanya terlalu hangat untuk sekadar bunga tidur, tapi terlalu indah untuk langsung ia percaya.

Tak ada jawaban. Zefan tak menunggu lebih lama. Ia menarik Zura ke dalam pelukannya. Pelukan yang kokoh, hangat, dan cukup untuk menghadang angin malam yang menusuk. Cukup untuk membuat dunia terasa berhenti sejenak.

Awalnya Zura diam. Namun perlahan, tangannya terangkat dan membalas pelukan itu. Rasa nyaman menjalar tanpa izin, membuat dadanya terasa lebih ringan.

"Thanks..." ucap Zura sangat pelan. "Udah nolongin gue."

KRINGGGG...
KRINGGGG...

BRAKK!

"Kak!"

Zura terbangun dengan kepala berdenyut hebat. Tubuhnya terjatuh dari tempat tidur, tangan kanannya terasa nyeri saat menopang tubuhnya.

"Kak Zura! Kakak nggak apa-apa?" Zira berlari kecil menghampirinya dengan wajah panik.

Zura memaksa diri duduk kembali di atas kasur dan tersenyum kecil. "Aman, Zira."

"Huh, untung... Kakak kenapa bisa jatuh sih?" Zura terdiam sejenak, mencoba mengingat. Revaldi dan Hiza datang malam tadi, menemani dirinya yang masih emosional. Mereka pulang saat Zura tertidur.

Jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari. Zira tidur di sampingnya dan terbangun karena suara jatuh tadi. "Kakak mimpi jatuh," jawab Zura sambil tersenyum tipis. "Terus kebawa jatuh beneran."

"Oh..." Zira mengangguk. "Tidur lagi ya Kak." Zura mengangguk, menepuk-nepuk kepala Zira hingga adiknya kembali terlelap, namun bohong besar jika Zura bisa ikut tertidur.

A&ZTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang