Zefan berdiri agak menyamping, menatap dua manusia di hadapannya dengan sorot mata datar yang nyaris tak menyembunyikan ketidaksukaannya. Wajahnya kaku, rahangnya mengeras, jelas tidak ramah saat menyaksikan pemandangan yang baginya terasa janggal, bahkan sedikit menyebalkan.
Zura sedang membantu Revaldi menyantap nasi padang. Dengan sabar, ia menyuapi Revaldi satu per satu. Cedera yang dialami Revaldi membuat lengannya tak bisa digerakkan dengan leluasa, dan untuk pertama kalinya, Zefan melihat sisi Revaldi yang sama sekali tidak songong, lemah, bergantung, dan... dekat dengan Zura.
Pemandangan itu membuat dada Zefan terasa aneh dan tidak nyaman. Ia akhirnya mengalihkan pandangan, menunduk, lalu membuka ponselnya. Jarinya menekan ikon gim tanpa benar-benar berniat bermain. Ia hanya butuh distraksi, apa pun untuk menyingkirkan rasa kesal yang perlahan merayap.
"Dia udah jadi cowok lo?" tanya Revaldi tiba-tiba, suaranya terdengar santai tapi menyimpan sesuatu.
Zura menggeleng cepat. "Cuma temen sekolah doang." Zefan melirik sekilas, meski wajahnya tetap datar.
"Gue udah kenyang, Ra," ucap Revaldi saat Zura menyodorkan suapan terakhir.
"Nanggung ini," protes Zura. "Satu suap lagi. Cepet makan."
Revaldi mendengus kecil, lalu menurut. "Iya, iya. Galak amat."
"Nah, gitu dong," ujar Zura puas sambil meremas bungkus nasi padang kosong dan membuangnya ke tempat sampah.
Ia lalu menoleh ke arah sofa. "Gue gak bisa lama-lama di sini. Zira udah kelihatan bosen."
Revaldi melirik ke arah Zira yang duduk di sofa bersama Zefan. Gadis kecil itu tampak asyik mengobrol entah tentang apa, sementara Zefan menanggapinya dengan sabar, sesuatu yang jarang dilakukan oleh Zefan pada siapa pun.
"Iya," kata Revaldi pelan. "Bentar lagi juga nyokap sama bokap gue ke sini."
"Gue balik sekarang ya," ujar Zura sambil berdiri. "Jangan betah-betah di rumah sakit."
Revaldi tersenyum tipis. "Hati-hati."
Zura berjalan ke arah sofa. Zefan segera mematikan ponselnya saat Zura menghampiri.
"Ayo pulang," kata Zura sambil menggenggam tangan Zira.
Zira mengangguk, lalu menghampiri Revaldi dengan langkah kecilnya. "Kak Valdi, cepet sembuh ya. Zira pulang dulu." Revaldi tak kuasa menahan senyum. Ia mengelus puncak kepala Zira dengan tangan yang bisa digerakkan. "Iya. Makasih ya, Zira, udah ngejenguk kakak."
Zira terkikik kecil, lalu berlari kembali ke Zura dan Zefan. Mereka pun berpamitan dan melangkah keluar dari ruang rawat inap itu. Di halaman depan rumah sakit, Zura dan Zira berhenti sejenak.
"Kak Zefan, Zira pulang dulu ya. Dadah!" ucap Zira antusias sambil melambaikan tangan.
Zefan berjongkok sedikit dan mengusap puncak kepala Zira, senyum lembut menghiasi wajahnya. "Dadah juga, anak manis."
"Nanti kakak main ke rumah Zira ya," pinta Zira polos. Zura hanya bisa menghela napas panjang. "Zira, ayo pulang," ucapnya sambil menarik pelan tangan adiknya.
"Hati-hati," ucap Zefan singkat, matanya tertuju pada Zura.
Zura sempat membalikkan badan. Pandangannya bertemu dengan tatapan Zefan yang masih berdiri di sana. Ada sesuatu di sorot mata itu, tenang, tapi menyimpan banyak hal. Mobil Zura melaju perlahan, dan sesaat sebelum menghilang, Zefan melihat Zura melirik ke arahnya. Ia tersenyum singkat.
Zefan menghela napas. Ia masih berdiri di halaman rumah sakit, menunggu Leo menjemputnya. Semua kendaraannya masih disita ayahnya, dan rasanya dunia sedang hobi menguji kesabarannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
A&Z
Teen Fiction"Lo cantik, lo harus jadi cewek gue." "Cowok gila!" Ini kisah tentang si A dan si Z, yang penuh dengan tantangan dan rintangan, penuh air mata dan kebahagiaan
