part 3. penolakan 2

3.3K 196 2
                                        

Happy reading
.
.
.
.
Vote, komen and follow

Davian menghapus kasar air mata yang dengan kurang ajar menetes dari pelupuk matanya. Dia berhenti di lorong lantai tiga yang di setiap dinding nya dipenuhi bingkai foto keluarga Abellard, ia menatap penuh luka pada foto besar keluarga Abellard yang tak ada kehadiran dirinya.

Davian memukul-mukul dadanya sesak, Isak tangis mulai terdengar dari bilah bibirnya untungnya disana sepi tak ada bodyguard yang berpatroli.

"Seharusnya aku sudah terbiasa dengan hal seperti ini, tapi kenapa rasanya tetap sakit tuhan hiks hiks." Davian menyenderkan tubuhnya pada dinding menggigit kuat bibirnya untuk menahan isak tangis nya yang takut terdengar orang lain.

"Kau menangis?" tanya seseorang yang berada dibelakang nya  nada yang digunakannya sarat akan ejekan dan kepuasan.

Davian menghapus kasar air matanya tubuhnya ia tegakan seperti semula dan langsung berbalik menatap orang yang bertanya padanya.

Dan dia adalah Edwin putra sulung dari Bara dan Laura.

"Lemah. Apa yang kau rasakan tak akan sebanding dengan rasa sakit yang ibu ku rasakan, lihat saja akan ku buat hidupmu bagai di neraka di rumah ini." Kecam Edwin lalu pergi begitu saja.

.,.....

Davian diam dikamar nya, duduk diatas kasur dengan sebuah laptop yang menyala didepannya, kasurnya begitu berantakan banyak kertas berserakan, entah apa isinya.

Davian menscroll situs web yang menampilkan berita pembunuhan seorang wanita muda yang mayatnya ditemukan mengambang diatas danau dengan tubuh yang dipenuhi luka bekas penyiksaan.

"Tak ada berita mengenai kelanjutan kasus ini, apa yang sebenarnya para aparat itu lakukan." Desis Davian marah.

Dari berita yang ditampilkan hasil otopsi yang dilakukan tim medis pada wanita itu menunjukan jika tubuhnya menderita memar-memar besar diduga akibat pukulan benda tumpul, ada juga luka sayatan, cambukan, dahinya robek, memar diarea bibir dan pipi dan terakhir dua luka tembakan diarea dada yang menjadi pemicu meninggalnya korban.

Berita itu begitu menggemparkan dunia Maya, ada banyak orang yang bersimpati dan menyuarakan keadilan untuk wanita itu, tapi sayang berita itu begitu cepat hilang dan para polisi tidak melanjutkan penyelidikan seakan memang kasus itu sengaja di tutup untuk melindungi pelaku, dan kabarnya sampai sekarang belum ada yang tahu siapa dalang dari pembunuhan wanita malang itu.

Davian mengumpat pelan, lalu tangannya kembali mengetik sesuatu pada laptopnya tapi layar laptop tiba-tiba menampilkan tulisan "Data not found"(data tidak ditemukan)

"Arrrgg" Davian menjambak rambut frustasi melihat apa yang ia cari selalu gagal ia dapatkan,"Mengapa sulit sekali." Erang nya.

Davian mengambil sebuah map yang tersimpan di samping tubuhnya, membuka nya dan membaca isinya yang merupakan biodata seseorang.

Nama.                           : Adinda Kimberley
Tempat, tanggal lahir. : jakarta, ××-××-××××
Umur.                            : 23 tahun
Alamat.                         : jl.***
Pendidikan                   : sarjana bisnis dan manajemen
Asal kampus.               : universitas *****
Hobi.                             : membaca
Pekerjaan                     : karyawan di kantor ***

Adinda adalah seorang wanita sederhana yang hidup sendiri setelah ibunya mati akibat sakit keras sedangkan untuk ayah nya tak ada yang tahu siapa ayahnya ada beberapa rumor mengatakan bahwa ayahnya pergi meninggalkan ia dan ibunya saat masih kecil, Adinda dikenal sebagai wanita yang pandai, baik dan juga ramah, banyak yang merasa kehilangan sosok dirinya apalagi sebelum jasadnya ditemukan Adinda sudah menghilang 5 bulan sebelum kejadian itu terjadi.

Davian berdecak,"Hah, tak ada lagi data yang dapat ku peroleh selain ini. Apa yang harus aku lakukan?"

Davian melihat laptop tangannya bergerak untuk melihat kedalam galeri laptop yang berisi beberapa foto yang ia simpan, Davian memilih salah satu foto perempuan bergaun putih, wajahnya begitu cantik dan ayu tengah memandang kamera dengan senyum cantiknya.

Tangan Davian bergerak untuk mengusap foto itu,"Mama." Lirihnya.

"Tolong bantu Vian untuk bisa mengungkap dalang dari kematian mama."

.......

Malam hari sekitar pukul 10 malam Laura berjalan turun dari lantai tiga ke lantai satu menggunakan lift, bunyi dentingan lift begitu nyaring terdengar ke sekeliling lantai satu karena suasananya yang sunyi. Laura mulai berjalan keluar dan melangkah ke arah dapur dengan tangan yang membawa gelas kosong.

Saat Laura membuka pintu kulkas Laura mendengar ada suara langkah kaki yang mendekat, awalnya ia kira itu bodyguard yang berkeliling tapi ternyata orang yang sangat ia hindari yang muncul ia juga sama sepertinya membawa gelas kosong.

Davian yang menyadari kehadiran Laura berniat balik arah sebelum suara Laura mencegahnya,"Ambil dulu apa yang ingin kau ambil." Dingin nada bicaranya dan Davian merasakan itu.

Canggung yang dirasa Davian apalagi Laura yang berdiri didepan kulkas membuat Davian ragu untuk mendekat, tapi melihat sorot mata Laura yang pantang menerima penolakan membuat Davian mau tak mau mulai mendekat, Davian berdiri cukup jauh dari Laura sekitar 2 meter menunggu Laura menyelesaikan kegiatannya.

"Aku harap kau tidak memiliki niatan jahat dari kedatangan mu kesini." Laura tiba-tiba mengajaknya berbicara.

"Tak pernah terpikir sedikit pun oleh ku untuk melakukan hal itu Tante, aku murni datang kesini atas permintaan opa dan Oma." Balas Davian menyangkal pikiran buruk Laura.

"Bagus jika seperti itu, ah satu hal lagi jangan pernah kau berpikir memiliki hak istimewa seperti putra putri ku di rumah ini, kau harus sadar posisi mu dan jangan coba-coba mencari masalah dengan keluarga ku." Ucap yang menohok hati itu Laura utarakan tak perduli lawannya sakit hati atau tidak, setelah itu ia pergi meninggalkan Davian sendirian dalam kebungkaman.





HIDDEN DESIRETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang