part 13. mereka berulah

2.4K 141 2
                                        

HAPPY READING
.
.
.
.
.
SELAMAT MENIKMATI
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa vote ya


Tengah malam udara begitu dingin, semua penghuni Mansion Bara kecuali para penjaga tertidur lelap berbalut selimut hangat diatas kasur, tapi itu tidak berlaku bagi Davian yang malah duduk termenung di kursi kecil balkon. Pandangannya lurus menerawang jauh dengan pandangan rumit, sesekali kedua alisnya akan mengkerut dalam seolah tengah berpikir keras.

"Apa mungkin..." Davian menggeleng kan kepala nya menolak pikirannya.

"Aku harus mencari tahu, aku tidak bisa asal menyimpulkan tanpa bukti." Monolog Davian penuh tekad.

Saat ini hati dan pikiran nya tengah kalut akan sesuatu yang baru saja ia ketahui, ia merasa semua yang ia ketahui terasa saling berikatan yang membawa nya pada satu kesimpulan tapi tak ada bukti yang bisa memperkuat praduga nya, itulah yang membuatnya bimbang.

Davian kembali merenung,"Al." Panggil Davian pada Albert

"Ya." Tak membutuhkan waktu yang lama bagi Albert untuk menjawab.

"Bagaimana menurut mu?" tanya Davian mengenai pendapat Albert, tentu saja Albert tahu apa yang dimaksud Davian, kan mereka satu tubuh.

"Untuk saat ini aku tak ingin berkomentar, kita carilah dulu buktinya agar semuanya menjadi jelas dan pasti." Jawab Albert tak ingin menambah beban pikiran Davian dengan hasil pemikirannya.

Davian sedikit mendesah kecewa, tapi ia paham maksud Albert yang tak ingin menambah  beban pikiran nya.

Di tengah hening yang melanda dering ponselnya mengisi keheningan.

Davian bergerak mengangkat telponnya setelah melihat nama si penelpon,"Ada apa?"

(Dialog panggilan menggunakan bahasa inggris)

"Maaf menganggu waktunya tuan, saya hanya ingin melaporkan kalau makam yang anda maksud sudah saya temukan, saya juga sudah membersihkan dan menyuruh seseorang untuk merawat makam tersebut sesuai perintah anda."

Davian mengangguk puas,"Bagus. Ah, dan satu lagi, tolong awasi mengenai siapa saja yang datang pastikan tidak terlewat, kamu mengerti?" tanya Davian

"Mengerti tuan!" Jawab si penelpon.

Panggilan pun selesai setelah Davian mematikan telepon terlebih dahulu.

Davian tersenyum lega, setidaknya apa yang si penelpon sampaikan dapat sedikit meredakan beban pikirannya. Akhirnya satu masalah terselesaikan, yaitu keberadaan makam mama nya.

"Aku ikut senang mendengarnya Davian." Ungkap Albert turut merasakan kebahagiaan.

"Ya, walau aku belum bisa melihatnya secara langsung tapi mendengar makam mama sudah di temukan sangat membuat ku lega dan bahagia." Balas Davian.

Malam hari itu mereka habiskan untuk berbincang banyak hal sampai pukul 2 pagi Davian mengakhiri dan pergi tidur.

....

"Ra!"

Pagi-pagi sekali Kennan sudah berkunjung ke kamar Clara sambil berteriak membuat si pemilik kamar mendelik kesal.

"Apa!" Sewot Clara ngegas, tangannya kembali melakukan ritual skincare-an yang rutin di lakukan.

Kennan dengan langkah yang di hentakan berjalan masuk dan duduk dengan kasar diatas kasur samping Clara.

"Ahh Ra~ tolongin gue~" Kennan merengek sambil memegang tangan kiri Clara.

Clara memandang risih,"Apa sih Ken? Ganggu aja tahu gak!" Seru Clara menyingkirkan tangan Kennan.

HIDDEN DESIRETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang