HAPPY READING
.
.
.
.
.
selamat menikmati
.
.
.
.
Pagi telah tiba Davian dengan pakaian santainya turun ke lantai satu untuk ikut sarapan perdananya bersama keluarga Bara, btw kemarin waktu sarapan dan makan malam ia tidak ikut karena masih canggung jadi makanannya diantarkan oleh maid kedalam kamarnya.
Sejujurnya ia cukup takut membuat acara sarapan ini berakhir berantakan, karena ya ia juga cukup tahu diri kalau ia begitu di benci dan tak di sukai oleh keluarga papa nya tapi ini juga perintah dari papa nya dan Davian tak bisa menolaknya.
Saat Davian tiba, suasana yang semula ceria berubah jadi suram semua memandang tak suka dan benci padanya tapi Davian coba abai dan langsung duduk di kursi yang sudah di tarik oleh salah satu Maid disana. Davian duduk sana, Bara langsung memulai sarapan diikuti semuanya.
Para maid bergerak cepat melayani para majikannya, menyiapkan apa saja yang diinginkan oleh mereka berdiri dibelakang siap sedia jika dibutuhkan.
Mereka makan dalam hening hanya dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring yang terdengar mengisi sunyi, mereka makan dengan gerakan anggun dan elegan bunyi yang dihasilkan pun sangat halus cenderung tak terdengar benar-benar sangat mencerminkan etika orang kaya berkelas.
Selepas sarapan mereka mulai meninggalkan kursi masing-masing pergi ketempat tujuan masing-masing, tersisa lah Davian seorang yang memang tak memiliki kegiatan apapun.
"Maaf mengganggu tuan muda." Ucap Arya yang baru tiba.
"Ada apa paman?" tanya Davian.
"Saya hanya ingin memberitahukan bahwa saya sudah mendaftarkan anda ke sekolah yang sama dengan saudara-saudaranya anda sekolah atas perintah dari tuan Alex kemarin." Ungkap Arya.
"Apa?! Kenapa tidak memberitahuku terlebih dahulu paman?" tanya Davian tak suka, niat awalnya ia akan mencari sekolah yang berbeda dengan mereka tapi kenapa malah sudah di dahului.
"Maafkan saya tuan muda, saya kira tuan Alex sudah memberitahu anda karena katanya ia akan menghubungi anda setelah menghubungi saya." Ucap Arya penuh sesal.
"Tapi op-... Ahh aku lupa kalau hp ku kehabisan daya, pantas saja aku tidak tahu." Hah ya sudahlah, salahnya juga.
"Apa anda ingin melihat sekolahnya sekarang tuan muda?" tawar Arya.
Davian menolak,"Tidak, ada banyak orang disana, hari Minggu saja."
Arya mengangguk paham,"Baik tuan muda."
Hari begitu cepat berlalu, seperti apa yang diucapkan Davian kini ia bersama Arya sudah tiba di sekolah yang akan menjadi tempatnya menimba ilmu. Abellard high school adalah namanya, lokasinya yang berada di tengah kota yang dikelilingi pepohonan rindang, memiliki 4 gedung dengan masing-masing gedung memiliki 3 lantai, gedung dengan gaya moderen dan unik itu selalu sukses menarik perhatian orang-orang yang lewat, sama seperti namanya AHS adalah salah satu aset dari keluarga Abellard yang saat ini di kelola oleh putra kedua Alex yang tinggal di Amerika. Sekolah yang bertaraf internasional ini merupakan sekolah ternama yang selalu menjadi impian setiap murid. Alasan sekolah ini terkenal bukan hanya karena milik Abellard tapi karena memang sistem pembelajaran sekolah ini yang bagus karena menghadirkan guru guru elit yang berbakat, fasilitas yang dimiliki juga sudah sangat lengkap baik dari ruang kelas, laboratorium, ruang komputer, kantin, ruang seni, UKS, perpustakaan, ruang teater, aula super luas, kolam renang, lapangan basket indoor dan outdoor, lapangan voli, lapangan sepak bola dan masih banyak lagi bahkan sekolah Abellard juga sudah dilengkapi dengan lift untuk mempermudah mobilitas siswa. Tapi tentunya tak ada yang murah jika ingin fasilitas mewah, mereka yang ingin memasukkan putra putri mereka harus rela merogoh kocek besar jika ingin anak-anak mereka bisa bersekolah disana. Apa sih keuntungannya? Selain dari pembelajaran dan akreditasi nya yang bagus, murid-murid AHS hampir 70% berasal dari orang-orang kaya dan berkuasa sehingga akan sangat menguntungkan bagi mereka jika putra dan putri mereka mampu mencari relasi dan menjalin kerja sama dengan anak-anak dari keluarga berpengaruh seperti keluarga Abellard yang akan sangat bagus bagi kelangsungan bisnis mereka. Maka tak heran jika sering terjadi kasus bullying antar siswa yang memiliki kasta lebih rendah dari mereka misalnya anak beasiswa dan anak-anak dari keluarga yang tidak terlalu kaya.
"Ternyata sudah sejauh ini perkembangan nya, aku kira AHS akan berakhir menjadi sebuah kegagalan." Ucap Davian yang menarik perhatian Arya.
Ah iya mengenai ucapan Davian tadi itu memang benar, sebelum AHS diambil Alih oleh putra kedua Alex awalnya AHS di kelola oleh orang kepercayaan Alex yang ternyata berkhianat, ia melakukan penggelapan uangan secara besar-besaran, melakukan pelecehan pada beberapa siswa dan staf pengajar, dan yang paling parah dia bahkan sampai menjual beberapa data penting sekolah kepada rival bisnis Abellard sehingga membuat AHS terancam bangkrut, tapi untungnya sebelum AHS benar-benar jatuh, kursi kepemimpinan segera diambil alih oleh Rainard Agri Abellard yang terkenal sebagai jenius bisnis dari Keluarga Abellard, dalam waktu 3 tahun ia mampu mengembalikan citra baik AHS mengembangkan AHS menjadi lebih baik lagi dan membawa AHS pada jajaran sekolah bergensi terfavorit, dan sampai sekarang AHS semakin berkembang pesat dan menduduki puncak popularitas tertinggi sebagai sekolah terbaik SE Asia.
"Anda benar tuan muda, semua berkat tuan Rain, beliau mampu mempertahankan dan membawa AHS kepuncak popularitas hanya dalam kurun waktu sebentar, julukan jenius memang pantas ia sandang." Puji Arya dengan mata yang berbinar kagum.
"Yes, Uncle Rain is really great."(Ya, paman Rain memang sangat hebat)
"Mari paman kita melihat-lihat kedalam." Ajak Davian menyadarkan Arya yang tengah melamun.
Arya gelagapan dan segera menyusul Davian yang sudah berjalan lebih dulu.
Sebelum menelusuri lebih jauh setiap sudut sekolah mereka lebih dulu mampir keruang kepala sekolah.
Tok
Tok
Tok
"Masuk!"
Mendengar izin sudah diberikan mereka segera masuk dan langsung disambut baik oleh Fariz selaku kepala sekolah AHS.
"Are you that young master Davian?"(Anda kah itu tuan muda Davian?) tanya Fariz sopan, sebelum nya Fariz sudah diberitahu kalau salah satu keponakan nya Rain yang pindahan dari New York akan datang berkunjung untuk melihat-lihat sekolah sebelum masuk.
"Yes, I'm Davian."(Ya, saya Davian) Balas Davian ramah ia juga membalas jabatan tangan dari Fariz.
....
"Pak Fariz apa disini sering terjadi diskriminasi atau bullying?" Di sela-sela perjalanan mereka untuk melihat-lihat sekolah Davian tiba-tiba mengajukan pertanyaan yang krusial.
"Ah itu... ya itu sudah sangat sering terjadi dan korbannya tidak lain anak anak beasiswa dan anak-anak dari keluarga kalangan menengah ke bawah yang selalu menjadi sasaran bullying anak-anak yang merasa kasta mereka lebih tinggi dari mereka." Fariz menjawab dengan jujur.
Davian mengangguk kecil,"Apa pihak sekolah tidak bisa bertindak tegas pada para pelaku? jangan hanya memandang remeh para korban hanya karena mereka berasal dari kalangan menengah kebawah, prilaku seperti itu harus segera di hentikan agar kedepannya tidak ada lagi korban yang menderita, secara fisik mungkin baik-baik saja tapi tidak ada yang tahu bagaimana hati dan mental mereka. Seperti kata pepatah orang jahat adalah orang baik yang tersakiti, jika hati mereka sudah di butakan rasa dendam apa saja bisa mereka lakukan, dan jangan sampai hal itu terjadi," Ungkap Davian menepuk pelan bahu Fariz yang tampak tertegun.
"Jika anda tidak bisa katakan saja, aku bisa memberitahu uncle Rain untuk mencarikan pengganti anda yang tentunya lebih kompeten dari anda."
"Mari paman kita pulang, aku sudah selesai." Seru Davian yang berjalan lebih dulu lalu disusul Arya yang berjalan di belakangnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
HIDDEN DESIRE
Roman pour Adolescents"Bolehka aku berharap jika suatu saat nanti kalian dapat menerima ku?" ____________________ Gak pandai buat deskripsi Ini murni cerita aku Selamat membaca
