Happy Reading
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Semoga suka🥰
Davian berjalan kearah kelas nya tapi di pertengahan jalan ia bertemu dengan keempat temannya.
"Woy Davian!" Seru Angga heboh.
Mereka berlari kearah Davian.
"Lo kemana aja ngab? ijin ke toilet doang lamanya minta ampun!" Ujar Dimas tak habis pikir.
"Bener tuh, masa dari jam pertama pelajaran sampe istirahat pertama baru selesai, ngapain aja Lo di WC?" tanya Shaka penasaran.
"Bolos ya Lo?" tuding Dhaniel.
Davian menghela nafas panjang, lelah dia tuh, baru juga keluar dari toilet selama berjam-jam giliran keluar langsung di brondongi pertanyaan.
"Ada yang ngunciin aku d toilet, makanya lama," Jawab Davian jujur.
Mendengar itu mata keempatnya melotot terkejut.
"What! Siapa cok? Berani bener tuh orang!" Seru Dhaniel bersungut-sungut.
"Wah, kayaknya tuh orang butuh pelajaran tambahan dari kita, belum tahu dia siapa temennya Davian." Timpal Shaka congkak.
"Kayaknya buat pelangi di wajahnya seru tuh," usul Dimas.
"Udah gak papa, gak usah di perpanjang." Ucap Davian mencegah tak ingin dia mencari masalah di hari pertama nya sekolah.
"Kagak bisa begitu dong! Tuh orang kayaknya tuli kagak denger apa yang pak kapsek bilang, harus di usut ini siapa dalangnya." Tolak Angga tak terima.
"Bener yang di katain Angga, ini udah termasuk dalam kategori perundungan, kagak bisa di biarin." Ujar Dimas ikut setuju yang juga di setujui Shaka dan Dhaniel.
"Aku ngerti, tapi udahlah aku juga gak papa, aku mau ke kelas dulu ya? Aku capek." Ujar Davian lalu pergi tanpa mendengar Jawaban terlebih dahulu.
Mereka terus melihat kearah Davian sampai ia menghilang di balik pintu kelas.
"Lo pada mau ngusut gak?" tanya Shaka pada teman-temannya.
Mereka tampak berpikir.
"Jangan dulu deh kayaknya, nanti kalau dia tahu bisa ngamuk, kita liat aja kalau sampai tuh pelaku ngelakuin lagi baru kita cari." Ucap Dhaniel memberi usulan.
"Ada benarnya juga. Yasudah lanjut ke kantin gak nih!" tanya Dimas mengundang seruan semangat teman-teman nya.
"Ya jadi dong!"
Sedangkan di dalam kelas, Davian baru saja membaca pesan balasan dari Fariz yang beberapa menit lalu ia perintahkan untuk mengecek rekaman cctv toilet cowok lantai dua.
"Rekaman cctv terhapus selama waktu kejadian? Heh, pinter juga." Komentar Davian sesaat setelah membaca chat balasan dari Fariz.
"Aku yakin ini bukan perbuatan orang lain, orang aku saja baru pindah dan belum terlalu banyak berinteraksi dengan orang lain apalagi membuat masalah. Ahh, kayaknya aku tahu siapa pelakunya." Gumam Davian ada tiga kandidat yang terpikir olehnya dan pasti salah satu dari mereka pelakunya.
Bel pulang telah berbunyi beberapa menit lalu, Davian dengan motor barunya melesat dengan kecepatan rata-rata di jalan yang selalu padat kendaraan, Skill bermotor nya patut diacungi jempol dia menyalip dengan begitu lihai dan halus layak pembalap handal. Tiba di garasi mansion Davian segera mematikan mesin motornya dan masuk kedalam mansion.
Ia menaiki lift dan naik ke lantai dua, tiba di lantai dua kakinya kembali melangkah kearah kamarnya dengan langkah santai bibirnya pun tak henti menyenandungkan lirik lagu favorit nya.
Saat kenop pintu di putar dan pintu terbuka, alangkah terkejutnya Davian melihat kondisi kamarnya yang seperti habis diterjang badai, ia ingat betul sebelum berangkat kamarnya begitu rapih dan bersih tapi kenapa sekarang begitu berantakan, baju berserakan, banyak sampah berhamburan, lantai kotor oleh tanah, selimut bawah lantai dengan kasur yang acak-acakan. OMG Hello! Siapa yang melakukan ini!!
Davian melangkah masuk dengan langkah lebar, almamater dan dasinya nya ia lepas ia lemparkan bersama tas nya ke atas kasur. Tangan nya bergerak memencet interkom untuk memanggil salah satu Maid. Lima menit kemudian seorang maid datang dan menghampiri Davian dengan sopan.
"Ada apa tuan muda? Mengapa memanggil saya?" tanya Maid perempuan itu, usia mungkin berkisar 27 tahunan.
"Apa kamu tahu siapa yang telah menghancurkan kamar ku?" Davian bertanya to the poin, Davian itu pecinta kebersihan jadi melihat kamarnya yang berantakan dan bau tentu ia marah.
Maid itu tampak gugup dengan ragu ia berucap,"S-saya tidak tahu tuan muda." Jawabnya.
Alis Davian mengkerut tak suka, ia paling benci dengan pada pembohong,"Jangan berbohong! Jawab dengan jujur siapa pelakunya?" Tanya Davian menuntut, sebisa mungkin ia jaga intonasi suaranya agar tidak kelepasan berteriak atau membentak pada orang yang lebih tua darinya.
Maid itu bergetar ketakutan, ia tahu walau Davian bertanya dengan nada biasa tapi auranya begitu menakutkan.
Maid itu membungkuk dalam, dalam keadaan menunduk ia berucap dengan takut-takut,"Maaf atas kelancangan saya tuan muda, orang yang telah menghancurkan kamar anda adalah saya dan dua rekan saya dan itupun dilakukan atas perintah dari tuan muda Kennan."
Setelah maid itu berucap dari arah pintu muncul sosok Kennan yang berjalan masuk ke kamarnya dengan muka yang ketara puas sekali.
Kennan berjalan dan berdiri dihadapan Davian tangannya bersila di depan dada, bibirnya membentuk seringai yang tampak menyebalkan di mata Davian.
"Suka dengan kejutan ku?" Kennan bertanya dengan nada mengejek.
"Cara kakak terlalu kekanak-kanakan." Balas Davian menatap berani pada netra hazel sang kakak.
Alus Kennan mengkerut tak suka,"Jangan panggil gue kakak sialan! Jijik gue dengernya." Ucap Kennan marah.
"Aku memanggil mu seperti itu bukan sebagai adik pada kakaknya tapi karena aku menghargai mu yang lebih tua dari ku." Balas Davian berani tak terintimidasi sedikitpun oleh aura gelap yang dikeluarkan Kennan.
Kennan tersenyum remeh,"Berani juga Lo... Kita liat sejauh mana keberanian lo ini akan bertahan." Kennan berbalik pergi.
Tapi baru dua langkah, ia kembalikan membalikan tubuh,"Ouh iya gue lupa, Lo beresin kamar Lo sendiri karena semua pekerja disini sudah diperingatkan untuk tidak pernah membantu mu dalam hal apapun. So, mulai sekarang dan kedepannya Lo harus hidup mandiri di sini, babay." Ungkap Kennan penuh ejekan dengan tangan yang melambai
Maid itu pun juga ikut keluar bersama Kennan meninggalkan Davian seorang diri di dalam kamarnya yang berantakan.
"Hah, tidak masalah Davian ini bukan apa-apa, lagipula kamu sudah terbiasa hidup mandiri sejak kecil." Gumam Davian menyemangati dirinya sendiri.
Matanya memandang seluruh kondisi kamarnya, dengan helaan nafas lelah ia mulai membereskan satu persatu kekacauan kamarnya.
Dibelahan dunia lain, ada Cleo yang tengah memandangi tiket pesawat dengan senyum bahagia. Ia berada di bandara dengan setelah kasualnya ia berjalan menuju loket untuk melakukan check-in.
Setelah menunggu sekitar setengah jam akhirnya pesawat yang di tumpangi Cleo pun terbang menuju tempat tujuan.
"I'm coming, Davian." ( Aku datang Davian) Gumam Cleo memandang foto bersama mereka yang tengah liburan di negara Italia
KAMU SEDANG MEMBACA
HIDDEN DESIRE
Fiksi Remaja"Bolehka aku berharap jika suatu saat nanti kalian dapat menerima ku?" ____________________ Gak pandai buat deskripsi Ini murni cerita aku Selamat membaca
