HAPPY READING
.
.
.
.
.
.
.
SELAMAT MENIKMATI
.
.
.
.
.
.
jangan lupa vote and komen
Davian tiba di Mansion saat waktu hampir malam karena ia ada sedikit urusan tadi, tapi entah kenapa sepanjang perjalanan hantinya selelalu resah dan tampaknya itu akan terjawab saat ia memasuki Mansion.
Saat Davian tiba di ruang keluarga yang satu-satunya jalan menuju kamarnya ialah dia harus melewati ruang keluarga yang saat ini terisi semua keluarga Bara.
Bara yang duduk di single soffa tampak berdiri saat melihat kehadiran Davian, dengan langkah yang di penuhi amarah ia berjalan kerah Davian dan-
Plak
Tamparan keras melayang pada pipi Davian yang bahkan bekasnya meninggalkan jejak di pipi putih Davian.
Wajah Davian tertoleh kesamping dengan penuh keterkejutan, tangannya meraba bekas tamparan itu dan memandang Bara dengan penuh pertanyaan, apa maksudnya? Kenapa ia di tampar? Apa salahnya?
Namun, tampaknya bukan hanya Davian yang terkejut tapi hampir semua orang bahkan istri dan anak-anak nya juga.
"Apa-
"KAMU! APA KAMU TULI HAH, SAYA SUDAH PERINGATI KAMU DARI AWAL UNTUK JANGAN PERNAH CARI MASALAH DENGAN KELUARGA SAYA, TAPI APA YANG SUDAH KAMU PERBUAT PADA PUTRI SAYA-
"What have i done? Sehingga papa semarah ini?"
"Kau masih berani menjawab hah! Setelah kamu menghancurkan hasil kerja keras putri saya!"
Davian mundur selangkah dengan wajah yang masih di penuhi kebingungan.
"Memangnya apa yang kulakukan?" Batinya.
Alis Davian mengkerut bingung, ia tak paham apa maksud papa nya, menghancurkan apa? Bukan kah seharusnya dia yang marah karena laporannya di hancurkan anaknya, tapi kenapa malah dia yang di marahi?
Davian melihat kebelakang papanya yang disana terdapat Edward, Vani, Vano, Kennan, Raffa, Laura dan Clara yang menangis, tunggu menangis? Ah, Sepertinya ia mulai paham sesuatu.
"Mereka ingin memfitnah ku." Batin Davian.
"Apa yang kak Clara katakan pada papa?"
"Kamu masih tidak ingin mengaku hah!?"
"mengaku apa? Aku tidak pernah melakukan apapun, justru anak-anak papa yang melalukan sesuatu pada ku!"
"Kurang ajar!" Edward segera berjalan kearah Davian dan mencengkram kerah seragamnya.
"Berani kamu memfitnah kami?" Ucapnya dengan mata yang menyorot tajam.
Davian balas menatap mata itu tanpa gentar sedikitpun,"Fitnah? Bukankah itu fakta?"
Edward meradang
"Sialan!"
Bugh
Perut Davian jadi sasaran pukulan Edward, tapi meskipun begitu ia kembali menarik kerah seragam itu untuk ia cengkram kembali,"Tak salah tuhan menakdirkan mu sebagai anak haram, karena tingkahmu begitu mencerminkan statusmu, sama-sama menjijikan." Kemudian ia dorong Davian, selayaknya membuang sampah yang menjijikan.
"Sudah numpang gak tau diri pula!" Kennan dari belakang menimpali ia tampak menikmati keributan yang terjadi.
"Bener tuh, minimal sadar diri bos!" Sahut Raffa
"Damn it! Kubunuh mereka."
"Davian berikan tubuhmu padaku biar kuhabisi dia."
Davian terpaku di tempat, tubuhnya kaku, matanya memerah, jantungnya berdebar cepat, nafasnya tersengal dengan tangan terkepal erat.
Edward mendekat kembali pada Davian dan menunjuk-nunjuk Davian dengan jari telunjuknya.
"Kamu tahu, adikku bergadang semalaman demi menyelsaikan tugas itu dan kau dengan entengnya merusak laptop nya. Membuatnya melewati presentasi nya dan mendapatkan nilai nol pada mata kuliahnya."
Davian mendongak,"Aku tidak melakukan itu." Lirihnya ia merasa terpojok, Davian tak mampu melawan karena sesuatu dalam dirinya mulai keluar.
Mata Edward semakin berkabut amarah,"dan kau pikir aku percaya?"
Dan menggeleng,"Tidak, tentu saja, bukankah itu sudah jelas? Sekalipun aku menunjukan bukti, tapi jika pada dasarnya kalian membenciku semua yang aku lakukan akan tetap salah di mata kalian."
Davian menatap semua orang dengan mata merahnya lalu tatapannya terkunci pada Bara, Bara tersentak jantungnya berdebar kencang, entah kenapa hatinya terasa diremas kencang, dan itu menyakitkan.
"Aku tak memiliki pembelaan, anggap saja apa yang dikatakan anak papa memang benar aku lakukan, lalu papa ingin aku melakukan apa?"
"Kamu akan di kurung selama tiga hari tanpa benda elektronik satupun, dan mulai detik ini hingga seterusnya kamu dilarang bergabung saat makan bersama." Keputusan Bara menghasilkan seruan tak terima anak-anak nya, mereka merasa itu kurang.
Davian mengangguk dengan senyum kecut,"Oke."
.....
Setelah pintu kamar tertutup tubuh Davian langsung meluruh rasa sesak yang sejak tadi ia tahan tak mampu lagi ia bendung, wajahnya memucat dengan keringat yang banyak.
"Terus lah berteriak tak akan ada yang menolong kamu!" Ucap seorang wanita yang tengah asik menceburkan kepala seorang anak kecil kedalam kolam
...
"Kamu itu bukan siapa siapa di keluarga ini, gak akan ada yang peduli sama kamu." Ungkap wanita itu saat tangannya dengan asik mencabuk tubuh seorang anak kecil.
....
"Menjaulah dasar menjijikan."
"Aku muak melihat wajah menjijikannya"
...,
"Kamu tahu apa alasan mereka membenci kamu? Karena kamu itu hanya anak haram Abelard"
.....
"Kelahiran mu hanya aib yang coba di sembunyikan."
"Menyingkirlah dasar pengganggu!"
"Kamu pikir mereka akan terkesan? Anak haram seperti kamu akan terus di pandang menjijikan oleh mereka?"
"Stop! Kumohon, berhenti... sakitt!" Jerit Davian, matanya berurai air mata dengan tangan yang terus memukul-mukul kepalanya saat bayang bayang masa lalu terus berputas bak kaset rusak di kepalanya dan itu membuat kepalanya serasa ingin pecah . Kata kata itu begitu menyakitkan.
Rasa sesak itu semakin menjadi tapi Davian tak mampu bergerak dia sudah terlanjur terjebak dalam ingatan masa lalunya, ingatan yang menjadi penyebab trauma nya.
Anxiety disorder
Trauma yang selalu berhasil menenggelamkannya dalam lautan ingatan menakutkan, dan ia benci itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
HIDDEN DESIRE
Fiksyen Remaja"Bolehka aku berharap jika suatu saat nanti kalian dapat menerima ku?" ____________________ Gak pandai buat deskripsi Ini murni cerita aku Selamat membaca
