HAPPY READING
.
.
.
.
.
.
selamat menikmati
.
.
.
Senin pagi yang cerah, Davian mematut dirinya di depan cermin full body yang menampilkan pantulan dirinya yang memakai seragam AHS setelah merasa sempurna Davian segera mengambil tas dan ponselnya lalu segera turun kebawah untuk sarapan.
Para anggota keluarga sudah siap di meja makan menunggu para maid selesai menghidangkan menu sarapan pagi ini, dari kejauhan mereka melihat Davian yang berjalan mendekat.
"Dia sekolah di AHS? Sejak kapan?" Tanya Raffa pada semua orang sorot matanya begitu menunjukkan ketidaksukaan yang besar pada Davian.
Perkenalkan dia Raffa Arion Abellard putra keempat dari Bara, ada juga si bungsu Vano Arsya Abellard dan adiknya Vani Arsyi Abellard yang berbeda 2 tahun dari Raffa. Mereka sama-sama sekolah di AHS untuk Raffa ia kelas 12 dan si kembar kelas 10.
Semua menoleh kearah objek yang dilihat Raffa disana Davian berjalan kearah mereka dengan pandangan yang fokus pada ponsel.
"Mas?" Laura bertanya dengan nada menuntut.
Bara gelagapan,"Tidak! Aku tidak tahu apapun, aku juga terkejut dia sekolah di AHS!" Seru Bara.
"Cih menyebalkan, kenapa human itu harus sekolah di AHS sih, bikin polusi aja." Dengus Vano tak suka.
"Tau tuh!" Seru Vani ikut menyetujui.
Davian tiba di meja makan dan ia menatap bingung mereka semua yang menatap tajam dirinya. Apa ia melakukan kesalahan? Ia pandang lagi pakaian yang ia pakai untuk memastikan jika tidak ada yang salah dengan penampilannya.
"Ada apa ya?"
"Dasar egois, apa belum cukup kau tinggal disini menganggu ketenangan keluarga ku, lalu sekarang kau ingin sekolah di AHS? Mau kau apa sih sebenarnya?" Seru Raffa marah.
Mata Davian berkedip-kedip bingung
"Sepertinya kalian salah paham, bukan kemauan ku sekolah di sana tapi opa yang menyuruh paman Arya untuk mendaftarkan ku, aku juga baru tahu setelah paman Arya selesai mendaftarkan ku, jika kalian tidak percaya kalian bisa menanyakannya langsung pada opa." Ucap Davian memberikan pembelaan.
"Halah basi!" Sungut Raffa lalu pergi dari sana tanpa sarapan disusul saudaranya yang lain yang ikut pergi setelah melayangkan tatapan tajam pada Davian.
Laura juga turut pergi tak lama dari itu, dan kini di ruang makan hanya tersisa Davian dan Bara yang tampak mengepalkan tangannya kuat ketara sekali menahan marah.
Brak
Bunyi gebrakan meja yang dihasilkan Bara begitu nyaring dan mengejutkan banyak orang.
Bara berjalan menghampiri Davian dengan muka yang memerah marah,"kau! Kau benar-benar tidak tahu diri!" Kecamnya lalu melangkah pergi setelah mengambil tas kantornya.
Davian menghela nafas lelah ia mulai duduk di kursinya dan memakan sarapannya tanpa selera, benar-benar awal yang buruk, Batinnya.
......
Davian telah sampai di perantara parkiran sekolah, membuka helm dang langsung bergegas masuk kedalam gedung.
Tapi setibanya di sana ia malah di buat bingung melihat seluruh siswa tampak berjalan kesatu arah yang sama. Tak ingin berlarut-larut dalam kebingungan Davian menghentikan salah satu siswa yang melintas di depannya,"Sorry, boleh tanya?"
"Ouh? ah ya ada apa?" tanya siswa itu.
"Ini mau tanya, kalian mau kemana?" tanya Davian.
"Lo murid baru? Kelas berapa?" Siswa itu malah balik bertanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
HIDDEN DESIRE
Teen Fiction"Bolehka aku berharap jika suatu saat nanti kalian dapat menerima ku?" ____________________ Gak pandai buat deskripsi Ini murni cerita aku Selamat membaca
