NOVELTY 27: Oreo yang Tidak Pernah dimakan

52 11 22
                                        

Jaffar

Dalam hidup selalu ada momen di mana gak semua hal berjalan sesuai dengan keinginan, ada beberapa momen di mana gue berusaha bijaksana ketika hal itu terjadi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Dalam hidup selalu ada momen di mana gak semua hal berjalan sesuai dengan keinginan, ada beberapa momen di mana gue berusaha bijaksana ketika hal itu terjadi. Tapi untuk yang satu ini, gue merasa kalua semuanya berjalan dengan sangat gak adil.

Gue hampir lupa berapa lama semenjak Diane pergi ninggalin gue gitu aja untuk mengejar mimpinya. Dan gue hampir lupa berapa lama gue mulai menelantarkan hidup gue sendiri karena semuanya terasa begitu menyakitkan.

Sepulangnya dari pekerjaan gue menyempatkan diri buat datang ke butik tempat Mbak Ane bekerja dulu, begitu sering gue datang ke sini sampai satpam yang awalnya mengira kalau gue adalah penguntit menjadi kasihan setelah tahu kisah cinta gue yang jauh banget dari kata romantis.

"Ke sini lagi Mas?" tanya Pak Suryo satpam butik yang sepenuturannya sudah bekerja di sini selama lebih dari lima tahun.

"Hehe, iya Pak."

Gue turun dari mobil dengan menenteng sekantung kresek berisikan oreo dan eskrim. Barang yang selalu Mbak Ane beli ketika gue masih bersekolah dulu, karena katanya dulu gue masih anak-anak dan biasanya anak-anak suka sama sesuatu yang manis.

'Kalau kamu sedih coba deh makan sesuatu yang manis, katanya sih bisa mengobati sedikit luka di hati kamu.'

Sambil menatap bungkus eskrim, gue termenung menyadari betapa tragisnya ketika mengingat kalau Mbak Ane-lah alasan kesedihan di hati ini menggumpal begitu besar. Terlalu besar sampai gue gak sadar kalau Pak Suryo udah buka bungkus oreo-nya duluan, enteng banget dia malah nyomot gitu aja dan teriak gak jelas sambal nontonin pertandingan bola yang katanya udah mau masuk final.

"Enak Pak oreo-nya?" tanya gue sinis.

Pak Suryo menoleh sekilas dan menjawab. "Lebih enak yang rasa stroberi Mas."

Gue hanya menatapnya heran sambal berharap ada permintaan maaf karena udah nyolong oreo gue.

Pak Suryo mematikan ponselnya dan menarik napas panjang. Kata Mbak Ane kita harus selalu berprasangka baik sama semua orang, makanya ketika ada gestur kayak gitu gue berpikir kalau ini orangtua bakal minta maaf. Iya gue nunggu dia minta maaf, tapi malah ini yang terjadi.

"Saya lebih suka chitato."

"Gak ada yang nanya!" jawab gue sewot. "Lagian saya beli makanan itu buat saya sendiri, bukan buat Bapak!"

Pak Suryo malah ketawa kecil. "Ya maaf, saya kira Mas Jaffar bawakan makanan buat saya yang sendiri di tengah malam gini. Tapi serius deh Mas, saya sukanya chitato."

"Terserah deh Pak, udah abisin aja makanannya."

Sembari melanjutkan kegiatan memakan oreo gue dengan tidak tahu malu. Pak Suryo bertanya. "Kalau saya perhatikan kamu sering banget beli makanan ini. Tapi gak pernah kamu makan, giliran saya makan kamu malah marah."

Masih memegangi eskrim yang tidak terbuka kemasannya gue menjawab. "Saya bukan beli barangnya Pak, tapi saya beli kenangannya."

"Anjay, definisi kita bisa beli barangnya tapi tidak dengan kenangannya kah bro?" Pak Suryo malah bertanya dengan nada meledek.

"Apa sih Pak."

"Hahaha, itu kata-kata saya dapet dari social media. Kata anak saya, saya harus jadi bapak yang gaul."

Rasanya sedikit menohok ketika mendengar anak lain bisa seakrab itu sama bapaknya.

"Masih mikirin Diane?" tanya Pak Suryo tiba-tiba.

Sedikit terkejut gue oleh pertanyaannya karena gue gak mengira kalau bapak-bapak gak tahu diri ini bisa bertanya hal seperti itu.

"Dikit."

"Belajar lagi Mas kalau mau bohong, butuh Latihan seratus tahun untuk bisa mengelabui pengelihatan seorang Suryo Purnomo soal percintaan." Ada nada bangga keluar dari mulutnya ketika dia bicara demikian.

Pak Suryo melanjutkan. "Kalau udah gak mikirin Diane mana mungkin selama tiga bulan ini kamu rutin ke butik setiap malam. Kalau saya gak datengin mobil kamu waktu itu mungkin saya masih ngira kamu itu komplotan pencuri yang fetish sama gaun wanita."

Orangtua sinting.

Gue berkata. "Gak pernah satu malam pun saya lupa sama dia Pak. Setiap malam saya ke sini setiap malam itu juga saya berharap dia berdiri di depan butik nungguin saya. Tapi ternyata cuma cuma bayangan pohon dan tiang listrik dan lampu butik yang sudah mati."

"Ya memang kita tutup jam 10 kamu ke sini jam 12. Jelas udah mati lampunya Mas." Ini kalau dia seumuran sama gue mungkin mulutnya udah gue jejelin sama kaos kaki deh. Sumpah.

"Serius dong Pak, saya kan lagi sedih nih."

Pak Suryo terkekeh geli. "Nikmati aja kesedihan kamu, kalau kamu menolak perasaan itu nanti kamu kesusahan menerima perasaan yang lain."

Perasaan hidup gue isinya sedih semua deh.

Berantem sama bokap sendiri, ditentang kerja sesuai hobi sama keluarga, diusir dari rumah dan ditinggalin sama orang yang gue kira bakal sama gue selamanya.

"Maksud saya kesedihan itu bagian dari kehidupan, kita gak boleh egois untuk selalu ingin merasa bahagia." Tumben bijak.

"Iya deh iya." Gue menjawab sekenanya.

Gue lalu bersiap pulang karena dirasa sudah terlalu lama mengobrol sama orangtua sinting satu ini, besok-besok kalau gue ke sini kayaknya gak usah bawa oreo lagi deh.

Sebelum masuk mobil Pak Suryo bertanya pada gue. "Kenapa kamu saying banget sama Diane?"

Pegangan gue pada handle pintu tertahan. "Pertanyaan sama yang selalu saya tanyakan sama diri sendiri setiap saya mau tidur."

"Saya gak tahu, Pak," jawab gue lalu masuk. "Saya pulang dulu."

"Besok bawa chitato ya."

Begitu mesin mobil menyala gue meninjak pedal gas dengan hati yang lagi-lagi diselimuti rasa hampa karena malam ini sama seperti malam sebelumnya.

Gue lagi-lagi ditertawakan oleh lampu mati di dalam butik seolah berkata kalau yang gue lakukan tidak pernah ada gunanya. Terbesit di dalam hati untuk berhenti mendatangi tempat ini, namun sisi dari gue yang lain berkata kalau suatu saat gue bakal bertemu lagi sama Diane.

Saat mobil sudah berjalan gue melihat dari spion dashboard Pak Suryo sedang berbicara dengan seseorang. Mungkin yang punya butik.

"Berbulan-bulan gak pernah sekalipun anak itu gak ke sini bawa segala macam makanan manis. Dan makanan itu gak pernah dia makan."

"Harusnya saya gak ajarin dia beli makanan manis dulu."

"Kasihan saya sama dia. Takutnya dia miskin gara-gara beli oreo mulu."

"Gak mungkin, kan makanannya Bapak yang makan. Jatuhnya jadi sedekah."

"Kalau gitu kenapa enggak kamu yang makan aja makananannya? Diane."

***

TERIMA KASIH TELAH MEMBACA!

***

Been long time no see guys, semoga kalian sehat selalu maaf kalau selama ini banyak kabur dan gak balik-bakik. But i already comeback after longway trip hahaha

Hope you guys enjoy this new chapter, tipis tipis dulu ya. Nanti kalau diterabas saya yang kejang 🤣

See you!

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 05, 2023 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

NOVELTYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang