12. Nightmares

504 39 10
                                        


Bi Ani sedari tadi mondar-mandir lantaran memikirkan tuan muda kesayangannya itu yang entah berada dimana. Ia takut Ian kambuh di jalan ataupun tersesat. Jadi hendak pulang pun pikirannya tidak tenang, jadi ia memutuskan untuk menginap saja malam ini, toh dirumah ada suaminya.

Ia terus memeriksa handphonenya, siapa tau Ravi memberikan kabar terbaru. Ia juga berusaha mendial nomor Ian, menelpon dan juga mengirim pesan walaupun tidak diangkat ataupun dibalas.

Langkahnya terhenti ketika ia mendengar ketukan pelan yang terdengar persis di pintu depan. Ia pun memutuskan untuk mendekat dan memastikan bunyi itu berasal dari mana. Makin dekat makin terdengar jelas suara ketukannya, ia langsung membukakan pintu. Setelah pintu terbuka tiba-tiba..

"Brukk"

"Astagfirullah DEN IAN!!" Teriak Bi Ani yang terkejut begitu membuka pintu mendapati Ian yang ambruk begitu saja dihadapannya.

"Hah..hahh..bi t-tolong...uhuk...ok-sigen..hahhh" ucap Ian terbata-bata dan nafasnya tersengal.

"d-den Ian tunggu disini dulu ya, saya ambilkan oksigen" ucap Bi Ani terpaksa meninggalkan Ian di depan pintu karena ia tak kuat mengangkat Ian masuk ke dalam.

Ia segera mengambil oksigen portabel di kamar Ian, yang harus ia lakukan sekarang adalah memberikan pertolongan pertama ke Ian segera. Setelah mengambil oksigen, Bi Ani langsung menghampiri Ian yang berusaha menjaga kesadarannya.

Bi Ani langsung menyandarkan tubuh Ian di pangkuannya, lalu memasangkan masker oksigen yang terhubung dengan tabung oksigen kecil, ke area hidung dan mulut Ian.

"Den,,,bibi bantu, ayo nafas pelan-pelan ya.."

Setelah 10 menit berperang dengan dadanya yang sesak, kini Ian mulai sedikit bernafas dengan normal lagi. Bi Ani menghela nafas lega, ia sudah menelpon Ravi 5 menit yang lalu, pasti bentar lagi dia datang.

"Den, maafin bibi ya, bibi ga kuat ngangkat aden ke dalem" ucap Bi Ani merasa bersalah karena dari tadi Ian masih terbaring di lantai yang hanya beralaskan selimut tebal yang Bi Ani bawa tadi.

Ian hanya mengangguk dengan matanya yang terpejam.

Awalnya Bi Ani hendak menelpon Ambulance karena sepuluh menit yang lalu Ian benar-benar kualahan mengatur nafasnya, bahkan hampir saja pingsan, namun Ian melarang Bibi Ani menelpon Ambulance karena ia tidak mau dibawa ke rumah sakit.

Tak lama kemudian sebuah mobil masuk ke dalam kediaman mereka, ya benar itu Ravi. Ravi datang dengan raut cemasnya.

"Iann" panggil Ravi melihat Ian terbaring di lantai bersama Bi Ani yang menemani.

Ian yang mendengar suara tak asing itu langsung membuka matanya yang sedikit berat.

"Den, tolong bantu angkat den Ian ke kamar, sudah dari tadi aden disini, bibi takut den Ian kedinginan"

"Baik bi, tolong bawakan tabung oksigennya"

Dengan cekatan, Ravi langsung mengangkat tubuh lemah Ian dengan bridal style. Ia membawa Ian ke kamar alm papa mamanya yang berada di lantai 1. Sengaja ia bawa kesitu karena akan susah dan lama jika ke lantai 2.

Setelah membaringkan tubuh Ian dengan benar di kasur, Ravi menyuruh Bi Ani untuk membuat kan bubur dan teh hangat untuk Ian, mengigat Ian pasti belum makan sejak pulang sekolah tadi. Sedangkan Ravi mengambil baju dan selang oksigen di kamar Ian.

Setelah mengambil peralatan yang dibutuhkan, Ravi mengganti baju Ian dengan telaten dan hati-hati, lalu perlahan mengganti masker oksigen Ian dengan nasal canula.

"Masih sesak banget ga?" Tanya Ravi.

Ian mengangguk, lalu Ravi menyesuaikan pasokan oksigen agar Ian merasa nyaman.

MISTAKE || On GoingCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang