Keesokan harinya Ian menjalani pemeriksaan ditemani Bi Ani. Keadaan Ian mulai membaik, bahkan sudah melepas masker oksigennya. Ia berjalan pelan di bantu Bi Ani yang membawakan tiang infusenya. Tadi sudah ditawarin pakai kursi roda tapi Iannya gamau.
Di tengah perjalanan Ian melihat sosok tak asing yang berjalan di depannya, namun sepertinya sosok itu terburu-buru hingga tidak menyadari keberadaannya.
"Bi, bukannya itu tante Dhania?"
"Mana den?"
"Itu, kenapa jalan ke arah ruang ICU ya? Siapa yang sakit?"
Bi Ani langsung bungkam, gawat jangan sampai Ian tau.
"Ehh mungkin salah liat kali den"
"Engga bi, itu beneran tante Dhania, ayo kita ikutin"
"Ehmm nanti aja ya den, kan Dokter Gama udah nungguin, nanti aden dicariin"
Ian menuruti ucapan bibinya, walaupun pikirannya terus berputar. Mereka melanjutkan perjalanan ke ruang pemeriksaan.
Saat pemeriksaan hampir selesai, Ian kebelet pipis. Ia pun meminta Ijin ke Gama untuk pergi ke toilet.
"Bibi temani ya den"
Bukan maksut apa-apa tapi Bi Ani ingin menjaga tuan mudanya agar tidak terjadi apa-apa.
"Eh bibi mana boleh kek gitu, Ian kan udah gede, malu kalau bibi ikut"
"Hahaha yauda, Aden ke toiletnya yang deket sini aja ya, kalau ada apa-apa telpon bibi"
Ian mengagguk paham, lalu ia pun keluar sendiri sambil menenteng tiang infusnya.
Selesai buang air kecil, Ian bergegas kembali ke ruang rontgen. Namun di tengah perjalanan ia melihat tante Dhania yang baru saja keluar dari toilet wanita. Ia teringat sebelum periksa tadi Ia juga melihat tantenya itu, rasa penasarannya semakin menggebu, Ia pun mengurungkan niatnya untuk kembali ke ruang rontgen dan lebih memilih untuk pergi mengikuti tantenya.
Semakin jauh langkahnya ia semakin heran karena ia mulai melewati ruang-ruang ICU. Pikirannya kembali memutar pertanyaan, siapa yang sakit?. Hingga akhirnya Dhania berhenti di depan sebuah ruangan yang di depannya terdapat kaca yang menampilkan seseorang di dalam sana.
Terlihat Dhania yang duduk tanpa semangat di sebuah kursi sambil menyisir rambutnya kebelakang dengan jari.
"Tante...siapa yang sakit?"
Suara itu membuat Dhania yang tadinya sedih kini terkejut melihat ponakannya berdiri di depannya.
"Ian..sejak kapan kamu disini?"
Sebelum Dhania bertanya Ian sudah lebih dulu menengok ke kaca besar itu. Ian terkejut hingga tidak menggubris pertanyaan Dhania.
"I-itu siapa tan..." Ucapnya sambil perlahan berjalan mendekati kaca itu.
Kedua kaki Ian tiba-tiba langsung melemas melihat seseorang yang sangat ia kenal terbaring disitu dengan berbagai alat medis yang menempel ditubuhnya.
"Om Andhi... hiks" tubuhnya yang lemas mulai meluruh ke bawah.
Dhania yang melihatnya langsung menangkap tubuh Ian yang hampir limbung itu.
"Tante katakan itu bukan om kan? Ian salah liat kan?" Racau Ian.
"Hiks maafkan tante Ian" ucap Dhania yang merasa bersalah menyembunyikan semua ini.
Ian mulai kesulitan bernafas, Dhania semakin panik dibuatnya.
"Dokter! Suster! Tolong!"
Tak lama para suster dan dokter pun berdatangan dan langsung membawa Ian kembali ke kamarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MISTAKE || On Going
FanfictionRavi sangat menyayangi adiknya, begitu pula dengan Ian yang menyayangi dan menghormati sang kakak Namun hal itu tak berlaku lama, mungkin hanya secuil dari kehidupan yang mereka jalani hingga saat ini "sejak saat itu aku sudah tidak menganggapmu, ka...
