16. Mindset

143 12 4
                                        

Pulang dari sekolah Ravi bersiap untuk pergi ke rumah sakit untuk menengok keadaan Om Andhi. Ian juga ikut karena ia terus membujuk sang kakak,

"Iya deh boleh, tapi nanti kamu pulang ya sama mas Ezra, kakak ganti jaga nanti malem"

"Ian ikut dong bang sekali kali"

"Nginep maksudnya?"

Ian mengangguk dengan tatapan memohon kepada abangnya.

"No no no, udah berkali-kali abang bilang, di rumah sakit tu dingin, nanti kamu bisa masuk angin kalau tidur disana" ucapnya dengan penuh pengertian agar adiknya mengerti.

Ian hanya menghela nafas sambil mengancingkan resleting jaketnya.

"Yuk kita berangkat"

***

Sampai di rumah sakit mereka bertemu dengan tante Dhania yang senantiasa menunggu suaminya.

"Ehh ponakan Tante udah pada dateng, sehat kan kalian?"

"Sehat tante" jawab mereka bersamaan.

"Udah makan belum?"

"Sudah tante, tadi Bi Ani maksa kita buat makan dulu sebelum kesini" jawab Ravi.

"Iya harus begitu, biar kalian ga ikutan sakit"

"Arsen mana te?" Tanya Ravi

"Oh dia masih dirumah, nanti abis Maghrib dateng katanya"

"Oke"

Setelah itu mereka mendekat ke Om Andhi yang keadaan nya masih sama seperti biasanya. Tak lupa mereka memanjatkan doa dan membacakan ayat suci Al-Quran agar om nya segera kembali.

Di pertengahan waktu Ian hendak ke toilet karena kebelet, Ravi sempat menawarkan untuk menemani namun Ian menolak, Ia bisa sendiri katanya.

Setelah selesai dengan acara kebeletnya, Ian mencuci muka sembabnya terlebih dahulu.Ia tidak pernah menangis jika bertemu om Andhi. Ia merasa sangat rindu dengan omnya yang selalu memperhatikan nya.

Namun seseorang tiba tiba berada di sampingnya, dan membuat nya kaget.

"A-arsen..."

Arsen hanya melengos, lalu menatap Ian melalui cermin yang ada di hadapan mereka.

"Puas lu sekarang udah diperhatiin sama bang Ravi, lu benar benar merebut semuanya dari gue!" Ucapnya sambil menggebrak wastafel di bawah tangannya.

Ia menatap Ian langsung, dan menarik kerah Ian hingga muka mereka sangat berdekatan.

"Asal lu tahu, kecelakaan papa gue itu karena lu! Karena selalu belain lu papa gue jadi kecelakaan!, Harusnya lu itu malu, tapi lu berani beraninya dateng kesini, Kalau sampai papa gue kenapa napa, lu harus bayar dengan nyawa lu!" Ucapnya lalu melepaskan cengkeramannya dengan mendorong Ian kuat hingga Ian terjatuh.

Kembali dari kamar mandi Ian terlihat murung, pikiran nya kemana mana karena ucapan Arsen terus terngiang di kepalanya.

"Eh dek kok lu bengong?" Tanya Ravi

Ia menatap abangnya lalu melihat Arsen yang terlihat jengah dengan perhatian Ravi kepadanya.

"Ehm gapapa bang, kayanya Ian kurang enak badan"

Dhania yang mendengar nya langsung mendekat dan menatap Ian khawatir.

"Kamu pulang aja ya Ian, istirahat mungkin kamu kecapean habis pulang sekolah" ucapnya sambil mengusap bahu Ian.

"Oh iya? Kamu pulang aja ya, abang anterin sekarang" ucapnya sendikit khawatir takut adiknya kambuh lagi.

"Biar Arsen aja yang nganter" sahut Dhania

Arsen berdecak mendadakan ia menolak "apaan sih ma, Arsen baru dateng banget udah di suruh pergi' ucapnya.

"Ehm katanya bang ezra mau jemput" ucap Ian mengalihkan agar tidak jadi perdebatan panjang.

"Oh iya lupa, bentar ya abang telpon dulu dia"

Ravi langsung menelpon Ezra, katanya Ezra sudah dekat dengan rumah sakit. Tak lama Ezra datang,

"Zra titip Ian dulu ya, nih bawa aja mobil gue, Ian ga enak badan" ucapnya sambil mengulurkan kunci mobilnya karena Ezra datang menggunakan motornya.

"Oke, ini kunci motor gue lu bawa aja, kalau sewaktu waktu mau pulang" Ezra menyerahkan juga kunci motornya ke Ravi.

"Dek pulang sama bang Ezra ya, abis itu minum obat dan istirahat, abang nginep sini besok pagi banget abang pulang"

"Iya bang, adek pulang dulu ya"

Ravi mengangguk dan mengantarkan mereka sampai tempat parkiran.

Di perjalanan Ezra melihat Ian yang hanya bengong dan diam saja.

"Yan, kamu ga sesek kan?"

Ian menggeleng, "nggak bang, Ian cuma pusing aja"  jawabnya.

"Oke"

***

Ezra memutuskan untuk menginap di rumah Ravi, karena tidak tega meninggalkan Ian sendiri. Kebetulan Bi Ani juga sedang pulang ke rumahnya.

Ezra dan Ian duduk berdua di teras mushola setelah menjalankan sholat Isya. Suasana hening dengan gemericik air di kolam ikan diiringi dengan suara jangkrik di malam hari membuat suasana menjadi syahdu. Ian sangat menyukainya, tapi sekali lagi dia tidak bisa berlama-lama karena angin malam tidak bagus untuknya.

Tapi untuk malam ini ia ingin bertahan sedikit lama, walaupun Ezra terus menawarinya untuk balik ke kamar.

"10 menit lagi ya bang"

Ezra hanya mendengus,

"dari tadi 5 menit lah, 10 menit lahh, terus aja molor"

Ian hanya terkekeh.

"Bang gue pantes ga sih di sayangi..." Ucap Ian tiba tiba.

Ezra langsung mengalihkan pandangannya dari ponselnya.

"Maksud lo?"

"Iya bang, kayanya gue ngerasa ga pantes nerima ini semua, apalagi Bang Ravi yang sekarang berubah. Padahal aku yang sudah merusak kebahagiaan nya. Dan Semua yang sayang sama gue akhirnya pada pergi bang, ninggalin gue sendiri"

"Ey lu ngomong apasihh, you deserve it all yan, manusia itu diciptakan untuk saling mengasihi, Allah aja maha pengasih, masa manusia nggak bisa jadi maha pengasih, semua cobaan yang elu terima itu adalah ujian darinya, seberapa kuat lo bisa melewatinya..."

"Tapi kalau ga kuat apa gue boleh nyerah"

"Eits Allah gasuka sama makhluknya yang mudah menyerah, Inget Allah ga akan ngasih yang melebihi batas kemampuan kita. Berkat doa doa lu, Ravi bisa luluh lagi sekarang kan..Allah juga maha membolak-balikkan hati yan.."

...dan sekali lagi takdir itu tidak bisa diubah, kecuali masa depan dengan ikhtiar"

Ian semenjak termenung kembali, apa yang dikatakan Arsen tadi membuatnya terus berfikir demikian. Tapi sekali lagi ia diingatkan untuk selalu percaya dengan skenario yang Allah berikan, ia hanya berdoa semoga ia mampu melewati ini semua.

"Dah yuk masuk, udah 10 menit" ajak Ezra yang sudah beranjak dari duduknya.

Ia menerima uluran tangan dari Ezra yang menatapnya dengan lembut.

"Inget yan, tidak semua manusia menjalani hidup dengan hatinya, sebagian dari mereka hanya mengandalkan otak kosong yang termakan egonya. Jadi lu jangan telan mentah-mentah omongan mereka, lu punya hati dan pikiran kan yan.."

Ian mengangguk mantap, lalu mereka kembali melangkahkan kaki untuk masuk ke rumah.

-TBC-

HI LUVV, APA KABAR??

Maaf ya kalau bang Ezra banyak tausiahnya, hehe. Btw kemarin ultah Jiminn, Happy birthday Jiminn🥳💜
Oh iya aku merubah Alur cerita ini di chap 15 ke bawah yaaa, maaf banget yang udah baca dari cerita ini lahir, atau mungkin yang masih inget sama alur yang dulu, mohon maaf yaa, mungkin bisa baca lagi dari awal biar inget lagii. Hehe💜

Enaknya Arsen ngapain yaa setelah inii🤔🤭

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Oct 14, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

MISTAKE || On GoingCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang