Hari ini Ian sudah di perbolehkan pulang, karena hari Minggu Ravi turut membantu beberes dan menjemput Ian pulang.
"Udah gaada yang ketinggalan?"
"Gaada bang, aman"
"Yauda yuk, kita ke Bang Gama dulu ya buat lihat hasil lab lu kemarin"
"Ehm bang,, abis itu ke Om Andhi dulu ya"
Ravi mengagguk, lalu berjalan duluan diikuti Ian dibelakang.
Sampai di ruangan Gama, mereka duduk sembari menunggu Gama mencari ha sil tes yang tertumpuk hasil tes pasien lainnya. Sebelum menyerahkan ke sang empunya ia membaca sebentar sebuah kertas yang ada di amplop itu.
"Ini hasil tes Ian kemarin, dari serangkaian tes yang kita jalani menunjukkan hasil yang sedikit mengkhawatirkan, paru-paru Ian memburuk akhir-akhir ini. Ia harus meminum obat rutin dan jangan sampai stres,"
Ravi sedih mengetahui hasil tes itu, tapi ia berusaha biasa saja. Sedangkan Ian sudah cemberut mengetahui hasil yang buruk itu, ia takut tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Jika itu terjadi kasihan kakanya yang harus sendiri.
"Apakah ada solusi lain agar bisa sembuh kak?"
"Sayang sekali tidak Rav, kecuali donor paru-paru"
"Apakah kak gama bisa mengusahakan itu?" Tanya Ravi dengan nada gelisah,
Ian langsung memegang pundak kakaknya, tatapan Ravi bertemu dengan mata sendu sang adik.
"Bang gue gapapa kok, tenang aja"
"Aku sudah tetapkan Ian di urutan donor pertama di rumah sakit ini, kalau Ian semangat dengan hidupnya maka penyakitnya tidak akan mudah menyebar, jadi sabar dan ikhlas ya kalian berdua"
Kini mereka berdua berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang terlihat sepi karena masih pagi. Ian berada di punggung Ravi, ya Ravi menggendong Ian. Ia tidak membiarkan sang adik kelelahan, sejak keluar dari ruangan Gama ia memaksa Ian untuk mau di gendongnya.
Ian pun tidak bisa menolak lagi jika abangnya sudah memerintah apalagi kalau tampangnya lagi serius. Sedikit aneh mungkin awalnya karena ini baru pertama kalinya. Biasanya ia di gendong dalam keadaan tidak sadar ataupun sekarat.
Ia memeluk erat bahu dan meletakkan kepalanya di kekar abangnya. Sembari menyesap aroma wangi yang sangat ia sukai sedari dulu.
"Jangan tinggalin Ian lagi ya bang..."
Ucap Ian membuat langkah Ravi terhenti sejenak, ucapan itu memukul telak kesadarannya. Sebab setelah mengetahui hasil tes tadi ia yang takut kehilangan adiknya, tapi sebelum ia mengungkapkan adiknya lebih dulu mengatakan hal itu.
"Ian cuma punya abang...Ian gamau kesepian lagi seperti dulu, Ian mau seperti ini terus memeluk abang...
Tidak, Ravi tidak sanggup mendengar ini lagi. Kakinya melemas hingga membuatnya terduduk tanpa membuat Ian jatuh dari punggungnya.
Pundak yang semula tegar kini meringkuk dan kepalanya menunduk. Air mata menetes ke tangan Ian yang masih erat memeluknya. Tanpa kata tanpa ucap Ia menangis tersedu-sedu.
Ian sedikit panik melihat abangnya yang tiba-tiba seperti itu, ia merasa bersalah karena ucapannya. Ia pun melepas tangannya lalu pindah ke depan abangnya dan memeluknya, tanpa perlawanan atau penolakan. Mereka berdua berpelukan di tengah lorong sepi rumah sakit.
"Maafin abang Ian...hiks hiks, ha.. harusnya gue.. harusnya gue yang bilang seperti itu....hiks hiks" ucapan tulus yang tersampaikan dari hatinya.
***
Hari hari Ian berjalan dengan baik setelah hari itu, abangnya sangat memperhatikannya dari bangun tidur hingga tidur kembali. Bahkan di sekolah sang abang mulai sering mengajaknya main hingga orang-orang baru tahu jika mereka berdua kakak adik.
Seperti saat ini Ravi sudah standby di depan kelas Ian setelah bel istirahat berbunyi. Ia membawa tentengan tas yang berisi bekal makan yang disiapkan bibi Ani tadi pagi.
Ian merasa senang melihat abangnya dengan senyum mataharinya itu sudah melambaikan tangan kepadanya, namun saat hendak menghampiri Arsen lebih duluan menghampiri Ravi.
"Bang Ravi ga mau makan di kantin aja?" Tanya Arsen sok polos.
"Udah seminggu lho kita ga makan bareng, aku jadi kesepian"
Ravi terdiam, oh iya sudah lama juga dia tidak bersama Arsen semenjak Ian di rumah sakit. Melupakan muka melas Arsen, ia kembali melihat sang adik yang hanya berdiri diam.
"Ehm yahh aku sudah bawa bekel Arsen, apa kita makan bareng bareng aja yuk bertiga..." Ucap Ravi, ia pikir ini perbuatan yang adil untuk adik-adiknya.
Tanpa menunggu jawaban Arsen, Ravi memanggil Ian agar ikut dengannya.
"Ayo kita makan di kantin aja rame-rame" ucapnya sambil merangkul Ian yang baru saja mendekat.
Mau ga mau Arsen mengikuti dari belakang sambil mengepalkan tangannya.
"Eyy Ian sini duduk samping aku" sambut Ezra yang sudah duduk di kantin dari tadi bersama Gama dan Nathan.
"Enak aja, samping gue lah orang makannya bareng sama gue, sini duduk samping abang" ucap Ravi.
"Mentang mentang ya udah baikan" ucap Ezra sedikit menyindir namun dalam hati ia senang melihat kedekatan mereka.
Ravi membuka bekalnya dan mulai makan bersama bahkan menyuapi sang adik. Terasa de javu namun ini seperti dunia terbalik menurut Arsen, dulu ia yang disuapi seperti itu, tapi sekarang Ravi tidak peduli dia makan atau tidak.
"Sen, diem aja lu pesen apa" ucap Nathan melihat Arsen yang hanya diam.
"Atau mau makan bareng kita, ini aku bawa banyak kok"
"Kenapa ga dari tadi nawarin nya, lu udah berubah bang gara gara Ian"
"Ehm gausa kak terimakasih, aku makan nanti aja masih kenyang" ucapnya hanya beralasan.
"Beneran??" Tanya Ravi.
"Iya, aku balik ke kelas dulu ya," ucap nya lalu meninggalkan mereka berlima tanpa ada yang menahannya.
Arsen berlari ke toilet dan berhenti di sebuah wastafel. Ia melihat dirinya dalam pantulan kaca, terlihat jelas raut marah hingga memerah.
"Sialan lu Ian, kenapa elu merenggut semua yang gue punya, dasar penyakitan! Enyah saja lu dari dunia ini"
Kemudian Ia melampiaskan emosinya dengan menonjok kaca di depannya, untung tidak sampai pecah.
"Sepertinya lu mau main main sama gue.."
Ucapnya membuat muka yang tadi sangat menyala tiba tiba mereda dan keluar senyuman sinis dari mulutnya.
TBC
Bismillah, akhirnya aku berani up juga. Maaf ya my luv udah nunggu lama banget 🥺
Insyaallah aku akan comeback secara bertahap 😚
Aku gatau kalian masih minat sama karya ini atau engga, yang penting aku harus menyelesaikan ini semua.💪🏻
KAMU SEDANG MEMBACA
MISTAKE || On Going
FanfictionRavi sangat menyayangi adiknya, begitu pula dengan Ian yang menyayangi dan menghormati sang kakak Namun hal itu tak berlaku lama, mungkin hanya secuil dari kehidupan yang mereka jalani hingga saat ini "sejak saat itu aku sudah tidak menganggapmu, ka...
