nonadeka-

104 7 17
                                        



Bab 19 Emotions are a mystery

Apakah dunia memang seperti ini? Bagiku semua terasa sama, HAMPA. -Ianthe Dilara.

"♟️"

KATA orang, nama adalah doa dan harapan yang diberikan orang tua untuk anaknya. Nama Lara diambil dari kata Laraien yang bearti kesedihan, duka yang mendalam, nama itu seakan membawa nasib buruk bagi Dilara.

Hari semakin sore, awan gelap menggantung rendah di langit, dan hujan turun dengan deras. Dilara baru saja tiba di rumah, dia melihat Rubbyjane sedang berdiri di depan gerbang rumahnya, meski sedang turun hujan.

Rubbyjane tidak mengenakan payung atau jaket, hanya berdiri di sana dengan rambutnya yang basah dan pakaian yang lembap. Ia menatap Dilara dengan mata yang serius, seolah-olah menunggu sesuatu.

"Apa yang membuatmu di sini?" tanya Dilara.

Rubbyjane menyilangkan tangannya di depan dada dengan angkuh sembari menatap Dilara dengan tatapan nyalang.

"Aku bisa saja mengakusisi 20 % saham yang keluargamu miliki saat ini."

"Kamu hanya ada dua pilihan Dilara, terus berteman denganku atau merebut posisimu kembali."

"Cih. Tanpa ancaman sialanmu pun aku akan merebut kembali posisiku," ucap Dilara dan gadis itu berjalan mendekati pintu rumahnya.

Ketika tangannya hendak menyentuh knoop pintu, gadis itu menoleh untuk menatap Rubbyjane. "Daripada kamu menyia-nyiakan waktumu untuk mencariku lebih baik kamu memikirkan bagaimana cara mempertahankan tahtamu karena dia sangat berbahaya."

Tatapan mata Rubbyjane berubah, tanpa sepatah katapun dia berjalan ditengah hujan.

Dilara tersenyum dengan bibir yang terkatup sebelah. "Lihatlah? Kamu terlalu takut untuk memerintahku."

Gadis itu berjalan ke arah dapur sembari memegangi perutnya terlihat meja makan kosong, tanpa satu lauk pun yang tersedia. Sepertinya kedua orang tuanya terlalu sibuk mengurus bisnisnya.

Ia membuka kulkas, menghela nafas lega ketika melihat sisa makanannya kemarin masih ada.

"Enak banget, ya?"

Wanita itu berjalan mendekat, dia mengambil paksa piring di tangan Dilara.

"Gak ada makanan buat kamu. Lara boleh makan jika ujian besok dapat peringkat kedua."

Ia membuang makanan di piring ke tempat sampah dengan gerakan yang kasar. Dilara tak bergeming, hanya menatap ibunya dengan malas.

Hidup di nereka akan lebih baik dari tinggal bersama kedua orang tuanya. Apakah mereka pantas di sebut orang tua ? Orang tua mana yang tega membuat anaknya kelaparan?

"Lara! Kenapa kamu diam saja?" Bentakan keras itu tidak membuat Dilara ketakutan, karena ia sudah terbiasa dengan suara keras bahkan makian dari kedua orang tuanya.

Alexithymia Berasal dari kata Yunani: a (tidak), lexis (kata-kata), dan thymia (jiwa atau emosi)—yang diterjemahkan sebagai “tidak ada kata untuk emosi.

Mereka yang mengalami alexithymia, sebut Healthline, tidak selalu bersikap apatis. Namun, mereka tidak memiliki emosi yang sekuat orang lain dan mengalami kesulitan dalam merasakan empati.

Me, The ProtagonistTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang