dokosa-

108 11 47
                                        


bab 22 Scandal

Dalam pertengkaran, kata maaf berasal dari orang yang takut kehilangan bukan yang paling salah. -Me, The Protagonist.

"🤡"

"JANGAN cari masalah lagi sama cewek gue." Ancam seseorang sembari merangkul bahu Rubbyjane.

Murid-murid menjatuhkan rahang. Tatapan tidak percaya mereka lemparkan.

"Nash?"

Liz-Ri tampak jauh lebih terperanjat lagi.

"GILA!"

"Hama itu pacaran sama Jane?"

"Skandal apaan ini njir?"

Murid-murid kehilangan kata-kata, bahkan Liz-Ri yang sedari tadi gencar memprovokasi kini hanya melongo.

Nash tidak menunggu mereka sadar. Jemarinya segera di turunkan dari pundak Rubbyjane dan dia meraih jemari gadis itu, membuat semua orang semakin menjadi-jadi. Sebelum menariknya keluar kerumunan itu.

Rubbyjane sepertinya terlalu blank untuk memberikan perlawanan.

Gadis itu baru tersadar setengah jalan di koridor Gedung Gajah Mada yang sudah sepi. Rubbyjane berhenti melangkah, membuat genggaman tangan Nash otomatis tersentak lepas. Matanya membulat, seolah baru terkoneksi.

"L-lo NGAPAIN SIH BARUSAN?!"

Raut wajah Rubbyjane sepanik-paniknya.

Nash berusaha menjawab dengan tenang.

"Nyelametin lo."

"NYELAMETIN GUE?!"

Nash spontan membekap mulut Rubbyjane dengan telapak tangannya, menarik gadis itu ke balik pilar terdekat.

"Jangan teriak-teriak."

"Lo mau apa? Hah?"

"Tanpa bantuan dari lo pun, gue akan tetap menang melawan Liz-Ri."

Rubbyjane yang sudah malas berdebat hanga berjalan menjauh sembari menyeka darah dari sudut bibirnya yang terluka. Sementara Nash tersenyum kecil, memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku seragam sekolah.

🤡

🤡

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Me, The ProtagonistTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang