•
bab 18 Toxic Parent
Jika diam atau menghindar dianggap membangkang sedangkan memberi penjelasan atau pembelaan dianggap melawan dan durhaka. - Gazelle Miray.
"🦩"
"HAMA itu benar-benar jenius."
"Ya, siapa sangka."
"Rasanya aku ingin memotret wajah kesal Dilara dan menyebarkannya di grup WhatsApp."
SMAIS di gemparkan akan kelihaian Nash menjawab soal yang diberikan Dilara. Dari kejauhan terdengar suara
derap langkah kaki terbalut sepatu pantofel yang bertabrakan dengan lantai, suaranya terdengar keras hingga semakin dekat dengan sekumpulan siswa.
"Berisik sekali!" suara seseorang mengintrupsi.
Mereka serempak menoleh dan menatap gadis itu dengan tatapan terkejut.
"Hei. Tunjukkan namamu?"tanyanya dengan nada datar.
"Dimana itu?"
"Y-ya," balas pemimpin circle itu.
Gadis itu menunduk lalu berjalan mendekati papan pengumuman ujian ketiga dan tangannya menunjuk barisan nama yang bewarna merah—tanda bahwa dia berada di peringkat lima puluh besar.
Rubbyjane memicingkan matanya. "Itu dia, tempatmu."
"Memalukan. Bahkan dia sebagai murid pindahan mampu menjadi peringkat kedua, sementara kalian sudah menjadi murid SMAIS selama dua tahun tidak bisa masuk posisi sepuluh besar."
Rubbyjane berjalan datar lalu menghilang ditelan pintu ruang kepala sekolah.
Di dalam ruang kepala sekolah, Rubbyjane duduk berhadapan dengan wanita bernama Nada.
"Lama tidak bertemu," sapanya.
Nada tersenyum kecil. "Sikapmu dingin seperti biasa, ya?"
"Kenapa kamu memanggilku ke sini?"
"Ada yang ingin ku bicarakan denganmu, Elakshi." Rubbyjane menatap mata cokelat gelap milik Nada.
"Ku dengar murid pindahan itu adalah seorang jenius. Jika dia tetap berada di peringkat kedua, kamu akan berada dalam masalah, Elakshi."
"Saat itu terjadi, apa yang akan kau lakukan?" ucapan Nada tertuju untuk Rubbyjane walaupun tatapannya sekarang jatuh pada selembar kertas yang tergeletak di meja.
Rubbyjane tidak terpancing, dia tersenyum tipis. "Ada dua hal yang bisa kulakukan, mempertahankan atau memperebutkan."
Nada tidak bisa menahan tawanya." Inilah alasannya kenapa aku ingin kamu bersekolah di sini."
"Aku sangat terkesan denganmu, Elakshi."
Keheningan melingkupi mereka berdua, sebelum suara dering ponsel Nada memecahkannya.
Wanita itu bangkit lalu mendekatkan ponselnya ke arah telinga, setelah pendengar perkataan dari seseorang di sebrang sana Nada tertawa puas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Me, The Protagonist
Fiksi RemajaCerita ini series pertama dari trilogi SMAIS Universe Mempertahankan atau memperebutkan - Me, The Protagonist *** Rubbyjane adalah pemilik tahta tertinggi di SMA Intelligence Surabaya. Nash Itsvan murid pindahan yang tiba-tiba menduduki peringkat k...
