•
bab 14 Private
Aku terlalu cerdas, terlalu menuntut, dan terlalu banyak akal sehingga tidak ada seorang pun yang dapat mengendalikanku sepenuhnya. Tidak ada seorang pun yang mengenalku atau mencintaiku sepenuhnya. Aku hanya memiliki diriku sendiri. - Simone dari Beauvoir
🧩
MASIH teringat jelas diingatan Nash, bagaimana mereka menatap dia dengan tatapan beringas, seakan dia adalah hewan herbivora di antara kawanan karnivora.
Bagaimana mungkin dia mendapat peringkat kedua? Dia bukan apa-apa dibandingkan dengan Liz-Ri.
Belum sempat Nash mengatur nafas, seorang wanita dengan mengenakan kemeja warna hitam, terkesan elegan menghampirinya.
"Wah, wah, wah."
"Murid pindahan dengan nilai paling buruk di sepanjang masa."
"Seseorang dengan status rendah. Ya, orang tidak penting sepertimu. Tapi, musuhmu adalah orang spesial. Ianthe Dilara, selama dua tahun ini dia selalu menduduki peringkat tiga besar dan dalam sejekap kamu telah mengalahkannya."
"Ya, gue memang tidak pantas jika dibandingkan dengan Dilara maka jangan pernah bandingkan gue dengan Dilara."
Wanita itu tidak berkomentar, dia tersenyum tipis sebelum pergi meninggalkan Nash.
🧩
Di Jalan Kenikir, sebuah kenangan-kenangan indah milik Dilara dan Ren tersimpan.
Mereka berdua adalah tetangga, sahabat, dan saudara seperjuangan ketika berada di rumah.
Berbeda jika di SMAIS, mereka tidak saling tidak mengenal bahkan sedekar untuk menyapa, mereka enggan. Ren malu untuk menyapa Dilara, karena dia hanyalah penghuni Unnder Class.
"Bunda Tiara, Lara mau mengembalikan buku," ucap Dilara di ambang pintu.
"Masuk, Lara. Ren ada di kamar," balas wanita itu dengan melenggang pergi menuju dapur.
Dilara mengangguk lalu melepas sandalnya dengan tidak sabaran. Dia berjalan masuk ke dalam kamar dengan nuansa khas laki-laki pada umumnya.
Ren sama seperti anak seumurannya, yang membedakan adalah Ren murid dari SMAIS dan memiliki bakat meretas.
"Ren?" panggil Dilara pelan, namun tidak ada yang menyahut.
Gadis itu melanjutkan langkahnya, namun perhatiannya teralihkan dengan adanya suara Ren dari arah kamar mandi.
Dilara biasanya tidak penasaran, tetapi ketika suara itu menyebut nama Rubbyjane maka Dilara memberanikan diri untuk menguping dibalik pintu, karena Ren menjawab telfon tepat di depan pintu.
"Terima kasih untuk bayarannya, aku sangat terkesan." Dilara bisa mendengar suara Ren dari balik pintu.
Ren meretas data siapa lagi?
Dengan cepat, Dilara berjalan ke arah meja belajar Ren. Di atas meja, Dilara menemukan latar belakang dari Nash Istvan, tidak salah lagi Rubbyjane pasti dalang dari semua ini.
Tidak tinggal diam, Dilara memotret kertas salinan itu sebelum Ren keluar dari kamar mandi.
"Lara?" panggil Ren.
KAMU SEDANG MEMBACA
Me, The Protagonist
Fiksi RemajaCerita ini series pertama dari trilogi SMAIS Universe Mempertahankan atau memperebutkan - Me, The Protagonist *** Rubbyjane adalah pemilik tahta tertinggi di SMA Intelligence Surabaya. Nash Itsvan murid pindahan yang tiba-tiba menduduki peringkat k...
