⚠️ Sebelum baca cerita ELBARA! Everything will end harus baca cerita ELBARAKAYLA, karena alur ELBARAKAYLA nyambung dengan alur ELBARA! Everything will end.
"𝚂𝚎𝚖𝚞𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚝𝚒𝚍𝚊𝚔 𝚊𝚔𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝙺𝚊𝚢. 𝙳𝚎𝚗𝚐𝚎𝚛𝚒𝚗 𝚊𝚔𝚞 𝚜𝚎�...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Nadira tidak melanjutkan perkataannya. Gadis itu pergi begitu saja meninggalkan tiga insan. Hal tersebut membuat Elbara bisa bernapas dengan lega, karena dia belum siap kalau istrinya mengetahui apa yang terjadi pada Raymond, putra mereka.
Kayla mengangkat pandangannya, mata yang indah itu menatap dalam mata seseorang yang ditakdirkan Tuhan untuk bersamanya. Ditatap seperti itu membuat Elbara menaikkan alisnya.
"Raymond baik-baik aja, kan?"
Elbara mengangguk. "Anak kita baik-baik aja, Kay. Dia lagi di Surabaya sama opanya," balas Elbara. Elbara tersenyum untuk meyakinkan istrinya. "Omongan Nadira gak usah kamu anggap." Elbara memberi pesan kepada istrinya sambil mengusap pipi Kayla.
Kayla tersenyum, cewek itu mengambil alih Bella yang sejak tadi digendong Elbara. Bayi cantik itu menjatuhkan kepalanya di pundak Mamanya. Sementara itu, Kayla mengusap punggung mungil putrinya dengan begitu lembut. Usapan itu berhasil membuat Bella secara perlahan menutup matanya.
"Sayang, nanti aku mau pergi ke rumah sakit jiwa."
"Boleh, Sayang. Kamu perginya sama Mbak Yuli, ya. Soalnya aku ada urusan," kata Elbara.
Urusan yang dimaksud Elbara pastinya menjaga Raymond, karena saat ini yang tengah menemani buah hati mereka adalah salah satu orang kesayangannya Raymond, yaitu Alvano.
*** Alvano menjatuhkan air matanya. Rasanya sakit sekali melihat tubuh kecil yang biasanya bergerak dengan lincah, kini terbaring di ruangan ICU.
"Bos Kecil, Om Pahlawan Super kangen sama Bos Kecil. Bos Kecil pasti lebih kangen, kan?"
Alvano menghapus bulir bening yang membasahi matanya. Meskipun dia menghapusnya saat itu juga tidak membuat kesedihannya menghilang. Mata yang basah itu menatap sendu bibir mungil yang biasanya selalu tertawa dan tersenyum dengan ceria.
"Bos Kecil, Om sayang banget sama Bos Kecil. Bos Kecil harus sembuh, nanti kita main bareng. Main bola di pantai, Bos Kecil mau, kan, pergi ke pantai sama Om Pahlawan Super?" tanya Alvano.
"Jujur, Om Pahlawan Super gak sanggup lihat Bos Kecil tidur di ruangan ini. Ruangannya sepi banget, gak ada mainan. Dindingnya polos, pasti Bos Kecil kurang suka, kan?" ucap Alvano.
*** Sesuai perintah dari atasannya alias Bos Besar. Saat ini seorang cowok yang waktu itu mengantarkan makanan yang sudah dicampur racun itu tengah memantau rumah Elbara dari jauh. Di depan gerbang yang menjulang itu terlihat ada beberapa orang berseragam hitam yang tengah berdiri.
Orang itu menoleh kala terdengar suara mangkuk yang diketuk, pertanda pedagang bakso datang. Sebelum pedagang bakso itu pergi menjauh, dia dengan cepat menghampiri pemuda yang mendorong gerobak bakso. Tanpa basa-basi, orang itu mengeluarkan uang dari saku jaketnya.
"Uang ini bisa jadi milik lo, asalkan lo mau kerjasama sama gue. Kerjanya cuma sekarang, gak bakal nyampe seharian, tapi lo bakal dapat uang sebanyak ini. Gimana, mau, gak?" tanyanya.
"Boleh, tidak berbahaya, kan, pekerjaannya?"
"Gak, lo cuma nawarin bakso ke orang-orang yang berdiri di depan pagar rumah itu."
"Nawarin bakso, tapi dapat uang sebanyak ini?"
"Bakso yang sudah dikasih obat tidur," balasnya sambil menambahkan obat tidur ke dalam panci berisi bakso. "Kalau sudah selesai, lo langsung buang baksonya. Jangan sampai ada orang lain yang memakan bakso selain mereka," katanya.
*** Orang itu berhasil memasuki rumah Elbara. Saat ini mata dia disuguhkan dua tangga yang membuatnya bingung. Kebingungannya terjawab saat ada pesan masuk dari seseorang yang disebut 'Bos Besar'.
Bos Besar [Naik lewat tangga yang dekat dengan kamar.]
Disaat anak buahnya tengah menjalankan perintahnya, dia terus memerhatikan pistol yang kini ada di genggamannya. Pistol yang sudah dia siapkan untuk membunuh Elbara Arjuna Ragaspati. Orang itu berhenti memegang pistol kala handphone yang dia taruh di saku jasnya tiba-tiba berdering.
"Sudah disimpan di meja rias."
*** Selepas menghubungi Bos Besar, Gian buru-buru pergi dari sana. Langkahnya tiba-tiba tertahan kala ada seseorang menarik tangannya. Tidak berhenti di sana, Elbara pun tidak ragu memukul orang itu.
"Siapa yang nyuruh lo?" tanya Elbara yang saat ini tengah mencengkeram kerah kaos Gian. Dia bertanya dengan sorot mata yang begitu tajam.
"Kalau mau tau, serahkan istri lo untuk gue, Elbara Arjuna Ragaspati. Gue bakal kasih tau siapa orang yang nyuruh gue asal Kayla buat gue."
"Lo nantangin gue? Siapa yang nyuruh lo ke sini? GUE TANYA SEKALI LAGI, SIAPA YANG NYURUH LO?" Elbara memukul pipi Gian dengan kuat.
"Gue bakal jawab, asalkan istri lo buat gue."
"Lebih baik gue gak tau siapa Bos Besar sekarang daripada gue harus kehilangan istri gue. Gue bisa sendiri membongkar identitas Bos Besar."
"Gue bakal berusaha memiliki istri lo."
Elbara sudah sangat kesal dengan Gian, cowok itu menendang Gian sampai tersungkur. Gian bangkit, cowok itu mendorong Elbara sampai terbentur ke pintu. Benturan yang kuat itu membuatnya berdarah. Saat Elbara akan melawan, Bella menangis. Hal tersebut membuat Elbara menghampiri Bella.
Cowok itu tersenyum, menyambut bayi yang berpegangan pada pembatas ranjang.
"Maaf, Papa udah ninggalin Bella," ucap Elbara. Cowok itu menggendong Bella.
"Mama, mama, mama, mam."
"Mamanya lagi jenguk kakek, Bella mamnya sama Papa, ya. Kan, Bella anak baik."
*** Elbara membuka mulutnya lebar-lebar kala terdengar suara pistol yang berhasil membuat Bella kembali menangis. Elbara menuruni tangga dengan terburu-buru sambil menggendong buah hatinya yang menangis untuk memastikan apa yang terjadi.
Elbara mengira kalau yang menembak itu Gian, kenyataannya Gian sudah ambruk di lantai. Sementara itu, seorang cowok yang mengenakan jas hitam berdiri sambil memegang pistol.
"Lo yang nembak dia?"
Haikal mengangguk.
"Bego, gimana kalau dia mati?"
"Bos Besar bisa semena-mena sama keluarga lo. Masa lo gak melakukan hal yang sama, Elbara Arjuna Ragaspati," kata Haikal. "Lo mau kalau istri dan anak-anak lo kenapa-kenapa?" tanya Haikal, cowok itu memasukkan pistol ke saku celananya.
"Gue gak akan tinggal diam, Kal. Gue akan melakukan apa pun termasuk membunuh Bos Besar demi keselamatan keluarga gue, Kal," jawab Elbara.
Haikal menghampiri Elbara, dia menaruh tangannya di pundak Elbara. "Lo bakalan bunuh dia? Termasuk kalau orang itu yang dekat sama lo?" tanyanya.
"Kenapa tidak? Dia udah jahat sama anak gue yang gak tau apa-apa, Kal. Gara-gara dia, sekarang anak gue koma, Kal. Hidup gue bukan semakin membaik, Kal. Semakin hancur! Hancur, Kal!" ucap Elbara.
"Maafin gue, Elbara."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.