{17}. Sekuat Sesakit //

76 5 0
                                    

Happy reading📖

Tandai typo!!!


Candra menutup handphone nya, dan kembali menutupi tubuhnya menggunakan selimut yang tebal. Dua hari yang lalu, ia di perbolehkan pulang oleh dokter dan sekarang di sini lah dia di kamarnya yang sepi dan gelap.

" Cand, gw mau keluar bentar. Lo di sini ya? " Candra menarik selimut nya yang menutupi wajahnya menatap sang kembaran.

" Jangan lama-lama, nanti kalau gw sekarat gak ada yang nolongin gw. " Ucap candra, catra melemparkan botol obat yang biasa di minum oleh pemuda itu dan meletakkan segelas air di meja.

" Gw pergi dulu. " Catra menutup pintu dengan hati-hati. Candra membuka gorden nya supaya ada cahaya yang masuk dari jendela. Tubuhnya sangat panas, dan kepalanya juga sangat pusing, ia membuka handphone dan memainkan game dari benda pipih itu.

" Makin pusing gw liat handphone terus. " Candra memijat pelipis dan mengusap matanya yang terasa gatal.

Pemuda itu bangun dari tidurnya, mencoba bertumpu pada dinding yang berada di sampingnya, badannya sangat lemas. Entah siapa, yang bertamu di sore-sore ini, ia berpikir bahwa lilya yang datang, ketika ia membuka pintu, tenyata itu tante anila, bunda dari Rio.

" Masih panas? " Punggung tangan itu menempel pada kening candra.

" Catra mana? Kenapa kamu yang bukain bunda pintu? "

" Catra lagi pergi, bun. "

" Masuk dulu. " Candra kembali menutup pintu itu rapat-rapat, ia melangkahkan kakinya menuju sofa dan duduk di sana, anila pergi ke dapur entah berbuat apa.

" Candra, kamu udah makan? " Tanya anila setengah teriak.

" Iya bunda tadi sama catra. "

" Yah, padahal bunda bawain kamu sup ayam. Bunda taruh di kompor aja ya, nanti jangan lupa di angetin. " Candra mengangguk sebelum menjawab.

Anila keluar dari dapur dan memperhatikan setiap inci dari rumah yang lumayan besar ini.

Wanita paruh baya tersebut mengambil sapu dan mulai menyapu dan membersihkan rumah yang berantakan ini.

Candra yang melarang bunda rio melakukan itu, karena itu sangat merepotkan dan membuat ia tak merasa enak. " Bund, nanti biar aku aja yang beres-beres. "

Anila tak mendengar dan tetap menyapu dan merapikan rumah itu. Candra diam sembari memperhatikan dan menolong jika melihat sesuatu yang berantakan di dekatnya merapikannya kembali seperti semula.

Tok.. Tok.. Tok.

" Biar bunda aja yang buka. " Anila mendekati pintu dan membukanya.

" Kamu cari siapa? " Tanyanya ketika melihat gadis berdiri di sana sembari memegang sebuah kresek berukuran sedang.

" Em, candra nya ada? " Anila mengajak gadis itu masuk untuk menemui orang di cari.

Candra menatap siapa itu dan seketika senyuman nya mengambang.
" Lilya. "

Lilya tersenyum lalu melambaikan tangannya. " Hai, apa kabar? "

DERMAGA// (TERBIT!) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang