Happy reading📖
Tandai typo!!!!!!
--Dermaga//--
Hari selasa yang cerah hari ini. Sang surya menampakkan cahayanya yang sangat menyilaukan, burung-burung berkicau dan beterbangan sana sini.
Sudah satu minggu lilya tak bersekolah karena ingin men-stabilkan mentalnya terlebih dahulu sebelum masuk.
Lilya mampir ke warung bubur ayam yang masih buka di jam 8 ini, ia memesan bubur ayam satu mangkok kepada ibu yang pedagang di sana. Gadis itu mengedarkan pandangannya mencari sebuah kursi dan meja yang kosong.
" Loh catra? " Keduanya saling pandang kemudian saling tunjuk.
Lilya duduk di meja yang sama dengan catra. " Lo bolos? "
Catra menaruh jari telunjuk nya di bibir. " Jangan kasih tahu siapa-siapa." Lilya menjentikkan jarinya.
" Bego, lo masih pake seragam sekolah. " Pemuda itu menepuk keningnya.
" Lupa hehe.. " Lilya terkekeh gemas atas tingkah pemuda di depannya ini.
" Ini mba. " Ibu itu menaruh semangkuk bubur ayam di meja.
" Makasih bu. " Gadis itu mengambil sendok lalu mengaduk bubur nya.
" Bubur lo kok gak di aduk? " Tanya lilya setelah melihat bubur milik catra yang tak di aduk.
" Hm? Gw kurang suka bubur yang di aduk. "
" Kenapa? "
" Kayak prindafan. " Lilya mendelik tak suka.
" Sok prindafan lo. " Lilya menyuap bubur ayamnya, ia menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri.
Catra juga menyuap bubur nya lalu mengikuti apa yang dilakukan lilya tadi.
" Ngikutin gw ya? " Tuduh lilya. Catra mengangguk jujur.
Mereka berdua memakan makanan mereka hingga tandas, setelah itu keduanya serempak keluar dari warung tersebut.
Lilya dan catra berjalan berdampingan, keduanya tidak mengobrol hanya mata yang menatap lurus jalan yang ramai.
" Gimana kabar lo? " Tanya catra, ia menengok ke arah lilya.
Lilya menatap pemuda itu lalu menjawab. " Baik. " Cewek itu menendang sebongkah batu yang berada di depan kakinya. Ia dan catra menutup mulutnya setelah mendengar suara ringisan di depannya.
" Ayyan!? " Lilya mendekati ayyan yang memegang matanya sembari meringis, ia memegang pundak pemuda itu sambil berkata maaf.
" Aduh maaf.. Gw gak sengaja sumpah. " Ayyan mengangguk lalu berusaha membuka matanya yang kena batu tadi yang di lempar lilya tadi.
" Huwaa.. Mata gw gak bisa kebuka. " Mata kanan ayyan mengeluarkan air mata dan sedikit memerah dan juga bengkak.
" Huwaaa... Ayyan maaf, gw gak sengaja. " Lilya ingin menangis rasanya, ia merasa bersalah.

KAMU SEDANG MEMBACA
DERMAGA// (TERBIT!)
Teen Fiction𝘾𝙚𝙧𝙞𝙩𝙖 𝙞𝙣𝙞 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙩𝙚𝙧𝙗𝙞𝙩 𝙙𝙞 𝙏𝙚𝙤𝙧𝙞 𝙠𝙖𝙩𝙖 𝙥𝙪𝙗𝙡𝙞𝙨𝙝𝙞𝙣𝙜!! 𝙈𝙚𝙣𝙜𝙖𝙥𝙖 𝙨𝙚𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙮𝙖𝙝 𝙗𝙚𝙜𝙞𝙩𝙪 𝙩𝙚𝙜𝙖 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙖𝙣𝙖𝙠𝙣𝙮𝙖? " Aku selalu menyayangimu ayah. " Cerita ini mengisahkan tentan...