25. Masih berlanjut

340 47 5
                                        

Bayangannya masih sangat melekat, kendati fisiknya sudah berada di dalam liang lahat. Hati mendadak ada yang kosong, seperti rumah yang ditinggal kabur tanpa pamit. Menyisakan beberapa peninggalan yang entah kenapa membuat jiwa sangat rindu.

Iya, seperti rumah yang ditinggal kabur oleh tamu yang tidak diharapkan sebelumnya.

Kiran tak pernah menyambut apalagi menjamu. Selama ini dia menganggap Dihyan hanya mampir duduk lalu pergi. Dia tak menyadari bahwa Dihyan benar-benar menunggu untuk bisa diperbolehkan menetap.

Bukannya tidak diperbolehkan, Kiran sudah memberikan tempatnya untuk orang lain yang sebenarnya tak pernah ingin singgah. Dan seterusnya akan seperti itu sehingga Dihyan terus dibiarkannya di luar. Sampai pada akhirnya waktu telah habis. Dihyan pergi jauh dan meninggalkan jejak yang sangat kentara.

Kiran menyesal?

Entahlah. Kiran tak menolak perasaan Dihyan. Dia juga tak membalas itu dengan hal yang sama. Tapi ... dia punya bentuk lain untuk menghargai Dihyan atas rasa yang diberikan. Dan bentuk itu namanya kasih sayang.

Dia berpikir bahwa rasa kasih sayang bisa diberikan pada siapa pun tanpa terkecuali. Keluarga, saudara, pasangan, dosen, murid, guru dan juga ... teman. Baik laki-laki atau perempuan. Berbeda dengan cinta yang hanya untuk orang-orang tertentu saja. Selama mengenal, Dihyan adalah teman yang baik meskipun agak menyebalkan. Sering mentraktir, memberi tumpangan, memberi perhatian kecil dan yang diluar dari dugaan ialah memberikan rasa cinta. Hal itu membuat Kiran sangat terbiasa dengan kehadirannya dan sebenarnya ingin berterima kasih dengan memberikan balasan berupa rasa kasih sayang.

Akan tetapi malangnya, Kiran terlambat untuk mengutarakan rasa tersebut. Dia terlalu lama memahami perasaan yang timbul. Dihyan ... sudah pergi. Pergi jauh tanpa membawa apa-apa darinya.

Sore ini, tepatnya tiga hari setelah dikabarkan meninggal, Kiran baru bisa menguatkan batin untuk bisa mengunjungi peristirahatan terakhir Dihyan. Bersama kantong plastik berisi taburan bunga di tangannya, dia masih berdiri dengan tatapan kosong mengarah pada nisan di depannya. Tak menyangka jika nama Aden Dihyan Purnama sudah tertulis jelas di sana berserta tanggal lahir dan tanggal pergi.

"Aku udah terlalu lama hidup dalam tekanan dari papah aku, Kir. Aku cuma pengen hidup tenang, jauh dari perasaan apapun yang membuat aku gelisah."

Sungguh, kalimat terakhir Dihyan terlalu dalam dan sangat sulit untuk dilupakan. Suaranya bahkan masih begitu terngiang di telinga Kiran seorang cowok itu masih ada. Dia pun melangkah ke samping gundukan, berjongkok lalu menaburkan bunga ke atasnya.

Air mata sukses menerobos kelopak, tersadar dari rasa denial-nya yang beberapa saat lalu sempat melanda. Emosi sedih pecah setelah kembali merasakan kehilangan. Tak mampu untuk mendeskripsikannya, yang jelas Kiran merasa sangat kehilangan sesuatu di dalam dirinya. Meninggalkan banyak kenangan, yang mana kenangan tersebut kian memperparah nestapa.

Kiran masih mengingat jelas momen-momen di tenda pecel lele langganan Dihyan, obrolan yang mengalir, tugas-tugas yang menumpuk, ribut di rapat dan gerobak bakso di dekat terminal. Semua itu seolah menjadi penghias di dalam keseharian hingga membuat hidupnya tidak monoton dan dia sudah sangat terbiasa.

Sekarang, tentang Dihyan hanya tinggal ingatan, yang tidak bisa diajak nostalgia bersama.

"Kak? Sekarang udah tenang, ya?"

__°°__


Ingin kembali ke dalam mimpi namun dunia itu sudah menghilang entah ke mana, menyisakan kegelapan yang begitu mencekam. Kini, tidak ada yang bisa dia lakukan kecuali membuka kedua mata.

Berat, itulah yang dirasakan.

Suasana perlahan terlihat jelas yang mana Haris bisa melihat langit-langit berwarna putih dan jika dia menggerakkan manik ke sebelah kanan, terlihat seseorang paruh baya berkacamata tengah berdiri mengawasinya. Indera pendengaran samar-samar menangkap suara berisik dari bebunyian yang sudah tak asing lagi.

Afeksi Garis Tangan | SelesaiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang