Berlian

7 0 0
                                        

Berlian merasa sedikit pusing setelah terjatuh dan menggelinding di tempat yang gelap. Udara di sekitar mereka terasa kering. Dia tak tahu apakah di sini panas atau tidak. Dia hanya melihat tanah di sekitarnya kering dan lapang. Cukup lelah dia mendengarkan teriakan dua manusia yang baru saja bertengkar.

"Halooo!" teriak berlian kencang tapi tetap tak ada yang mendengarnya.

"HALO?" teriak berlian lagi.

Berlian itu mengedipkan matanya berulang kali. Ini benar-benar gelap. Dia tidak bisa melihat apapun. "HAAAALOOO-"

"Hey!" teriakan seseorang membuat berlian terdiam. "Kamu berisik banget!" teriakan seseorang.

Berlian terdiam. "Siapa kau?" tanya berlian merasa takut. Tempat ini sangat gelap.

"Yah, hanya sebuah batu yang biasanya di tendang orang. Aku sedang menunggu diriku ditendang ke selokan."

Meski sudah berkonsentrasi, berlian tetap tidak bisa menemukan keberadaan batu itu. "Oh ya? Kamu ada dimana? Aku tak bisa melihatmu."

"Yah, kamu takkan bisa melihatku sih. Kecuali benda yang ada di atas kita ini pergi atau ada cahaya yang menyorot ke arahku. Namun, aku bisa dengan jelas melihatmu."

Mendengar itu berlian menjadi senang. "Sungguh?"

"Iya, kamu adalah batu berlian kan? Bagaimana bisa kamu ada di sini? Pasti kamu djatuhkan pemilikmu."

Mendadak hati berlian menjadi sedih. "Aku... dibuang oleh pemilikku."

"Hah? Kok bisa?" tanya Batu biasa itu.

Dengan lesu berlian itu berkata. "Karena aku palsu. Menyebalkan sekali bukan? Secantik apapun aku, tetap akan terbuang jika aku palsu. Aku akan dianggap tidak bernilai, tidak berharga."

Setelahnya hanya ada keheningan. Berlian masih terluka karena dia dibuang begitu saja setelah ketahuan kalau dirinya palsu. Padahal dia sudah berusaha sebaik mungkin untuk menjadi cantik. Tak bisakah tuannya tetap menjaganya?

"Bagaimana kamu apabila ada di posisiku?" tanya Berlian lagi.

"Entahlah, walau aku batu asli sekalipun, tak pernah ada yang memilihku sih." Berlian tersentak mendengarnya. "Aku hanya bisa bersyukur jika hanya ada satu orang yang menginjakku hari ini. Tak seharusnya kau berkecil hati. Lihat dirimu, bahkan di tempat dengan minim cahaya seperti ini, kamu masih bersinar dengan indah. Sebab itulah aku masih bisa melihatmu."

Berlian terdiam mendengar ucapan batu. Entah nasih siapa yang lebih baik. Lalu suara deruman tiba-tiba muncul dan benda di atas mereka bergerak. Di saat itulah cahaya mengenai mereka berdua. Berlian melihat betul wujud dari batu biasa itu.

Bentuknya terlalu abstrak. Tidak rapi. Dan warna yang tak cantik. Yah, pantas saja batu itu tak mengerti rasa sakit yang dia miliki.

*

*

*

*

*

#Day1 #30dwc #30dwcjilid43


CollectionWhere stories live. Discover now