Hari yang cerah, anak-anak bergembira. Mereka semua riang bermain, sambil menunggu waktu makan siang. Diantara mereka terdapat anak yang sendirian. Rupanya dia sedang menatap sebuah lubang aneh yang ada di pepohonan.
"Rian, kamu ngapain di situ?" suara seorang anak membuatnya menolehkan matanya.
"Aku sedang melihat lubang yang ada di pohon ini. Aku seperti mendengar suara tangisan di sana." Mendengar cerita Rian membuat semua anak-anak mendekat.
Mereka mulai mengamati lubang yang ada di pohon itu. Rian lalu mengintip pohon itu lebih dekat.. Dia tak peduli temannya yang berspekulasi bahwa itu adalah hantu atau semacamnya. Rian mendekat dan melihat manusia super kerdil di sana.
"Hey," sapa Rian.
Manusia super kerdil itu menoleh. Matanya tampak memerah. "Hey, kamu siapa?"
Semua teman-teman Rian jadi ingin melihat. Entah Rian tak bisa menerka apakah manusia itu laki-laki atau perempuan. Yang jelas itu Rian yakini sebagai manusia super kerdil.
"Hey, kemarilah. Kami bukan anak yang nakal kok," ujar Rian.
Pada akhirnya manusia kerdil itu mendekat ke arah Rian dan mulai keluar dari lubang pohon itu. "Kenapa kamu menangis?" tanya Rian.
Semua teman-teman Rian hanya menyimak. "Sayapku sudah rusak. Aku tidak bisa kembali ke rumahku." Manusia kerdil itu mulai menampakkan sayapnya.
"Wah, kamu seekor peri?" tanya salah satu teman Rian heboh.
Manusia kerdil itu menanggukan kepala. "Benar sekali aku adalah seekor peri. Sebab itulah aku tak bisa kembali ke rumahku sekarang."
"Rumahmu di mana?" tanya Rian.
"Di tempat yang tidak bisa dijangkau hanya dengan berjalan kaki," ujar peri itu sedih.
"Bagaimana dengan naik pesawat?" tanya salah seorang anak lagi.
Peri itu menggeleng dengan murung. "Lalu bagaimana cara menyembuhkan sayapmu?" tanya Rian.
"Aku membutuhkan gula kapas yang bisa memulihkan sayapku. Aku juga bisa kembali terbang dengan begitu."
Rian menganggukan kepala mengerti. "Kalau begitu biar aku membantumu. Kalian mau ikut?" tanya Rian kepada semua teman-temannya.
"Maaf Rian, aku pasti diminta untuk tidur siang."
"Aku juga ingin makan siang."
Semua orang menyatakan tidak bisa.
Pada akhirnya hanya Rian yang mengantar peri itu. Rian juga yang membeli gula kapas itu dengan uang saku miliknya. Peri itu akhirnya makan gula kapas itu.
"Hey, peri kecil. Siapa namamu?" tanya Rian.
"Namaku Mia. Kamu Rian kan? Teman-temanmu memanggilmu seperti itu."
"Iya benar."
"Kamu adalah anak baik ya. Dengan ini Rian aku berjanji akan selalu melindungimu. Walau kau akan melupakanku nanti, aku akan selalu berusaha untuk melindungimu."
Peri itu lalu bersinar. Rian sendiri terkejut dan peri itu lalu mulai terbang ke atas. Rian masih memperhatikan peri itu terbang ke atas. Lalu dia menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Kenapa aku di sini ya?"
Sejak saat itu, Rian selalu diikuti keberuntungan kecil yang membuat dirinya terhindar dari bahaya. Saat pagi hari yang cerah, tak sengaja Rian membawa payung. Ternyata memang saat pulang ke sekolah, hujan mulai turun. Begitulah cara Peri Pelindung membalas budinya.
