05. perihal kontes (a bit M)

1.8K 128 14
                                        

Akhir pekan, bagi sebagian orang, adalah waktu untuk berkumpul, tertawa, dan berbagi cerita—tapi tidak bagi Taehyung.

Hari-hari libur selalu terasa sunyi untuknya. Ia tidak menghabiskannya di tengah keramaian kafe atau taman bersama sekumpulan teman. Karena sesungguhnya, ia tak pernah benar-benar punya siapa pun yang bisa disebut teman.

Dunia Taehyung hanya seluas langkah kakinya dan selebar bidikan kameranya. Ia berjalan seorang diri, membiarkan cahaya senja menyentuh kulitnya, dan membingkai dunia dalam jepretan. Pohon, bangunan tua, bayangan awan yang jatuh di aspal basah—semuanya layak diabadikan. Semuanya, kecuali manusia.

Tak pernah sekalipun ia potret manusia. Bahkan tidak ayah dan ibunya. Entah kenapa, bagi Taehyung, manusia tampak terlalu bising untuk dijadikan subjek. Terlalu hidup. Terlalu nyata. Dan barangkali, terlalu menyakitkan untuk diabadikan.

Baginya, kamera bukan sekadar alat. Ia adalah jendela. Pelindung. Cara satu-satunya agar ia bisa melihat dunia tanpa merasa rapuh karenanya.

Namun hari itu, untuk pertama kalinya, sesuatu—atau seseorang—menarik lensa pandangnya dari kebiasaan.

"Jungkook?"

Taehyung membeku. Posisi kamera yang semula sejajar dengan wajahnya perlahan turun. Dia melihat pemuda itu melangkah cepat, berpakaian serba hitam, dengan ransel dan boots senada, menyatu dengan bayang-bayang kota sore ini. Dan tanpa berpikir panjang, Taehyung mengikutinya.

Dia sadar, tindakannya kini terdengar ganjil, bahkan menyeramkan. Tapi rasa penasaran menang atas logika. Apa yang Jungkook lakukan di sekitar sini? Apakah rumahnya dekat? Atau...?

Langkahnya membawanya ke depan sebuah bangunan dengan tulisan "Dance Studio". Dan sebelum sempat berpikir lebih jauh, sebuah suara lembut menyambutnya.

"Halo! Apakah au datang untuk mengikuti kelas?"

Taehyung berkedip beberapa kali, ragu dan sedikit gugup. "Ah, tidak..."

"Kami menawarkan kelas hip-hop, jazz, juga K-Pop. Mungkin kau ingin mencoba?" Senyum si staf mengembang ramah.

Taehyung hanya menjawab dengan keheningan. Pandangannya menyusuri ruangan luas di balik dinding kaca bening. Suaranya nyaris tak terdengar ketika ia bergumam, "Studio tari..."

Dan tepat ketika musik mulai diputar, ketika ruangan itu hidup oleh irama, pandangannya jatuh pada satu sosok.

Jungkook.

Gerakan tubuhnya seperti menyatu dengan detak musik. Setiap langkah, setiap hentakan, mengalir dengan presisi dan pesona. Bukan gerakan yang dipahami Taehyung—tapi cukup untuk membuatnya terdiam, terpaku, seolah jiwanya ikut menari di tempat.

Jungkook, yang di sekolah tampak tenang dan nyaris tak terusik dunia, kini menari seakan dunia ada di bawah telapak kakinya. Keringat menetes perlahan, membingkai sisi wajahnya yang penuh fokus dan dedikasi.

Selama lima belas menit, Taehyung nyaris beberapa kali lupa bernapas.

"Baik, waktunya istirahat."

Musik berhenti. Dan hampir sebagai refleks, Taehyung bertepuk tangan. Spontan, kagum, tulus. Sampai staf wanita di sebelahnya tertawa kecil melihat kekaguman polos yang tumpah dari mulutnya.

Taehyung masih terpaku pada pemandangan indah itu—Jungkook meminum air dari botol, keringat tipis membasahi pelipisnya, napasnya naik-turun dengan teratur.

Namun ketenangan itu runtuh dalam sekejap ketika Jungkook mendongak—dan tatapan mereka saling bertemu.

Satu detik.

pulchritude • tk (✓)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang