15. jumpa lagi

1.1K 104 7
                                        

Malam itu seharusnya menjadi malam yang tenang bagi Taehyung—malam di mana tubuhnya bisa beristirahat dari lelah yang menumpuk sejak pagi. Namun Jimin, dengan segala antusiasmenya yang nyaris tak pernah padam, kembali mengajaknya keluar.
Katanya, ada sebuah kafe baru yang menarik untuk dikunjungi. Dan seperti biasa, Taehyung tak kuasa menolak.

"Jadi ini tempatnya?" gumam Taehyung pelan, matanya menelusuri papan nama kayu yang diterangi cahaya lampu kuning temaram.

"Eum." Jimin mengangguk dengan mata berbinar, menarik tangan Taehyung agar masuk bersamanya.
"Tempatnya bagus, kan? Kakakku memaksa aku datang ke sini, katanya kita harus lihat sendiri. Kau tahu, seluruh sudut kafe ini bisa berubah jadi panggung. Pengunjungnya bisa menonton pertunjukan drama sambil menikmati kopi."

Taehyung memutar pandang, mengamati interior kafe yang terasa hangat dan intim. Lampu gantung rendah berkilau lembut, aroma kopi menyatu dengan kayu manis dan sedikit wangi vanilla.
"Drama?" tanyanya ragu. "Maksudmu... mereka benar-benar bermain di antara meja pelanggan?"

"Ya," jawab Jimin ringan. "Konsepnya teater terbuka. Spontan dan hidup."

Taehyung mengangguk pelan. Ini sesuatu yang baru untuknya—campuran antara seni dan keseharian yang terasa begitu aneh, tapi juga menarik.

Belum sempat mereka memesan minuman, suara pecahan kaca tiba-tiba memecah keheningan.
Gelas jatuh, diikuti teriakan dari arah bar.

"Bekerja di tempat ini menyebalkan!" seru seorang pelayan, nadanya tinggi dan bergetar.

"Tenanglah!"

"Kau tidak pernah mendengarkan apa yang kukatakan, sialan!"

Beberapa pengunjung menoleh. Taehyung ikut terdiam, bahunya menegang. Tapi Jimin hanya terkekeh pelan.
"Mereka pasti aktor," ujarnya dengan nada santai. "Sepertinya dramanya sudah dimulai."

"Oh..." Taehyung mengangguk lambat, mencoba menenangkan jantungnya yang sempat terkejut. Ia menatap adegan itu dengan mata berbinar. Semuanya terasa begitu nyata, begitu hidup—seakan emosi para aktor itu meluap sampai ke meja tempatnya duduk.

Namun pada detik berikutnya, tirai di dekat pintu masuk tersibak. Dari sana, muncul seorang pemuda bertopi hitam. Langkahnya tenang tapi penuh wibawa, auranya seolah menyapu ruangan.
Dan sesuatu di dalam diri Taehyung tiba-tiba bergetar.

Ia tak tahu kenapa, tapi tubuhnya merespons lebih cepat daripada logikanya. Jantungnya berdetak kencang. Pandangannya tak mau lepas. Ada sesuatu yang begitu familiar dari siluet itu—dari caranya berjalan, dari lekuk bahunya, bahkan dari cara pemuda itu menunduk sedikit sebelum mengangkat wajah.

Dan saat topi itu perlahan dilepas...
Waktu seolah berhenti.

Tatapan mereka bertemu. Langsung. Tanpa perantara.
Seakan semua suara di kafe itu tenggelam.

Jimin masih berbicara sesuatu di sebelahnya, tapi Taehyung tak mendengar.
Yang ada hanyalah sepasang mata yang begitu dikenalnya—mata yang dulu pernah membuat dunia kecilnya bergetar hebat, yang dulu pernah ia hindari dengan segala cara, tapi juga ia rindukan dalam diam yang panjang.

Jungkook.

Nama itu langsung berputar di kepalanya.
Begitu cepat, begitu keras.

Tangan Taehyung mencengkeram sisi meja. Lututnya gemetar, napasnya tidak beraturan. Ia ingin berpaling, tapi matanya seolah dikunci.
Jungkook menatapnya selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya, lalu mengalihkan pandang dengan datar—menatap dua aktor lain yang berdebat di depan bar.

"Apakah ada masalah?" suaranya halus dan lembut, membuat dada Taehyung bergetar.

"Kalian tahu ini bukan hari untuk membuang waktu dengan hal-hal kecil seperti ini."

pulchritude • tk (✓)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang