Tindakannya mengundang panggilan ke ruang bimbingan konseling. Kim Taehyung—anak yang dikenal tenang itu—memukuli Mingyu hingga wajahnya nyaris tak dikenali.
Babak belur.
Luka di tubuh, namun yang lebih parah adalah luka harga diri yang ditinggalkan oleh amukan seorang Taehyung yang selama ini tak pernah menyentuh kekerasan.
Ia diberi kesempatan.
Peluang untuk berubah.
Ia berjanji, dengan nada datar dan wajah tak menyesal, untuk tidak mengulanginya lagi.
Namun sungguh, dari dalam hatinya yang terdalam, Taehyung tidak menyesal.
Sedikit pun tidak.
"Ini tidak seperti dirimu, Taehyung. Kau tahu itu, kan?" suara Pak Choi terdengar lembut namun tegas, mencoba meraba alasan di balik badai yang tiba-tiba mengamuk dari anak didiknya itu. "Harusnya kau bisa bertindak lebih bijak. Tapi aku tahu... kau mencoba membantu Jungkook, ya?"
Tak ada jawaban.
Taehyung hanya diam, menunduk.
Matanya tak sanggup menatap balik.
Namun pada akhirnya, ia mengangguk pelan.
Pelan sekali, seakan berat mengakui apa yang bahkan ia sendiri belum sepenuhnya pahami.
Pak Choi tak berkata apa-apa lagi. Ia hanya menyerahkan sebuah handuk kecil—hangat dan wangi dari bilik guru—sebelum berbalik meninggalkan ruangan itu.
Dan Taehyung pun melangkah pergi.
Langkahnya lesu, bukan karena lelah fisik, melainkan karena sisa-sisa emosi yang masih berputar di dadanya. Ia menuju perpustakaan, bukan kelas.
Ia tahu dirinya tak sanggup duduk tenang di bangku pelajaran seolah tak terjadi apa-apa.
Tidak setelah semua itu.
Taehyung membantu Jungkook?
Pak Choi salah.
Dia bukan penyelamat.
Bukan pahlawan dalam kisah manapun.
Justru sebaliknya—karena Jungkook-lah dia mampu menyelamatkan dirinya sendiri.
Selama ini, Taehyung merasa seperti mengapung dalam kubangan air keruh.
Tak tenggelam, tapi juga tak bernapas.
Tak pernah berani berenang ke tepi, namun perlahan dicekik oleh kotoran yang mengelilingi.
Hingga suatu hari, ada cahaya.
Dan cahaya itu adalah Jeon Jungkook.
Bukan karena Jungkook menolongnya, tapi karena keberadaannya membuat Taehyung ingin keluar.
Ingin bergerak.
Ingin melawan.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia merasa hidup.
Namun udara di sekelilingnya terasa menipis ketika ia melangkah masuk ke dalam perpustakaan.
Langkahnya terhenti seketika.
Dari balik ambang pintu, ia melihat punggung yang amat ia kenal.
Jungkook.
Tertidur dengan tangan yang menjadi bantalan di atas meja kayu tua. Wajahnya tampak tenang, namun jika diamati lebih dalam, ada garis resah yang tak bisa disembunyikan.
Seolah bahkan dalam mimpi, dunia belum juga memberi anak itu ruang untuk benar-benar beristirahat.
Tanpa ragu, Taehyung melangkah.
Angin sore berembus pelan dari jendela yang terbuka, seperti mendorongnya perlahan untuk terus maju.
Untuk mendekati sosok yang telah menyalakan api dalam dirinya. Sosok yang telah menerima terlalu banyak luka, terlalu banyak siksa, dan yang memicu amarah terdalam Taehyung tadi pagi.
Ia menarik salah satu kursi dengan sangat pelan, seolah takut menodai kedamaian sesaat yang Jungkook dapatkan.
Suaranya hampir tak terdengar.
Seakan waktu tahu bahwa ini adalah momen yang tak boleh diganggu.
Taehyung menatap wajah itu.
Wajah yang sering ia puja dalam diam.
Wajah yang bahkan dalam kondisi tertidur, masih menyimpan kekuatan untuk membuat hatinya bergemuruh.
KAMU SEDANG MEMBACA
pulchritude • tk (✓)
Teen FictionJungkook adalah keindahan yang tak tersentuh, sementara Taehyung adalah bayang-bayang yang selalu terpikat. Di antara keduanya, ada jarak yang samar, antara kagum dan rasa yang enggan diakui. © remake from japanese bl drama series; my beautiful man...
