"Kau masih di sini, Jungkook? Sudah satu jam berlalu sejak latihan selesai, kau tidak pulang?"
Suara Seojoon memecah sunyi yang sejak tadi menggantung di ruang latihan.
Jungkook menoleh perlahan, seolah baru diseret kembali dari masa lalu yang jauh. Keringat di pelipisnya sudah lama mengering, namun hatinya terasa masih bekerja keras, seperti baru saja menuntaskan adegan paling berat dalam hidupnya.
Dia duduk, punggungnya menempel pada dinding yang dingin, mencoba menenangkan napas yang tak lagi beraturan. Lama ia diam sebelum menjawab lirih, "Aku hanya... ingin di sini sedikit lebih lama."
Seojoon tersenyum kecil. Ia paham betul, Jungkook bukan tipe yang mudah menutup panggung bahkan setelah semua tepuk tangan reda. "Kalau begitu aku duluan, sampai jumpa, Jungkook."
Begitu langkah Seojoon menghilang di balik pintu, keheningan kembali merebak. Ruangan itu kini terasa lebih luas, tapi juga lebih hampa. Jungkook bangkit perlahan, mengemasi barang-barangnya dengan gerakan tanpa suara, lalu melangkah keluar-tanpa arah pasti, hanya mengikuti perasaan yang menggiringnya pergi.
Malam sudah turun ketika langkahnya berhenti di tepi sungai. Airnya memantulkan cahaya kota yang jauh di seberang-berkilau namun dingin, seperti kenangan yang tak mau padam. Ia duduk di bangku kayu, meletakkan tas di sebelahnya, lalu mengeluarkan naskah drama yang sudah lusuh di tepiannya.
Dua kata sederhana menatapnya dari lembaran itu. Kata yang selalu macet di lidahnya setiap kali latihan. Kata yang bahkan aktor sekaliber dirinya pun gagal mengucapkan dengan tulus.
Aku mencintaimu.
Jungkook menatapnya lama, bibirnya mengatup rapat, seolah takut udara malam akan menertawakan kebisuannya. "Kenapa... sulit sekali," gumamnya. Lalu dengan geram ia menepuk naskah itu, suaranya menggema pelan di antara angin dan air. "Aishhh!"
Ia menunduk, menutup wajah dengan kedua tangannya, menarik napas kasar, lalu membiarkannya keluar bersama frustrasi yang menyesakkan. Sesaat, dunia menjadi sunyi. Hanya suara air yang mengalir pelan, mengisi kekosongan di dada Jungkook yang tak bisa dijelaskan dengan logika.
Ketika ia membuka mata lagi, sebuah botol plastik hanyut pelan di permukaan sungai. Benda sepele itu menari bersama arus, ringan, seolah tak punya beban-berlawanan dengan pikirannya yang terasa sesak. Dan seperti kutukan yang tak pernah selesai, bayangan itu muncul lagi.
Taehyung.
Nama itu menggema samar dalam kepalanya. Muncul di sela-sela kesunyian, seolah sungai pun tahu betapa Jungkook berusaha keras menghapusnya dari ingatan. Namun semakin ia mencoba menepis, semakin jelas wajah itu terpahat di benaknya-mata teduhnya, senyum tipisnya, cara ia menatap Jungkook di antara keramaian seolah dunia hanya berisi dua orang.
"Kim Taehyung sialan," desis Jungkook lirih.
Nada suaranya setengah kesal, setengah... lelah. Ia menatap ke arah air yang terus mengalir, lalu tersenyum getir. Sial, pikirnya. Ia bahkan masih bisa merasakan keberadaan Taehyung dalam setiap hembusan angin malam. Padahal seharusnya, semuanya sudah berakhir sejak lama. Seharusnya, Taehyung tidak lagi menjadi nama yang membuat dadanya terasa sesak hanya karena diingat.
Tapi, ada satu kenangan yang selalu muncul tanpa diundang-sebuah potongan masa lalu yang tak pernah benar-benar pudar, bahkan setelah bertahun-tahun berlalu.
Hari pertama tahun ajaran baru di sekolah menengah. Pagi itu, Jungkook berangkat dengan membawa keyakinan yang dibuat-buat, seperti perisai rapuh yang ia pasang untuk melindungi dirinya dari kenyataan yang dingin. Tak ada pelukan hangat dari ibunya, tak ada tepukan di bahu dari sang ayah. Keduanya terlalu sibuk dengan dunia mereka sendiri, dengan pesta dan percakapan yang tidak melibatkan seorang anak laki-laki yang hanya ingin ditemani di hari pertama sekolah.
KAMU SEDANG MEMBACA
pulchritude • tk (✓)
Ficção AdolescenteJungkook adalah keindahan yang tak tersentuh, sementara Taehyung adalah bayang-bayang yang selalu terpikat. Di antara keduanya, ada jarak yang samar, antara kagum dan rasa yang enggan diakui. © remake from japanese bl drama series; my beautiful man...
