11. mereka palsu

1K 101 10
                                        

Sejak malam penuh luka itu-malam ketika pengakuan cintanya ditolak dengan kata-kata yang mengoyak harga diri-rumah Taehyung kembali menjadi tempat yang sunyi. Tak ada lagi jejak langkah Jeon Jungkook di akhir pekan. Tak ada lagi suara tawa khas si bajingan Mingyu dan para pengikut setianya yang dulu menghidupkan halaman rumah dengan keonaran yang entah mengapa terasa menyenangkan.

Kini, rumah itu hanyalah bangunan luas yang diisi oleh senyap. Dinding-dindingnya seakan lebih dingin, jendelanya menatap kosong, dan udara pun terasa lebih berat tanpa kehadiran Jungkook.

Taehyung tahu-ia benar-benar tahu-bahwa malam itu, dia melangkah terlalu jauh. Jungkook pasti terkejut. Terluka. Sudah cukup buruk bahwa pemuda itu harus menerima kekalahan dalam kontes yang selama ini menjadi impiannya. Tapi Taehyung, alih-alih memberi ruang, malah menyodorkan perasaannya-tanpa aba-aba, tanpa jeda. Sebuah kalimat penuh beban yang tak seharusnya dikatakan di tengah reruntuhan harga diri seseorang:

"Aku menyukaimu." Kalimat itu tak seharusnya muncul malam itu.nTapi nasi telah menjadi bubur, dan Jungkook tak lagi datang.

Taehyung rindu. Rindu dengan kerinduan yang tak bisa diredakan hanya dengan tidur panjang atau angin malam. Setiap hari, tanpa jeda, pikirannya berkelana ke satu arah-Jeon Jungkook. Namanya mengendap di dada seperti kabut yang tak kunjung reda.

Dan rindu itu, selama musim panas yang panjang dan menyiksa, ia kumpulkan perlahan-seperti koin yang dilemparkan ke celengan tua. Hari ini, di musim gugur yang baru saja menyapa, Kim Taehyung memutuskan untuk memecahkan celengan rindunya itu.

Sekolah kembali dimulai. Daun-daun mulai gugur, tapi pelajaran kembali tumbuh, menyambut para murid dengan buku-buku tebal dan mimpi-mimpi masuk universitas. Taehyung kembali menjadi pelajar SMA biasa, berperang melawan waktu dan angka-angka, meski pikirannya masih terpaku pada seseorang yang belum memberi maaf.

Baru saja kaki kanannya melewati gerbang sekolah, dunia yang ia coba hindari kembali membuka luka.

"Apakah ini sungguhan?"

"Ini benar-benar Jungkook?"

"Dia gagal?"

"Kalian lihat ini, 'kan?"

"Ya... dia tidak memenangkan apa pun di kontes ini."

Kalimat-kalimat itu beterbangan di udara, tajam seperti pecahan kaca, dan Taehyung hanya bisa menahan napas.

Ia mencoba menulikan telinga, mematikan hati-berjalan menuju bangkunya dengan kepala tertunduk. Seolah tak terjadi apa-apa. Seolah dirinya tak merasa apa-apa.

Namun suara Bambam, dengan nada sok tahu dan kesenangan tersembunyi, membuatnya memejamkan mata.

Menahan amarah.
Menahan luka.
Menahan rindu yang tak bisa ia teriakkan di tengah keramaian.

"Kalian harus dengar berita yang satu ini juga. Jungkook mengatakan, saat sekolah dasar dulu, dia ingin menjadi idola pop." Bambam menyeringai, mengangkat ponselnya tinggi-tinggi seolah sedang memamerkan sebuah trofi. Di layar, terpampang foto secarik kertas usang-tulisan tangan anak kecil yang jujur dan polos, impian masa kecil Jungkook yang entah bagaimana bisa berakhir di website kontes popularitas itu.

"Ya Tuhan, tak ku sangka dia seorang yang narsis, bahkan sejak dini," celetuk salah satu dari mereka, menertawakan seolah mimpi adalah bahan lelucon.

"Menulis cita-cita di esai sekolah dasar Jungkook kecil yang menyedihkan mimpinya tak pernah jadi nyata." Suara mereka menggema seperti pisau-pisau kecil yang menusuk dalam diam.

Taehyung diam. Ia menunduk, membuka ponsel miliknya dengan hati-hati, seolah bersiap menampung luka baru. Mading online sekolah berubah jadi pasar kerumunan-ramai, kejam, dan tak berperasaan.

pulchritude • tk (✓)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang