"Lepaskan aku!" seru Jungkook, suaranya nyaris pecah oleh desakan emosi yang menumpuk.
"Tidak! Aku mencintaimu, Jungkook!" jawab Taehyung, suaranya bergetar, tapi tegas, seolah seluruh dunia hanya tersisa mereka berdua.
Setiap usaha Jungkook untuk memberontak dari pelukan Taehyung terasa sia-sia. Ia menjerit dengan sekuat tenaga, lehernya menegang, urat-urat tampak menonjol dari upayanya untuk bebas. Hatinya berkecamuk—marah, sedih, bingung, dan sesal sekaligus. Jungkook tahu seharusnya dia tidak berada di sini. Seharusnya, setelah makan malam ia pulang, menutup hari itu, dan memulai hari baru esok tanpa Taehyung. Bukan mengikuti panggilan hati pemuda itu, terjebak kembali di ruang kelas yang menyimpan ribuan kenangan masa lalu mereka.
"Kubilang lepaskan!" Jungkook menekankan kata-katanya dengan napas tersengal, mencoba menahan amarah dan kesedihan yang bersamaan menyiksa hatinya. "Asal kau tahu, Kim Taehyung. Aku benar-benar berniat untuk mengakhiri 'kita' hari ini! Tapi masalahnya adalah kau—BERHENTILAH MENGIRIM PESAN DAN MENELEPONKU!" Suaranya meninggi, mencampur antara frustrasi dan luka yang tertahan.
Taehyung tetap memeluknya erat, tak bergeming. Jungkook berkeringat, tubuhnya memberontak, namun tetap tak mampu menyingkir. Ia merasakan kombinasi kemarahan, kesedihan, dan kerinduan yang begitu kompleks. Setiap gerakan memberontak seakan tak cukup untuk melepaskan ikatan yang tidak hanya fisik, tetapi juga emosional.
"Maaf, maaf," bisik Taehyung, lembut, suaranya nyaris seperti nyanyian yang hanya didengar Jungkook. "Tapi aku mencintaimu, Jungkook."
Kata-kata itu diucapkan begitu dekat dengan telinga Jungkook, hangat dan menyesakkan sekaligus. Secara perlahan, Taehyung mengendurkan dekapan, menyadari bahwa Jungkook mulai berhenti memberontak.
"Aku ingin melupakanmu," ujar Jungkook, napasnya tersengal-sengal, dada naik-turun cepat. Udara malam yang masuk melalui jendela kelas menyapu wajahnya, menyeka tetesan air mata yang mulai mengalir tanpa disadarinya. "Tapi aku tidak bisa, ketika kau justru mendorong dirimu sendiri mendekat padaku, ke dalam hidupku!" Kata-kata itu keluar dengan campuran kemarahan, keputusasaan, dan perasaan yang tak bisa ia kendalikan.
Mendengar pengakuan itu, Taehyung hanya diam sejenak, membiarkan Jungkook merasakan kebenaran emosinya sendiri. Saat itu, Jungkook akhirnya menemukan kesempatan—perlahan ia melepaskan diri dari pelukan Taehyung. Tubuhnya mundur, punggungnya menempel pada dinding, dan tangannya mengepal, menahan segala rasa yang ingin terlepas begitu saja. Matanya terpejam, mencoba menenangkan diri, mencoba menahan badai perasaan yang begitu liar.
"Dan aku bukan raja!!! Itu bukan aku."
Suara Jungkook pecah, namun tegas, dipenuhi kejujuran yang menyakitkan. Ia menunduk begitu dalam, menatap ujung sepatu yang ia kenakan seolah itu bisa memberinya keberanian. "Aku hanya seorang pemuda biasa—yang ingin bersama dengan orang yang kucintai. Aku ingin menyentuhnya, mencintainya sebagaimana orang lain melakukannya. Jadi, berhentilah menganggap aku raja, Taehyung. Aku hanyalah pemuda biasa."
Kata-kata itu seperti jarum yang menusuk hati Taehyung. Matanya bergetar, pupilnya nyaris berair saat menatap punggung Jungkook yang menunduk, dada naik-turun mengatur napas yang tersengal-sengal. Dalam kebodohannya, Taehyung melontarkan pertanyaan yang begitu bodoh, namun muncul dari ketakutannya sendiri: "Apakah kau memiliki seseorang yang kau cintai, Jungkook?"
Kim Taehyung—bajingan yang tak pernah paham perasaan orang lain!
Jungkook berbalik dengan marah, matanya yang sebelumnya layu kini menatap tajam, penuh amarah dan kekecewaan yang menumpuk bertahun-tahun. "ITU KAU!!! Berapa kali kau ingin membuatku mengatakannya, bodoh?!" Suaranya bergemuruh, membakar udara malam yang sunyi di sekitar mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
pulchritude • tk (✓)
Novela JuvenilJungkook adalah keindahan yang tak tersentuh, sementara Taehyung adalah bayang-bayang yang selalu terpikat. Di antara keduanya, ada jarak yang samar, antara kagum dan rasa yang enggan diakui. © remake from japanese bl drama series; my beautiful man...
