13. hari kelulusan

1.1K 111 8
                                        

Sejak hari itu, Jungkook mulai datang ke rumahnya—sesekali, tak rutin, namun cukup untuk menyisakan jejak di udara dan kenangan di lantai-lantai rumah megah peninggalan mendiang kakek Taehyung.

Tak banyak kata terucap tiap kali mereka bersama. Kebersamaan mereka tak ditandai percakapan panjang, melainkan oleh diam-diam yang tak canggung. Di antara dinding yang sunyi dan cahaya sore yang masuk dari jendela tinggi, mereka hanya duduk berdampingan, mengerjakan tugas sekolah jika ada, atau sekadar bersantai, membiarkan waktu mengalir seperti aliran air di sungai yang tak pernah menuntut apapun dari bebatuan.

Dalam satu pekan, dua hingga tiga kali, Jungkook akan ikut bersamanya pulang dari sekolah. Mereka berboncengan naik sepeda tua milik Taehyung, menyusuri jalan kecil yang teduh. Jungkook tak keberatan menunggu, bahkan saat Taehyung harus berlama-lama mengobrol dengan pustakawan sekolah. Ia tetap berdiri di bawah pohon atau duduk di bangku panjang, seolah waktu adalah milik mereka dan tak satu pun dari keduanya tergesa mengejar apapun.

Tak ada definisi yang cukup adil untuk menggambarkan hubungan mereka. Kata 'teman' terlalu dangkal, namun 'cinta' terasa sepihak. Taehyung tahu itu. Ia sadar sepenuhnya bahwa hanya ia yang mencinta, sementara Jungkook hadir semaunya, datang dan pergi sesuka hati, seolah hatinya adalah rumah yang boleh disinggahi tapi tak pernah benar-benar dimiliki.

Taehyung tak pernah berharap. Ia tak pernah menggantungkan impian akan sebuah balasan. Tidak dari Jungkook. Tidak dari siapa pun. Ia percaya dengan keputusasaan yang lembut, dan mencintai tanpa menuntut adalah ibadahnya yang sunyi.

Segala rasa itu berjalan satu arah—tanpa balasan, tanpa harapan akan perubahan di masa depan. Namun bagi Taehyung, itu cukup. Ia telah menetapkan dirinya untuk tunduk, untuk setia, untuk mencintai tanpa suara. Jungkook adalah rajanya, dan ia hanyalah seorang pelayan yang memilih untuk setia. Mungkin cinta mereka bisa digambarkan seperti doa seorang biarawan kepada Tuhannya—tenang, suci, dan tak pernah meminta kembali.

"Kau terlalu sering melamun selama ini. Apa yang sebenarnya kau pikirkan?" tanya Jungkook suatu sore, suaranya santai tapi tepat sasaran.

Banyak. Terlalu banyak yang bersarang di kepala Taehyung. Kadang terasa seperti ribuan burung yang terbang tanpa arah, membuat langit di dalam dirinya sesak dan gaduh. Tapi Jungkook tak perlu tahu itu.

"Aku berpikir kalau suatu hari aku akan jadi biarawan," jawabnya, sambil tersenyum tipis, menatap Jungkook dengan pandangan yang tak bisa dibaca siapa pun kecuali dirinya sendiri.

Jungkook tertawa, lalu menggeleng. "Dasar aneh. Menjijikan."

Ia menyebutnya menjijikan, namun matanya penuh tawa. Tangannya kemudian mengatur posisi duduknya agar Taehyung bisa memotret dirinya dengan lebih leluasa.

Dan ya, siapa sangka?
Siapa yang bisa menduga bahwa hari akan tiba ketika Taehyung dapat memotret Jungkook dengan bebas?
Bahwa Jungkook akan membiarkan dirinya terabadikan dalam lensa, bahkan tersenyum untuknya, menjadikan kamera sebagai saksi yang paling jujur dari kedekatan mereka.

Mereka tak pernah menyangka.
Tak pernah merencanakan.
Namun hari-hari itu datang juga, pelan-pelan dan diam-diam. Dan tanpa sadar, keduanya mulai menua dalam kenangan yang diciptakan tanpa kata-kata.

•••

Waktu melaju seperti roda kereta tempur—keras, berat, dan tak mengenal belas kasihan. Ia tidak menoleh ke belakang, tidak memberi kesempatan untuk bernapas lama-lama. Musim gugur telah gugur seluruhnya, menyisakan ranting-ranting yang menggigil, dan musim dingin sudah menggeliat mendekat.

pulchritude • tk (✓)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang