'Aku menyukaimu.'
Kata-kata itu sederhana, seakan ringan dan mudah diucapkan. Namun bagi Taehyung, kata-kata itu terasa tersangkut di tenggorokannya, tertahan antara keberanian dan keraguan. Sulit—amat sulit—untuk keluar dengan lantang, meski rasanya ingin sekali menjeritkan seluruh isi hati.
"Jungkook."
Menyebut namanya saja sudah cukup untuk membuat jantung Taehyung berdegup liar. Setiap detak terasa sakral, hampir seperti ritual yang menggetarkan seluruh tubuhnya. Ia tak keberatan mati dalam detik ini, hanyut oleh manisnya emosi yang mengalir perlahan. Menjadi saksi dari drama yang dimainkan semesta—dengan Jungkook sebagai pusatnya—adalah hadiah sekaligus hukuman yang indah.
Seperti teh zaitun yang memiliki rasa manis dan asam sekaligus, keberadaan Jungkook menimbulkan sensasi yang memabukkan. Satu sentuhan saja, pikir Taehyung, dan mungkin segalanya akan runtuh, hancur dalam kebahagiaan yang terlalu sempurna untuk ditahan. Namun manusia memang makhluk serakah. Taehyung merasa bersalah, namun entah pada siapa ia harus meminta maaf—Tuhan mungkin? Karena berani menyentuh seorang dewa bernama Jungkook, seolah memiliki hak atasnya. Tapi, ia tak peduli jika tak dimaafkan. Sebab dalam keberanian itu, ia mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga: Jungkook, sepenuhnya untuk dirinya sendiri.
Perasaan ini membingungkan. Kontradiktif. Membakar sekaligus menenangkan. Ia tak tahu nama dari gejolak ini, namun ia yakin satu hal: ini adalah keajaiban.
"Ini adalah sebuah keajaiban," gumamnya pelan, suara hampir tersedak oleh kagum yang mendalam.
Matahari telah cukup tinggi, menyinari ruangan dengan cahaya hangat, tapi Taehyung tetap enggan bergerak. Ia hanya duduk di tepi tempat tidur, menatap Jungkook yang masih terlelap, tubuhnya hangat dan damai, wajahnya tenang meski semalam telah mereka lewati begitu banyak emosi.
Segalanya terasa tak masuk akal. Dalam setengah jam terakhir, ia mendengar Jungkook bercerita, menumpahkan kata-kata dan perasaannya yang tersembunyi selama ini. Ia terkejut ketika Jungkook berkata bahwa ia telah melihat Taehyung lebih dahulu saat sekolah menengah dulu—bahwa semua yang mereka pikir adalah kebetulan hanyalah kesadaran yang tertunda. Taehyung selalu berpikir pertemuan mereka di ruang kelas itu adalah yang pertama kali, tapi kenyataannya, mata Jungkook telah lama memperhatikannya, diam-diam, dalam hening dan kesendirian.
Pagi itu, Taehyung teringat bagaimana ia sibuk memotret bebek karet, dan tanpa sengaja menarik perhatian Jungkook yang berjalan sendiri, terbungkus kesedihan yang dalam. Anak laki-laki itu—Jungkook—tidak tahu cara menanggapi perasaan yang tumbuh diam-diam dalam hatinya. Bahagianya telah lama hilang, tergerus oleh waktu dan luka yang tak tersampaikan. Bahkan pikirannya kerap melayang ke masa lalu, ke kenangan yang pahit: "Seharusnya Mama tidak menikah lagi saat itu..."
Dan kini, di sini, di pagi yang hangat ini, Taehyung menyadari sesuatu yang luar biasa: cinta itu tidak selalu datang dengan cara yang rapi. Kadang ia datang diam-diam, menempel di sisi kehidupan seseorang, menunggu untuk disadari. Dan akhirnya, di hadapan Jungkook yang masih tidur itu, Taehyung tahu—hanya keberadaannya saja yang ingin ia miliki selamanya.
Setengah jam, satu pagi, satu pandangan—cukup untuk membuat dunia Taehyung berputar dan berhenti pada satu titik: Jungkook. Dan di titik itu, ia bersumpah pada diri sendiri, pada semesta, bahwa apa pun yang terjadi, Jungkook akan tetap menjadi pusat dunianya, selamanya.
"Kau kembali bersikap... menjijikkan."
Kata-kata itu terucap dengan nada setengah mengomel, setengah tersipu, namun cukup membuat udara pagi di kamar itu bergetar.
"Whoa!!!" Taehyung spontan mundur, tergelincir dari ranjang, dan terjatuh ke lantai dengan posisi konyol. Mata Taehyung membesar, panik bercampur lucu. "T-tunggu. Apa Jungkook sudah bangun?"
Pertanyaan itu—benar-benar pertanyaan paling bodoh yang pernah Jungkook dengar sepanjang hidupnya. Apakah pemuda itu tidak melihat, huh? Matanya sendiri terbuka, cahaya pagi masuk menembus tirai tipis, dan Jungkook dengan santai tengah memakai pakaiannya satu per satu.
KAMU SEDANG MEMBACA
pulchritude • tk (✓)
TeenfikceJungkook adalah keindahan yang tak tersentuh, sementara Taehyung adalah bayang-bayang yang selalu terpikat. Di antara keduanya, ada jarak yang samar, antara kagum dan rasa yang enggan diakui. © remake from japanese bl drama series; my beautiful man...
