Studio foto Min Yoongi perlahan-lahan kembali sunyi setelah hiruk-pikuk pemotretan yang baru saja selesai. Cahaya lampu studio masih menerangi ruangan, menciptakan bayangan lembut di lantai kayu yang mengilap. Taehyung menghela napas pelan, tangannya dengan telaten merapikan kabel-kabel peralatan fotografi, membereskan tripod, serta memastikan setiap lensa kembali ke tempatnya dengan hati-hati.
Di sudut ruangan, Jungkook berdiri dengan gelisah. Ia sudah beberapa kali melirik ke arah Taehyung, memperhatikan bagaimana kekasihnya bekerja dengan tenang meski ada sesuatu yang mengganjal di matanya—sebuah keraguan, atau mungkin kesedihan samar yang tersimpan rapi. Jungkook memainkan ujung jaketnya, meremas kain itu dengan canggung, sebelum akhirnya mengumpulkan keberanian untuk melangkah lebih dekat.
"Adakah yang bisa kubantu?" tanyanya ragu, suaranya hampir tak terdengar.
Taehyung yang tengah menata sebuah kamera refleks mendongak. Matanya bertemu dengan mata Jungkook hanya sesaat sebelum ia buru-buru kembali fokus pada pekerjaannya. "Tidak apa-apa, aku bisa mengatasinya," jawabnya, nada suaranya ringan, tetapi ada sesuatu yang membuat dadanya sesak.
Jungkook mengangguk kecil, meski ia tidak langsung pergi. Ia menggigit bibir bawahnya, pandangannya berkeliling seolah mencari sesuatu yang bisa ia lakukan—atau mungkin sekadar mengulur waktu. Ingin berbicara, tetapi tidak tahu harus memulai dari mana.
Hening.
Sampai akhirnya Taehyung memecah kesunyian.
"Orang dapat bertahan hanya dengan janji seseorang," gumamnya pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri. Namun, kata-kata itu menggantung di udara, membuat Jungkook menoleh dengan sorot mata bertanya.
Jungkook mengerti. Ia juga menyaksikan bagaimana Jong-suk dan Jieun saling berjanji, saling meneguhkan meskipun dunia seolah tidak mengizinkan mereka bersama. Ia mengangguk kaku. "Sungguh menakjubkan," balasnya, suaranya terdengar lebih dalam dari biasanya.
"Karena mereka menderita dan saling merindu," lanjut Taehyung, suara itu mengalir tenang, namun membawa luka yang samar.
Jungkook menelan ludah, lalu menyambung dengan nada pelan, "Dan tidak bisa hidup tanpa satu sama lain."
Kata-kata itu menggantung di antara mereka. Taehyung mengangkat kepala, menatap Jungkook dengan sorot mata yang sulit dijelaskan—ada sesuatu yang ingin ia sampaikan, sesuatu yang tertahan di dalam dirinya selama ini.
"Jungkook," panggilnya lirih.
Jungkook merasa tenggorokannya mengering. "Ya?" sahutnya, berusaha tetap tenang, meski kenyataannya, tatapan Taehyung membuatnya gugup.
Taehyung menatapnya dalam, seolah mencari keberanian untuk mengucapkan sesuatu yang penting. "Ada yang ingin kukatakan padamu."
Jungkook terdiam. Hatinya berdebar kencang. Ia tahu, ia bisa merasakannya—bahwa apa pun yang akan keluar dari bibir Taehyung, itu bukan hal yang sepele.
Tetapi, ia tidak yakin apakah ia siap mendengarnya.
Maka, dengan napas yang tertahan, ia mengambil keputusan untuk mundur sejenak. Ia menelan ludah susah payah, sebelum akhirnya berkata, "Aku akan menunggumu di tempat biasa."
Ia tidak menunggu jawaban Taehyung. Dengan cepat, ia berbalik, melangkah keluar dari studio sebelum keberaniannya runtuh.
Di belakangnya, Taehyung masih berdiri di tempatnya, menatap punggung Jungkook yang semakin menjauh. Sesuatu dalam dirinya terasa semakin berat, tetapi di saat yang sama, ia tahu—mereka akan segera berbicara, benar-benar berbicara.
Di tempat biasa.
•••
Sungai mengalir tenang, menciptakan suara gemericik yang berpadu dengan kicauan burung di antara ranting-ranting pohon rindang. Angin sore bertiup lembut, membawa aroma dedaunan basah dan tanah yang lembap. Langit membentang luas, biru bersih tanpa awan yang menghalangi sinarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
pulchritude • tk (✓)
Teen FictionJungkook adalah keindahan yang tak tersentuh, sementara Taehyung adalah bayang-bayang yang selalu terpikat. Di antara keduanya, ada jarak yang samar, antara kagum dan rasa yang enggan diakui. © remake from japanese bl drama series; my beautiful man...
