Setelah hari kelulusan itu, Jungkook tak pernah lagi mendengar kabar darinya. Tak ada pesan. Tak ada panggilan. Tak ada lagi suara berat yang menyapanya dengan nada malas tapi hangat di ujung telepon. Taehyung menghilang seolah segala kedekatan mereka hanya sebatas ruang sekolah—seolah setiap tatapan yang dulu terasa begitu dalam hanyalah ilusi singkat yang akhirnya pudar bersama waktu.
Jungkook tidak menyangka, bahwa seseorang seperti Taehyung—yang dulu menatapnya seakan dirinya adalah satu-satunya dunia yang patut dilihat—bisa berhenti mengikutinya begitu saja. Tidak setelah semua yang mereka lalui. Tidak setelah semua hal kecil yang diam-diam tertinggal di kepala Jungkook; cara Taehyung tertawa tanpa alasan, cara dia menatap dengan mata yang seolah tahu terlalu banyak, cara dia membuat dunia di sekitar Jungkook terasa lebih hidup, meski hanya dengan diam.
Kini jarak itu terasa memanjang tanpa batas. Bukan hanya karena waktu, tapi karena gengsi yang menjelma jadi tembok di dada Jungkook. Tembok yang tinggi, dingin, dan keras kepala. Ia tidak datang berkunjung. Tidak bertanya. Tidak mencarinya. Ia hanya menunggu—padahal tak ada yang dijanjikan untuk kembali.
Dan seperti karma kecil, Jungkook kini harus menanggung akibat dari kesombongan yang tak perlu itu. Jika ingin tahu kabar Taehyung, ia bahkan harus meminta nomor barunya dari seseorang—seseorang yang sama sekali tak pernah dia sangka mengenal pemuda itu. Sejak kapan Taehyung yang tertutup dan aneh itu pandai bergaul? Sungguh, Jungkook baru sadar betapa banyak hal yang sudah luput ia ketahui tentangnya.
Awalnya terjadi begitu kebetulan. Hari itu, setelah latihan berakhir, Jungkook masih duduk di kursinya, sibuk membereskan barang-barang ketika telinganya menangkap percakapan ringan di sudut ruangan. Kak Seojoon sedang berbincang dengan beberapa rekan teaternya.
"Aku pikir itu bagus karena adikmu sudah menemukan seorang kekasih."
"Kau benar. Aku juga tak menyangka. Adikku sudah besar."
"Seperti apa pacarnya?"
"Teman sekelas kuliah, sepertinya."
Awalnya Jungkook tidak memperhatikan. Ia terlalu lelah untuk peduli pada urusan pribadi orang lain. Tapi kemudian—satu nama keluar dari mulut Seojoon dan seolah menarik napasnya paksa keluar dari dada.
"Kurasa kalau tidak salah namanya Taehyung."
Jungkook sontak menoleh. Matanya melebar, suara kecil di kepalanya berdesir—Taehyung? Bukan... tidak mungkin, kan?
"Eh? Ada apa, Jungkook?" tanya Seojoon, menyadari perubahan wajahnya.
Jungkook buru-buru menunduk, berusaha menenangkan degup yang tiba-tiba tak karuan. "Tidak apa-apa," katanya datar, meski pikirannya sudah jauh melayang, mencoba menebak-nebak apakah nama itu kebetulan atau takdir yang menyelipkan diri.
Seojoon menatapnya sejenak, lalu tersenyum samar.
"Kau tahu, adikku bilang pacarnya ini orang yang baik. Menurutmu bagaimana, Jungkook?"
Jungkook tidak menjawab. Sebaliknya, ia menatap Seojoon dengan gelisah yang tersamar di balik wajahnya yang tenang. Akhirnya, dengan nada hati-hati, ia bertanya, "Apakah kau punya fotonya?"
"Hm? Ada. Tunggu sebentar, aku cari."
Jungkook segera berdiri, mendekat tanpa memedulikan rasa malu yang menggigit ujung tenggorokannya. Beberapa rekan lain ikut merapat, penasaran.
Seojoon menunjukkan ponselnya. "Nah, ini dia. Yang ini adikku, dan di sebelahnya pacarnya."
Dan di sanalah Jungkook melihatnya. Kim Taehyung.
Dengan senyum tulus yang bahkan belum pernah ia lihat sedalam itu sebelumnya. Matanya, yang dulu penuh rahasia dan sunyi, kini tampak hangat, seolah telah menemukan tempat untuk pulang. Dan pria di sampingnya—bermata sipit, tampak lembut, penuh ketenangan—berdiri terlalu dekat dengan cara yang membuat dada Jungkook menegang.
KAMU SEDANG MEMBACA
pulchritude • tk (✓)
Novela JuvenilJungkook adalah keindahan yang tak tersentuh, sementara Taehyung adalah bayang-bayang yang selalu terpikat. Di antara keduanya, ada jarak yang samar, antara kagum dan rasa yang enggan diakui. © remake from japanese bl drama series; my beautiful man...
