"Tapi takdir menarikku kembali ke dunia nyata."
"Agar aku bisa melanjutkan tugasku dalam mengabdi pada 'raja'."
Kesadaran itu datang perlahan, seperti embusan angin pagi yang lembut, menyentuh kulitnya, memanggilnya untuk membuka mata. Cahaya putih menyilaukan menembus kelopak matanya yang berat, dan aroma antiseptik memenuhi hidungnya. Tubuhnya terasa ringan namun asing, seolah ia melayang di antara dua dunia.
Ketika akhirnya kelopak matanya terangkat, pandangan yang buram perlahan menajam, memperlihatkan sosok yang sangat dikenalnya.
"Ibu..." gumamnya, nyaris tak terdengar.
Ibunya langsung mendekat, air mata menumpuk di sudut matanya, mengalir pelan saat ia membungkuk dan mengelus kepala Taehyung dengan penuh kasih sayang.
"Taehyung!" serunya dengan suara bergetar, dipenuhi kelegaan.
Ayah Taehyung berdiri tak jauh di belakangnya, senyum hangat menghiasi wajah tegas yang biasanya jarang menunjukkan emosi sedalam ini. Tak lama, Yoona bersama anak kecil yang menggenggam erat ujung roknya ikut mendekat, tatapan mereka penuh kekhawatiran sekaligus syukur.
Taehyung menatap mereka satu per satu, hatinya menghangat, namun di sela-sela rasa syukur itu, ada keresahan yang langsung menyeruak dari dalam dadanya. Dengan tenaga yang lemah, ia mencoba menoleh, menelusuri seluruh ruangan dengan gelisah.
Di tangannya, sebuah selang infus menusuk kulit pucatnya, mengalirkan cairan bening untuk menopang hidupnya. Tapi itu bukan yang ia pikirkan sekarang. Ada satu nama yang membelenggu pikirannya, satu wajah yang ia cari mati-matian.
"Di mana Jungkook?" tanyanya menatap Yoona, suaranya nyaris pecah, dipenuhi kecemasan.
Ia hampir saja bangkit dari ranjang jika saja tangan kuat ayahnya tidak segera menahan pundaknya dengan lembut namun tegas.
"Jangan khawatir, calon menantu ayah itu baik-baik saja," kata ayahnya, tersenyum lebih lebar kali ini, seolah berusaha menenangkan gejolak hati putranya. "Sebaliknya, dirimu sendiri yang harus kau khawatirkan."
Taehyung terpaku. Kata-kata itu bergema dalam benaknya. Calon menantu? Ada kehangatan sekaligus keterkejutan yang meledak dalam dada lemah itu.
Ibunya ikut menambahkan, suaranya lembut dan penuh kebanggaan, "Jungkook selalu di sini, menemanimu setiap hari tanpa henti, Taehyung. Tapi hari ini dia punya kegiatan penting yang harus dihadiri. Melihat Jungkook secara langsung... sangat luar biasa. Siapa yang menyangka, putra ibu akhirnya mendapat seseorang sebaik itu."
Taehyung menelan ludah. Ada sesuatu yang menggumpal di tenggorokannya. Diam-diam, kedua orang tuanya sudah tahu—mungkin mereka selalu tahu. Tentang hubungannya dengan Jungkook yang selama ini ia simpan rapat-rapat, takut akan penolakan, takut akan kecewa. Tapi sekarang, di antara kasih sayang ini, Taehyung merasakan penerimaan yang begitu luas, seolah dunia kecilnya tak lagi perlu disembunyikan.
Yoona, yang sejak tadi diam, akhirnya membuka suara.
Dengan helaan napas berat, ia berkata, "Orang yang menyerangmu... dia masih hidup. Setelah sempat mencoba mengakhiri hidupnya sendiri, dia dirawat dengan pengawasan ketat. Polisi mengurus semuanya sekarang."
Taehyung menutup mata sejenak. Ada rasa sakit yang tersisa, bukan di tubuhnya, melainkan di hati—untuk semua luka yang telah diciptakan oleh keputusasaan orang lain. Ia tidak ingin membenci, tapi ia tidak bisa memaafkan begitu saja.
Yoona meraih tangan Taehyung yang masih lemah, menggenggamnya erat, seolah ingin mentransfer kekuatan melalui sentuhan itu.
"Tapi kau tidak perlu khawatir soal rumah," lanjut Yoona, mencoba menghadirkan senyuman kecil di wajahnya. "Kau dan Jungkook... tetaplah di sana."
KAMU SEDANG MEMBACA
pulchritude • tk (✓)
Teen FictionJungkook adalah keindahan yang tak tersentuh, sementara Taehyung adalah bayang-bayang yang selalu terpikat. Di antara keduanya, ada jarak yang samar, antara kagum dan rasa yang enggan diakui. © remake from japanese bl drama series; my beautiful man...
