"Hei, Tuan Gagap. Seperti biasa, ya? Kali ini tambahkan tiga es krim juga."
Langkah Taehyung baru saja menapaki ruang kelas, pelukannya dipenuhi buku-buku yang setia, ketika suara Mingyu kembali menabrak udara—tajam, tanpa empati. Suara itu menyeret perhatian Taehyung untuk menoleh, dan seperti babak yang diulang dari drama yang sama, ia menemukan Jungkook di sana.
Tengah dikerumuni.
Dikelilingi gelak tawa dan kekaguman.
Dan di antara kerumunan itu, ada tiga gadis bersolek manis, dengan mata yang tak lepas dari sosok sang pujaan. Salah satunya—Nayeon—menatap Jungkook seolah ia menyaksikan dewa yang turun dari awan. Penuh takjub. Penuh ingin.
Namun, tatapan itu hanya menabrak tembok dingin.
Karena Jungkook tak menoleh ke arah mereka.
Sebaliknya, matanya—datar dan nyaris tak bernyawa—mendarat pada Taehyung, seolah jarak tak pernah benar-benar memisahkan pandang mereka.
Dan bagi Taehyung, meski datar... tatapan itu tetap cantik.
Sialan.
"Bagaimana denganmu, Jungkook?"
Seseorang bertanya. Jungkook pun menarik pandangan—cepat, gugup, seperti anak kecil yang tertangkap basah. Kelopak matanya berkedip, dan sejenak tampak ia takut. Takut bahwa diam-diamnya tadi tak cukup diam. Bahwa seseorang mungkin menyadari siapa yang sedang ia pandangi.
Namun tak ada yang menyadari.
Kecuali satu.
Taehyung.
Tapi Taehyung terlalu terbiasa menyangkal.
Sebab bagi dunia, tatapan itu tak berarti.
Itu hanya sepasang mata yang melihat, karena memang begitu tugasnya.
Jungkook menatap bukan karena rasa. Bukan karena makna. Hanya karena... dia punya mata. Salah?
"Teh jagung," gumam Jungkook akhirnya, suara dingin dan cepat seperti petir di musim kemarau. Lalu, sekilas, ia kembali melirik Taehyung lewat sudut matanya—tajam dan samar.
Kali ini, bagi Taehyung, lirikan itu mengandung sesuatu yang berbeda. Ancaman, mungkin? Maka ia pun mengangguk—pelan, patuh, tanpa suara. Lalu melangkah menuju kursinya, berharap hari itu akan berlalu dengan tenang.
Namun dunia selalu punya caranya sendiri.
Suara logam bergema keras—ember berisi air terjatuh menghantam lantai, menyiram sebagian ruang kelas dengan basah yang tak diundang.
Taehyung menoleh.
Bangchan dan teman-temannya mulai berseteru, menunjuk satu sama lain seperti anak-anak yang tak ingin disalahkan.
"Ya Tuhan! Apa yang kalian lakukan!"
"Bersihkan! Sekarang!"
Seseorang memekik.
Dan Taehyung, seperti biasa, hanya menatap sesaat. Tak ingin terlibat, tak ingin terlihat. Ia lalu membuka ranselnya—gerakannya lambat, nyaris seperti membisu bersama napasnya sendiri.
Tapi dunia tak pernah benar-benar membiarkannya sendiri.
"Hey! Kau keberatan membersihkan ini untuk kami?"
Bangchan mendekat. Tangannya menepuk pundak Taehyung dengan kasar, seperti menepuk barang yang tak bernyawa.
"Ayolah, Tuan Gagap. Lihat bajuku, basah semua! Kasihanilah aku."
Nada manja yang menyebalkan, membungkus ejekan yang tak pernah usang.
Taehyung tak sempat berkata. Tubuhnya sudah ditarik ke ujung kelas. Didorong ke arah lantai yang tergenang. Lalu dilemparkan kain lap, seperti lemparan boneka pada peliharaan yang dipaksa menurut.
"Aku tahu kau akan melakukannya, kan, Tuan Gagap?"
Dan saat semua suara masih memenuhi udara...
Satu suara menghantam meja.
Keras. Tajam. Tegas.
Mereka semua menoleh.
Di sana—Jungkook.
Berdiri dengan napas teratur tapi wajah yang tak bisa menyembunyikan amarah.
Sorot matanya tak main-main. Ketegangan di rahangnya bicara lebih dari yang bisa diucap oleh lidah.
KAMU SEDANG MEMBACA
pulchritude • tk (✓)
Novela JuvenilJungkook adalah keindahan yang tak tersentuh, sementara Taehyung adalah bayang-bayang yang selalu terpikat. Di antara keduanya, ada jarak yang samar, antara kagum dan rasa yang enggan diakui. © remake from japanese bl drama series; my beautiful man...
