16. rumor rahasia

1K 86 3
                                        

Akhir pekan itu datang dengan lembut, seperti lembaran baru yang belum ternoda oleh tinta kenangan. Sabtu yang dijanjikan Jimin akhirnya tiba, dan sejak pagi, rumah Taehyung sudah dipenuhi oleh suara langkah, tawa, dan riuh kecil dari dua sahabat yang mencoba menambal waktu mereka yang sempat terganggu oleh seseorang dari masa lalu.

Jimin benar-benar menepati ucapannya. Ia membawa Taehyung berkeliling kota—dari kafe yang baru buka di sudut jalan, ke toko buku kecil di mana aroma kertas bercampur kopi, lalu ke taman di mana daun-daun berjatuhan perlahan di antara angin sore.

Dan seperti biasanya, Taehyung hanya menuruti setiap langkah itu tanpa banyak bicara. Ia mengikuti Jimin ke mana pun, membiarkan tawa sahabatnya menjadi penuntun yang seolah mampu mengusir segala hal yang berputar di kepalanya.

Namun, yang namanya Jungkook... Nama itu menempel di benaknya seperti bayangan yang menolak pudar.

Meski Taehyung berusaha keras menepisnya, setiap kali ia menatap langit atau mendengar alunan musik di jalan, wajah itu muncul lagi—dengan sorot mata yang dulu hangat dan kini terasa asing, dengan senyum tipis yang entah mengundang atau menyakitkan.

Jungkook masih sama. Masih menjadi sosok yang dengan mudah mengacak-acak ketenangan Taehyung tanpa izin. Masih ahli menguasai pikirannya, bahkan setelah bertahun-tahun mereka tak saling menyapa.

Malam menjelang, dan kini keduanya telah kembali ke rumah Taehyung setelah seharian penuh berjalan. Meja makan dipenuhi makanan yang tersaji rapi—ayam goreng renyah, sup panas, dan sepiring kecil kimchi yang aromanya tajam tapi menenangkan. Taehyung tersenyum kecil melihat Jimin makan dengan lahap, mengingat bagaimana beberapa waktu lalu pemuda itu sempat keras kepala dengan dietnya.

Malam itu seharusnya damai, sederhana, dan hangat. Namun ketenangan tak pernah bertahan lama di sekitar nama Jungkook.
"Seharusnya kau bilang dari awal kalau kau mengenal Jungkook," ujar Jimin tiba-tiba di sela kunyahannya. Nada suaranya ringan, tapi ada sesuatu yang lain di sana—sebuah ketidaknyamanan yang tertahan.

Taehyung menggenggam sumpitnya erat. "Maaf," katanya singkat. Ia tak tahu harus menjelaskan dari mana. Ia hanya tidak ingin membahas Jungkook lagi malam ini. Tidak di saat dadanya baru saja sempat terasa tenang.

Jimin terkekeh kecil, tawa yang kali ini terdengar getir. "Kenapa kau yang minta maaf? Seharusnya aku yang melakukannya." Ia menenggak minumannya hingga tandas, kemudian meletakkan gelas itu di atas meja dengan sedikit hentakan.

"Apa maksudmu?" tanya Taehyung dengan dahi berkerut.

"Karena aku tidak tahu Jeon Jungkook adalah orang seperti itu," jawab Jimin, kali ini tanpa tawa. Suaranya tajam, seperti kaca yang baru pecah. Matanya berkilat marah, seolah ia masih menyimpan amarah yang tertahan sejak malam itu. "Kalau aku tahu, aku tak akan membawamu ke sana. Tak peduli seberapa besar kau mengaguminya dulu."

Ucapan itu menancap di dada Taehyung. Ia tahu Jimin bermaksud baik, tapi entah kenapa, mendengar seseorang menjelekkan Jungkook terasa seperti penghinaan pribadi. Ada bagian dari dirinya yang menolak—bukan karena Jungkook sempurna, tapi karena tidak ada yang benar-benar tahu Jungkook seperti dirinya dulu.

Jimin tak tahu apa yang pernah terjadi. Tak tahu kenapa Jungkook bisa jadi seperti itu.

"Dan kenapa makananmu masih utuh dari tadi, Taehyung?" Jimin menatapnya penuh tanya, mencondongkan tubuh sedikit. "Apakah kau masih memikirkan ucapannya waktu itu?"

Taehyung mengangkat wajahnya perlahan. Matanya tampak sendu, tapi juga tegas. "Sama sekali tidak," ujarnya pelan, meski dalam hatinya justru bergolak hebat. "Dan Jungkook... memang selalu seperti itu sejak SMA. Jadi aku tidak terlalu memikirkannya."

pulchritude • tk (✓)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang