"Aku baru saja selesai. Kau juga, Taehyung?"
"Iya, aku di depan gedung enam."
Belum sempat ia menurunkan ponselnya, sebuah pelukan datang dari belakang-hangat, ringan, dan tiba-tiba.
Seseorang memeluknya erat selama beberapa detik, sebelum berseru ceria di dekat telinganya, "Aku di sini!"
Taehyung refleks menoleh.
Wajah di hadapannya bersinar terang di bawah cahaya sore, begitu hidup hingga hampir menyilaukan pandangannya.
Senyuman itu-tanpa ia sadari-menyalakan sesuatu di dalam dirinya. Sebuah ketenangan sederhana yang belum pernah lagi ia rasakan selama beberapa tahun.
"Kau lapar, tidak?"
"Iya," jawab Taehyung pelan, berusaha terdengar santai sambil membenarkan tali ranselnya yang melorot karena pelukan barusan.
"Kalau begitu, ayo pergi sekarang!" seru orang itu riang, menarik pergelangan tangannya tanpa memberi kesempatan untuk berpikir.
Langkah mereka pun menyusuri koridor kampus yang sepi sore itu. Angin berembus lembut, membawa aroma tanah dan dedaunan yang jatuh di antara batuan trotoar. Suara tawa kecil dari orang di sebelahnya berpadu dengan bunyi langkah sepatu yang ritmis, menciptakan harmoni yang terasa begitu hidup.
Namun di balik ketenangan itu, Taehyung menyimpan lautan yang berbeda di dadanya.
Sebab di setiap langkah, kenangan lama ikut berjalan di sisinya-bayangan yang tak pernah benar-benar pergi.
Hari esok memang selalu datang, bahkan untuk mereka yang tak lagi percaya pada warna.
Dan bagi Taehyung, selama bertahun-tahun setelah hari kelulusan itu, hidup terasa seperti kanvas abu-abu yang ditinggalkan seniman sebelum lukisan selesai.
Segalanya berjalan, tapi hatinya tertinggal di masa lalu.
Ia ingat betul-hari terakhir sekolah itu.
Ketika Jungkook, si cantik yang dulu menjadi pusat orbit hidupnya, tiba-tiba menempelkan bibir ke bibirnya.
Sebuah ciuman yang terlalu cepat untuk diartikan, terlalu singkat untuk disebut indah, tapi cukup dalam untuk mengacaukan seluruh hidupnya.
Begitu Jungkook mendorongnya pergi, Taehyung kehilangan keseimbangan, jatuh, dan bersamaan dengan itu, ponselnya terlempar dari saku celana.
Benda kecil itu memantul dua kali sebelum menghilang ke dalam saluran irigasi, tenggelam di air yang keruh-persis seperti perasaannya saat itu.
Ia hanya duduk di sana, menatap permukaan air yang bergelombang, sementara hatinya menjerit tanpa suara.
Mungkin begitulah takdir memberi tanda: bahwa semuanya akan berakhir di situ.
Sejak hari itu, Taehyung berhenti menghubungi Jungkook.
Tidak ada pesan, tidak ada panggilan, tidak ada upaya mencari.
Karena apa gunanya?
Baginya, ciuman itu adalah sebuah penolakan yang dibungkus keindahan. Sebuah "pergi" yang disampaikan lewat sentuhan paling lembut di dunia.
Jungkook telah mengusirnya, dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang dicintai-manis, namun menyakitkan.
Dan Taehyung, yang dulu menatap Jungkook seperti raja, kini hanya seorang rakyat kecil yang dibuang dari kerajaannya sendiri.
Kini, dua tahun kemudian, di bawah cahaya senja yang jatuh di kampus barunya, Taehyung masih bisa merasakan sisa rasa itu di ujung napasnya.
Namun ketika orang di sebelahnya kembali tertawa, menoleh, dan memanggil namanya dengan nada yang ringan, ia sadar bahwa hidup terus berjalan-meskipun sebagian dari dirinya masih tertinggal di masa lalu.
"Taehyung, ayo cepat. Kau mau makan ramen, kan?"
Ia menatap sosok itu sejenak-senyum hangat, mata jernih yang tidak terlalu besar, dan energi yang begitu berbeda dari Jungkook.
Barangkali inilah cara dunia memberinya kesempatan untuk sembuh.
Taehyung tersenyum, kecil namun tulus.
"Ya," jawabnya pelan. "Ayo pergi."
Namun jauh di dalam dirinya, di tempat di mana rahasia-rahasia lamanya bersembunyi, suara itu masih berbisik:
"Sampai jumpa lagi, Jungkook."
KAMU SEDANG MEMBACA
pulchritude • tk (✓)
Fiksi RemajaJungkook adalah keindahan yang tak tersentuh, sementara Taehyung adalah bayang-bayang yang selalu terpikat. Di antara keduanya, ada jarak yang samar, antara kagum dan rasa yang enggan diakui. © remake from japanese bl drama series; my beautiful man...
