01. dia cantik

5.4K 203 14
                                        

Di kamar bernuansa tenang, satu-satunya cahaya berasal dari lampu belajar di sudut meja. Temaramnya jatuh lembut di atas tangan seorang remaja laki-laki yang tengah telaten mengganti lensa kamera digitalnya. Jemarinya bergerak hati-hati, seperti sedang menangani sesuatu yang rapuh—bukan hanya benda, tapi juga kenangan yang melekat di dalamnya.

Kamera itu baru saja dibelikan oleh orang tuanya, seminggu lalu, menggantikan yang lama—yang kini rusak dan tak bisa diselamatkan. Padahal, Taehyung sudah jatuh hati sepenuhnya pada kamera lamanya. Seolah benda itu satu-satunya mata yang mampu memahami cara dia melihat dunia.

Namanya Kim Taehyung. Usianya tujuh belas tahun. Anak tunggal dari pasangan suami-istri yang hidup berkecukupan. Namun, uang tak pernah bisa membeli kenyamanan batin—apalagi kepercayaan diri. Fotografi adalah hobinya, tapi lebih dari sekadar hobi, itu adalah caranya bernafas di dunia yang terlalu bising.

"Selesai."

Dia menekan tombol power switch. Kamera menyala. Cahaya kecil dari flash diatur tingkatannya, lalu jepret pertama mengabadikan lampu hias berbentuk bola dunia di atas meja kecil dekat ranjangnya. Bola dunia itu menyala seperti menggenggam semesta—namun dingin dan sunyi.

Tentang bola dunia—orang bilang bumi itu bulat, sempurna dan utuh. Tapi di mata Taehyung, dunia adalah piramida; sebuah struktur bertingkat di mana ia berdiri di paling bawah, tersembunyi oleh bayang-bayang, tak pernah terlihat, tak pernah dianggap.

Sedikit bercerita—

Semua ini bermula ketika dia duduk di bangku sekolah dasar. Masa di mana gugup menjadi tamu tak diundang yang menetap terlalu lama. Setiap kali bertemu orang baru, tubuhnya gemetar, suaranya tercekat. Dan ketika tiba saat pertama ia harus berangkat sekolah sendirian, rasa asing itu menyerangnya tanpa ampun.

Ia berhenti di taman, matanya tertuju pada kelinci-kelinci yang melompat riang di antara rerumputan. Lalu datanglah seorang pria tua yang melihatnya dengan tatapan penuh minat.

Pria tua itu bertanya. "Apakah kau suka kelinci, nak?"

Taehyung kecil menggenggam tali ranselnya begitu erat hingga buku jarinya memutih. "A-a-a-aku..." katanya. Suaranya patah. Kata-katanya gugur sebelum sempat tumbuh.

Pria tua itu akhirnya menyerah. Ia melangkah pergi sambil menggelengkan kepala, heran.

Dan Taehyung kecil berdiri membeku.

Kenapa begitu sulit?
Kalimat itu sederhana: Aku menyukainya.
Namun mulutnya seolah dipatri oleh rasa cemas yang tak berwujud. Kalimat itu terjebak di kerongkongan, menunggu keberanian yang tak kunjung datang.

Sejak hari itu, dan sepanjang masa sekolah dasarnya, semuanya berjalan seperti itu. Diam. Tertekan. Gagal berkata.

Orang tuanya mulai khawatir. Mereka membawa Taehyung ke banyak dokter, berharap bisa menemukan jawaban.

Diagnosis pun keluar—

"Disfemia." Sebagian besar itu adalah diagnosis mereka. Taehyung didiagnosis menderita disfemia di usia 6 tahun. Penyakit dengan gangguan bicara atau gagap yang selalu muncul ketika penderitanya merasa gugup ataupun dalam kondisi tertekan.

Para dokter berkata, "Tarik napas dalam-dalam saat merasa gugup." Maka sejak saat itu, napas panjang dan dalam menjadi penyelamatnya, teman satu-satunya saat dunia menjadi terlalu berat untuk dipahami.

Lalu mereka berkata, "Temukan hobimu."

Entah itu anjuran medis atau harapan, yang jelas orang tuanya menuruti. Mereka membelikan sebuah kamera. Mereka mengajaknya ke banyak tempat—taman, pantai, kota tua, dan perbukitan. Mereka menyuruhnya memotret apapun yang dia suka.

pulchritude • tk (✓)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang