Udara malam menggigit lembut kulitnya ketika Taehyung akhirnya keluar dari restoran itu. Lampu-lampu kota memantulkan warna keemasan di matanya yang sayu, seolah turut menertawakan ironi yang menggantung di dadanya. Syukurlah, pikirnya lirih, ia tidak benar-benar mabuk—meski hatinya lebih limbung dari langkahnya.
Waktu sudah larut. Terlalu larut untuk seseorang yang tak tahu lagi apa yang ia cari. Siapa sangka dirinya mampu bertahan selama itu di tempat penuh hiruk pikuk dan tawa palsu, menyaksikan Jungkook di pelukan suasana yang bukan untuknya?
Kepalanya sedikit pening, bukan karena alkohol, melainkan karena matanya terlalu lama dipaksa menatap sesuatu yang menyakitkan. Tangan Jaehyun di bahu Jungkook. Tawa mereka yang akrab. Gerak-gerik kecil yang terasa terlalu lembut untuk disebut kebetulan. Mereka tampak serasi—begitu serasi hingga dada Taehyung terasa diremas dari dalam.
Ia ingin memaki, ingin melupakan, tapi yang bisa ia lakukan hanyalah diam.
Apakah ia cemburu? Tentu saja. Namun meneriakkan "bajingan" dalam hati pun tidak mampu menenangkan luka yang berdenyut di dadanya. Ia duduk di kursi kayu di depan restoran itu, menunduk, memejamkan mata, berusaha mengatur napas.
Udara malam yang dingin menusuk paru-paru, membawa sedikit kesadaran yang tersisa. Taehyung jarang minum sebanyak ini sebelumnya—dan kini ia menyadari betapa bodohnya dirinya: lebih memilih mabuk karena cinta daripada sekadar alkohol.
"Seharusnya aku tak datang," gumamnya pelan. Tapi suaranya ditelan oleh bising kendaraan yang melintas.
Pintu restoran tiba-tiba terbuka di belakangnya. Dari sana, Jungkook muncul—langkahnya goyah, bahunya jatuh ke depan seperti menahan beban yang tak terlihat. Pemuda itu menatap ke arah Taehyung dengan mata bulat yang kini tampak sayu, redup oleh cahaya lampu jalanan.
"Kau pergi?" suaranya serak, nyaris tenggelam dalam udara malam.
Taehyung tersentak, menoleh buru-buru. "A-apa?"
Jungkook mendecak pelan, nada frustrasi menetes dari bibirnya yang indah namun kini tampak lelah. "Apakah kau akan pergi?" ulangnya, kali ini lebih tegas, lalu menyandarkan tubuh pada dinding dekat pintu masuk.
"A-aku, itu... aku..."
Kata-kata tercekat di tenggorokan Taehyung, beradu dengan detak jantungnya yang kacau.
Dan Jungkook, dengan mata yang semakin berat oleh alkohol dan emosi, mengembuskan napas kasar. "Astaga, kau semakin menyebalkan!" katanya, lalu melangkah pergi dengan langkah sempoyongan—ke kanan, lalu ke kiri, seperti kapal kehilangan arah di tengah badai.
Taehyung mematung beberapa detik. Setiap langkah Jungkook yang menjauh terasa seperti tamparan. Namun begitu melihat tubuh itu hampir kehilangan keseimbangan, nalurinya segera mengambil alih. "Jungkook!" panggilnya, lalu berlari kecil mengejar.
Ia meraih lengan Jungkook tepat ketika pemuda itu nyaris tersandung. "Kau mabuk," ucapnya lembut namun tegas, menopang tubuh Jungkook agar tidak jatuh.
"Aku tidak mabuk!" sahut Jungkook cepat, suaranya meninggi, ego yang tersisa masih bertahan di antara kabut alkohol.
Taehyung menelan ludah, menatap wajah yang begitu dekat dengannya. Pipi Jungkook memerah, matanya berkilau samar, bibirnya sedikit terbuka—begitu manusiawi, begitu menawan dalam kekacauan. "O-oh, tapi apakah kau baik-baik saja?" tanyanya dengan hati-hati.
"Ya!" potong Jungkook keras kepala.
"Kalau begitu minggir ke sini. Kau harus tetap di atas trotoar," ujar Taehyung pelan, berusaha menuntun Jungkook agar tak berjalan ke jalan raya.
Namun Jungkook mengerutkan kening, matanya memancarkan perlawanan yang samar. "Manjauhlah! Lepaskan aku!" bentaknya, menghempaskan tangan Taehyung dari lengannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
pulchritude • tk (✓)
Teen FictionJungkook adalah keindahan yang tak tersentuh, sementara Taehyung adalah bayang-bayang yang selalu terpikat. Di antara keduanya, ada jarak yang samar, antara kagum dan rasa yang enggan diakui. © remake from japanese bl drama series; my beautiful man...
