Semakin dekat dengan bulan purnama, Zee dan Nunew tampak gelisah setiap mengingat kata-kata Sang Dewi. Sampai pertemuan dengan ibu Zee yang harus ditunda sejak ulang tahunnya, membuatnya tak terlalu antusias. Saat itu mereka menunda makan malam dengan ibu Zee keesokan harinya setelah ulang tahun Zee, sayangnya saat itu ibu Zee ternyata harus pergi ke luar negeri dan tak bisa menemui mereka. Jadinya mereka harus pergi malam ini, 2 hari sebelum bulan purnama datang.
"Duduklah, buat dirimu nyaman," kata ibu Zee setelah menyambut Nunew dengan pelukan hangat.
"Aku ingin mengajaknya keliling dulu," kata Zee pada ibunya dan membiarkan Nunew membuntutinya sambil berpegangan tangan.
Rumah lama Zee memang tidak terlalu besar. Namun semuanya tampak berbau modern tanpa sentuhan tradisional. Semuanya ditata cantik, pernak-pernik dan dekorasinya serba berwarna pastel.
"Ke kamarku," bisik Zee menaiki tangga ke lantai dua dan menarik Nunew ke ruangan bagian belakang.
"Phi masih punya kamar di sini?" tanya Nunew seraya melihat-lihat sekeliling mereka.
"Tentu saja! Kalau ibuku sedang sakit atau butuh pertolongan, aku akan menginap disini. Kemarilah."
Zee mengajak Nunew masuk kamarnya yang tak jauh beda dengan kamar di rumah mereka. Semuanya bernuansa kelabu gelap, berbeda sekali dengan bagian rumah lainnya. Mungkin karena kamar ini jarang dipakai, jadi tidak banyak peretelan-peretelan di sekitarnya. Isi kamarnya hanya ada lemari 2 pintu, meja kerja yang di atasnya berisi banyak buku-buku yang ditata rapi berdasarkan besar kecilnya, dan sofa yang hanya bisa diduduki dua orang saja.
"Apa kamar Phi selalu di sini?"
"Tidak. Sebenarnya saat masih kecil, aku punya kamar di bawah. Baru setelah SMP aku pindah ke sini dan mendekornya sesuai keinginanku."
Zee melempar tubuhnya ke ranjang dan membawa Nunew bersamanya. Nunew berseru pelan sambil menutupi mulutnya. Dia mengeplak bahu Zee jengkel. "Kalau ketahuan ibu Phi aku bakalan malu sekali," ujar Nunew seraya melepaskan diri dari Zee.
"Aku sudah dewasa. Dia tidak mungkin menyelonong masuk ke sini tanpa mengetuk pintu." Zee menarik Nunew kembali ke dalam pelukannya dan mengecup kepalanya. Bibirnya sudah berada di depan mulut Nunew ketika seruan ibunya membuat dia kembali terlentang dan memaki dalam hati.
"Zee, Nhu... ayo turun! Makanannya sudah siap."
-
"Apa kau sudah memberi tahu pamanmu soal Nunew?" kata ibu Zee saat mereka sedang menyantap makan malam.
"Sebelum ulang tahunku sudah kuberitahu," jawab Zee sambil memotong kue ulang tahunnya buat Nunew.
"Apa dia tidak bertanya-tanya tentang Nunew?" ujar ibunya dengan mata menyelidik.
"Bertanya seperti apa maksud Ma?"
"Seperti apa Nunew, misalnya."
"Maksud Ma pasti jenis kelaminku," serobot Nunew.
Ibu Zee mengangguk mengiyakan kalimat Nunew.
"Aku tidak berlama-lama berbicara dengannya. Aku hanya memberi tahu kalau aku sudah memiliki belahan jiwa dan tidak akan mati. Sebelum dia berbicara ini itu sudah kumatikan," sahut Zee masih berkutat dengan kuenya.
"Oh, bagus!"
Zee manatap ibunya, "Memangnya kenapa, Ma?"
"Tidak apa-apa."
Zee sudah pernah menceritakan tentang keluarga dari ayahnya pada Nunew. Sejak Zee kecil, dia hanya bersama ibunya di rumah ini. Kakek neneknya kadang bertemu dengannya kalau ingin, sedangkan pamannya, juga tak terlalu peduli dengan hidup Zee. Jadi dari kecil dia sudah menganggap keluarga ayahnya tidak ada. Setiap bertanya pada ibunya kenapa mereka seperti itu, ibunya bilang mungkin mereka tidak suka karena ayahnya menikahi ibunya. Saat kakeknya meninggal saja, semua warisan keluarga diberikan pada pamannya. Zee tidak mendapatkan sepeserpun. Untungnya dia memiliki warisan sendiri dari ayahnya yang saat itu sudah memiliki usaha sendiri. Jadi dia tidak memerlukan apa pun dari keluarga ayahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Your Future
Ficção Geral"Sebelum purnama bulan ini, segera temukan pemuda bernama "Nunew Chawarin" kalau kau ingin hidupmu tidak berhenti di angka 30. Dia akan menjadi obatmu sekaligus masa depanmu," ucap seorang perempuan berwajah datar dari dalam mimpi Zee Pruk. Gara-gar...
