04. Truth or dare

192 24 1
                                        

Happy reading

Rabu pagi adalah hari yang menyenangkan untuk Livy. Selain hari libur karena tanggal merah, pagi ini Livy di sibukkan oleh kegiatan dapur yaitu masak-memasak dibantu oleh asisten rumahnya. Livy gemar sekali masak-memasak, bahkan ketika libur sekolah, ia sering menyempatkan diri bereksperimen masakan di dapur. Meskipun Livy adalah putri seorang konglomerat, itu tidak menjadikannya menjadi seorang yang pemalas dan enggan melakukan tugas rumah, justru ia kerap sekali membantu asisten rumahnya ketika ia senggang. Entah itu memasak, menyiram taman, dan kegiatan rumah lainnya.

Karena hari ini di rumah Livy akan kedatangan tamu teman-teman sekelasnya, Livy pun harus menyiapkan cemilan dan suguhan untuk teman-temannya nanti. Karena ia tidak mau memberikan kesan yang buruk kepada teman-teman sekelasnya.

"Non Livy, itu teman-teman non udah datang di depan." Seorang asisten rumahnya memberitahu kepadanya bahwa beberapa teman-temannya sudah sampai di rumahnya.

Livy pun mengangguk dan bergegas melepas apron masaknya untuk menemui teman-temannya di depan. Livy merapikan rambutnya, laju berjalan menuju pintu depan rumahnya.

"Hai, guys." Ternyata, Rasi, Alesha, dan juga Cherly yang lebih dulu sampai di rumahnya. "Kok cepet banget datangnya?" tanya Livy sembari mengalami mereka.

"Ya gapapa dong, kita tuh sekalian bantu-bantu lo, siapa tau ada yang perlu di bantu, ya nggak? Kan, kasian kalo lo repot sendiri." Rasi mewakili kedua temannya untuk berbicara niatnya untuk membantu Livy.

Livy malah tertawa, "apaan sih kalian, orang gue nggak repot kok. Ya udah ayo silahkan masuk!" Livy mempersilahkan teman-temannya masuk ke dalam rumahnya. "Maaf ya, rumah gue emang kecil." ujar Livy merendah.

"What?" Alesha membulatkan matanya, "gue nggak salah denger? Kecil? Rumah Segede gini lo bilang kecil?" Alesha geleng-geleng kepala tidak paham dengan pemikiran Livy.

"Hehe," Livy menggaruk-garuk tengkuknya yang tak terasa gatal. "Ya udah have fun ya kalian, gue mau mandi dulu." ujar Livy.

"Okey!"

🧚‍♀️🧚‍♀️🧚‍♀️

Pukul delapan tiga puluh, teman-temannya sudah lengkap berkumpul di rumahnya. Tak lupa juga Livy menyediakan cemilan untuk menemani kerja kelompok mereka.

"Guys, thanks ya udah mau datang kelompok di rumah gue," ujar Livy berterimakasih.

"Yoi."

"Anjay, gue lupa bawa laptop." Celetuk Raga saat menyadari bahwa dirinya lupa membawa laptop.

"Raga lo bisa-bisanya sih, kita butuh laptop dua biar ngerjain makalah woi." cetus Cherly.

"Namanya cuma lupa Cher." ujar Raga.

"Dan lo nggak ngerasa bersalah gitu? Wow!" sahut Juno dengan lirikan sinisnya.

Raga menatap Juan, "Sinis banget tuh mata, mau gue colok?!" ketusnya.

"Udah woi, gue ada laptop cadangan kok, gue ambilkan ya?" ujar Livy lalu mengambilkan laptopnya di kamar.

Kerja kelompok pun di mulai, mereka saling membantu satu sama lain, hingga akhirnya setelah  dua jam tugas  kerja kelompok mereka pun selesai.

Unexpected LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang