Jika dulu Olivya Zeline Atmaja adalah korban bully dari seorang Raga Bumantara. Maka sekarang sebaliknya, Livy adalah istri dari seorang Raga, pria yang pernah mem-bully Livy di masa kecilnya.
Akankah keduanya saling menerima takdir mereka, atau mal...
Terimakasih telah memilih cerita untuk kalian baca!
Semoga kalian suka dengan alur cerita dan juga jangan lupa berikan vote dan komen di setiap chapter dari cerita ini.
🌻Happy reading🌻
Aku hanya anak kecil yang dipenuhi oleh trauma.
"Livy cengeng, Livy cengeng!"
"Yaaa, cengeng! Tukang nangisan!"
Olivya Zeline Atmaja, anak kecil yang masih berusia sebelas tahun itu menangis tersedu-sedu. Pasalnya teman-teman sekelasnya sering kali mengejek dirinya. Ia tidak memiliki banyak keberanian sehingga ia hanya bisa menangis karenanya.
"Livy gendut, Livy gendut." ejek teman-temannya lagi.
Livy kembali menangis. Suara ejekan dari teman-temannya membuat dirinya merasa terpojokkan. Tidak ada yang membantunya, tidak ada yang membelanya, hanya ada ejekan dan perilaku kasar yang ia dapatkan.
"Huuuu, dasar cengeng. Gitu aja nangis." ujar Raga, salah satu teman laki-lakinya yang sering atau lebih tepatnya selalu mengejek dirinya. Bahkan ia sering mendapat perilaku kasar dari Raga.
"Eh, jangan ada yang temenan sama Livy ya, awas kalo ada yang nemenin!" ujar Raga mengancam seluruh siswa di kelas enam.
Livy menangis tersedu-sedu, "kenapa kamu jahat sama aku, Raga? Aku salah apa sama kamu?" Livy menatap Raga dengan wajah memelas. Ia sudah tidak kuat setiap hari mendapat bully dari raga dan teman-temannya yang lain.
"Karena kamu nggak pantas punya teman. Udah gendut, nggak cantik, tukang nangisan. Nggak ada yang menarik dari dirimu." ujar Raga dengan nada mengejek. Dari kelas dua, hingga sekarang Raga memang sering mengejek Livy, menjadikannya bahan untuk di bully. Hanya karena perbedaan bentuk badan dimana Livy terlihat paling gendut di kelas dan juga mental Livy yang mudah menangis apabila sedikit di hina yang membuat Raga dan yang lainnya gemar menjadikannya bahan lelucon.
"Kamu jahat, Raga! Aku capek sama kamu." ujar Livy.
Raga malah tertawa. "Iya, aku emang jahat. Udah lah males aku ngomong sama opet kayak kamu." ujar Raga lalu pergi meninggalkan Livy.
"Huuuu." Sorak yang lainnya tertujukan untuk Livy.
Livy berusaha tegar. Ia mengusap air matanya pelan-pelan. "Kata Bunda aku harus sabar. Kan, sedikit lagi aku lulus SD." ujar Livy menyemangati dirinya sendiri.
"Aku berharap suatu saat kamu akan menyesal karena pernah ngebully aku, Raga." kata Livy.
Ini adalah kilas balik, disaat Livy masih berusia sebelas tahun dan masih menginjak kelas enam SD. Livy kecil yang selalu di bully dan di jadikan bahan lelucon oleh temannya. Livy yang selalu menangis, Livy yang tidak pernah bisa melawan perlakuan buruk mereka.
Kini Livy telah berbeda. Enam tahun berlalu, Livy telah menjadi anak SMA yang mampu membuat siapapun jatuh cinta pada pesonanya. Tidak ada Livy yang gendut, tidak ada Livy yang suka menangis, dan tidak ada Livy yang lemah. Karakter Livy telah berbeda. Sekarang, dunia telah berbeda. Hanya ada Livy yang berani, dan sanggup melawan siapapun yang salah. Livy adalah Livy, tidak ada yang bisa membuatnya tunduk kepada siapapun, namun Livy bisa membuat siapa saja tunduk kepadanya.
Ini adalah kisah Livy, dan masa putih abu-abunya. Berawal dari perpindahannya dari bandung ke Jakarta. Hingga pertemuannya kembali dengan Raga Bumantara.
Akankah ceritanya seindah kisah yang ditulis dalam novel yang pernah ia baca? Atau ia malah terjebak di dalam cinta tak berujung?
<<To be continued>>
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.