19. Pinky Promise?

649 61 2
                                        

Mahen memutuskan untuk berdiri dari duduknya setelah kurang lebih setengah jam terduduk lemas di kursi tunggu yang ada di luar ruangan tempat Reyhan dirawat. Ia memantapkan hati dan menetralkan detak jantungnya yang kini berdegup kencang. Mahen mengusap wajahnya kasar sebelum membuka pintu ruangan dimana di dalamnya ada sesosok tubuh kecil dengan masker oksigen yang menempel di wajah manisnya tengah terlelap dalam tidur. Wajah kecil itu terlihat tampan, menenangkan, dan lucu di waktu yang bersamaan.

Mahen duduk di kursi yang berada tepat di samping ranjang tempat Reyhan memejamkan mata, ia menggenggam tangan Reyhan yang terbebas dari selang infus, dan mengusapnya lembut.

“Adek, sakit banget, ya? Sampai Adek nggak mau bangun?”

“Udah setengah jam lebih loh, Dek. Bangun, yuk?”

Mahen menghela napas panjang, ia mengecup punggung tangan Reyhan yang terasa dingin.

“Kamu jangan lama-lama, ya, bobonya. Kakak kangen..." Mahen terkekeh geli saat mendengar perkataannya sendiri.

____________

Empat jam berlalu begitu saja bagi Mahen. Dan selama empat jam itu, Mahen tidak berdiri —bahkan bergeser sedikitpun dari posisinya. Hingga tak terasa, jam di dinding kamar bernuansa putih polos itu kini sudah menunjukkan pukul 23.30, sudah larut malam.

“Adek. Udah tengah malam, Adek kok belum bangun?”

“Kakak ngantuk, Dek...”

Mahen mengusap kepala sang adik yang sedari tadi masih saja tertidur, seperti enggan bangun dan mengobrol dengannya.

“Adek, kakak ngantuk. Kakak capek, Dek. Kepala kakak juga pusing karena kebanyakan nugas.”

“Kakak bobo, ya?”

Good night and sweet dream, sayangnya Kakak...”

________________

01.50 WIB

Jemari mungil itu nampak bergerak lemah, disusul dengan terbukanya kedua manik berwarna hitam kecokelatan miliknya yang terasa berembun.

Reyhan mengerjapkan kedua matanya, menyesuaikan netranya dengan cahaya yang berasal dari lampu.

Ia menatap langit-langit diatasnya yang berwarna putih polos, Reyhan baru sadar jika sekarang ia sedang tidak berada di kamar miliknya ataupun kamar Mahen.

Ia menolehkan pandangannya ke arah lengan. Reyhan mendengus saat melihat dengan jelas sebuah jarum infus menancap di telapak tangan sebelah kanannya.

Tiap minggu udah kesini, sekarang malah disuruh nginep? Nggak suka banget sama tempat ini.” Batin Reyhan bergemuruh, helaan napas panjang terdengar dari sosok mungil yang kini masih setia berbaring itu.

“Ka-kak?” Panggilnya dengan lemah, ia menatap Mahen, sang kakak yang tengah terlelap dengan memeluk lengannya yang terbebas dari selang infus.

Reyhan tersenyum tipis, meskipun lengan kirinya terasa berat dan kesemutan, ia tidak tega membangunkan sang kakak yang nampaknya sangat kelelahan. Terbukti dari kantung hitam yang menggantung dibawah kelopak matanya.

Ssh...” Reyhan mendesis pelan saat kepalanya kembali terasa pening.

“Adek?” Reyhan merasa bersalah karena atas tindakannya, Mahen jadi terbangun dari tidurnya.

“Adek udah bangun?” Reyhan bisa melihat wajah Mahen yang tersenyum lebar.

Mahen, terlihat sangat tampan.

“Tubuhnya ada yang sakit?” Tanyanya dengan lembut.

“Bilang sini sama Kakak. Apanya yang sakit?”

“Nggak ada, Kak.” Reyhan menggelengkan kepalanya pelan.

“Beneran?”

“He'em.” Mahen tersenyum, ia mengusap kepala sang adik dengan penuh kasih sayang.

“Tapi, Kak...” Reyhan menunjukkan raut wajah sedihnya, membuat Mahen merasa khawatir.

“Tapi apa? Adek kenapa? Kok sedih gitu?”

Reyhan menatap Mahen dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca.
Dadanya kembali terasa sesak saat mengingat kembali perjanjian mereka yang ingin dinner kemarin malam, dan agenda itupun harus dibatalkan karena penyakitnya yang kambuh. Hingga bukannya berada di sebuah restoran mewah, keduanya malah harus berakhir di tempat ini.

Tempat yang sudah sangat sering ia kunjungi, hanya untuk memeriksa keadaan tubuhnya yang setiap hari semakin memburuk.

“Kakak...” Suara Reyhan mulai serak, ia menahan tangisnya agar tidak pecah.

“Iya, Kakak disini. Kenapa, hm?”

“Maafin Reyhan ya, Kak. Gara-gara penyakit Reyhan kambuh, kita nggak jadi makan malam bareng...”

“Maafin Reyhan...”

“Rencana kita gagal gara-gara Reyhan...”

Mahen tertegun sejenak, ia menggelengkan kepalanya pelan saat air mata Reyhan harus turun lagi hanya karena hal kecil.

“Enggak apa-apa, Adek.”

“Udah nggak usah dipikirin, ya? Kita bisa lakuin itu di lain waktu, kok. Yang penting, sekarang kamu sembuh dulu, biar kita bisa makan malam bareng, kaya wacana kita waktu itu. Oke?”

Reyhan mengangguk, ia berusaha untuk tersenyum di depan kakaknya meski tubuhnya terasa sakit dan remuk.

“Hmm, Kakak?”

Setelah sekian lama bungkam, Reyhan kembali membuka mulutnya.

“Kenapa, Sayang?” jawab Mahen lembut.

“Kalau Reyhan udah boleh pulang dari sini, kita jadi dinner berdua, kan?” Reyhan menatap wajah di hadapannya penuh harap.

“Iya, nanti kita pasti dinner bareng, kok.”

“Janji ya, Kak? Pinky Promise?” Reyhan mengangkat jari kelingkingnya ke udara. Mahen terkekeh pelan, lalu segera mengaitkan jari kelingking miliknya dengan milik Reyhan.

Yes, Pinky Promise!”

Mahen mengusak kepala Reyhan hingga rambut sang empu berantakan, Reyhan hanya tersenyum lucu.

“Yaudah kalau gitu Adek sekarang bobo lagi, ya. Istirahat, biar tubuhnya nggak sakit lagi.”

“Iya, Kak.” Reyhan mengangguk.

Good night Kakak.”

“Hm, good night too.” Mahen berdiri, lalu mengecup pipi kiri Reyhan yang masih sedikit terhalang oleh masker oksigen. Setelahnya dua kaum Adam itupun kembali memejamkan mata. Selain karena masih larut malam, rasa lelah dan juga sakit yang keduanya rasakan mengharuskan mereka untuk beristirahat.

________________

Mahen si penguasa seluruh love language 😭️❤️

REYHAN [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang