25. Koma

789 67 0
                                        

Jevan mengusak rambutnya hingga berantakan. Seragam putih abu-abu yang ia kenakan sudah lusuh dan acak-acakan karena rasa panik dan khawatir. Remaja laki-laki itu mendudukkan tubuhnya diatas kursi tunggu di luar sebuah ruangan, yang mana di dalamnya ada raga sang sahabat yang sudah tidak sadarkan diri selama beberapa waktu yang lalu.

Kondisi Reyhan sekarang bisa dibilang sangat buruk, anak itu juga sudah tidak sadarkan diri selama di perjalanan tadi. Hal itu membuat Jevan semakin kalut.

Sesampainya di rumah sakit, Reyhan segera ditangani secara intensif oleh beberapa dokter, salah satu diantaranya ada dokter Sean, dokter yang selama ini menemani Reyhan dalam berjuang melawan kanker darahnya.

Jevan khawatir, Jevan takut, perasaan itu mendominasi isi hatinya saat ini.
Anak itu menundukkan kepalanya dan menangis dalam diam. Jevan tidak kuat, dia tidak sanggup jika harus melihat Reyhan yang seperti tadi.

Remaja laki-laki berusia delapan belas tahun itu mendongakkan kepala kala indera pendengarannya menangkap sebuah suara pintu yang dibuka. Perasaan Jevan kembali campur aduk saat dokter Sean dan beberapa perawat di belakangnya keluar dari ruangan tempat Reyhan dirawat dengan raut wajah yang tidak bisa ditebak.

“Bagaimana keadaan Reyhan, Dok?” Tanya Jevan to the point.

“Kamu lagi yang menjadi walinya Reyhan, Jev?” Jevan mengernyit heran saat dokter Sean bertanya demikian.

“Iya, Dok.”

“Kalau begitu mari ikut ke ruangan saya. Kita bicarakan soal ini di dalam ruangan saya saja.”

Jevan kembali mengernyitkan dahinya sesaat. Namun setelahnya ia pun mengikuti dokter Sean yang sudah berjalan terlebih dahulu menuju ke ruangan pribadi sang dokter.

Sesampainya di dalam ruangan pribadi milik dokter Sean, Jevan dan dokter laki-laki berusia tiga puluh tahunan itu duduk berhadapan.

Dokter Sean menghela napas panjang, sebelum berkata;

“Kenapa Reyhan bisa sampai seperti ini, Jev?” Tanyanya sambil menatap Jevan intens.

Tanpa ragu, Jevan pun menceritakan kejadian tadi, dimana dirinya ditelepon oleh Hasbi karena keadaan Reyhan yang sudah sangat parah di halte bus, sampai dirinya mengantarkan sang sahabat yang sudah tidak sadarkan diri ke rumah sakit ini. Dokter Sean mengangguk-anggukkan kepalanya menanggapi.

“Emangnya Reyhan kenapa, Dok?”

“Keadaan Reyhan saat ini bisa dibilang sangat buruk. Untuk saat ini, Reyhan masih belum melewati masa kritisnya. Dia mungkin akan sadar dalam beberapa waktu ke depan.”

“Maksud dokter apa, Dok? Reyhan kenapa? Kenapa dia nggak sadar?” Tanya Jevan berturut-turut.

“Reyhan mengalami koma, karena tubuhnya yang sudah terlalu rapuh dan hampir tidak kuat untuk menahan penyakitnya.”

“Bahkan lebih buruknya...” Dokter Sean kembali menghela napas panjang, dadanya terasa sesak saat menjelaskan kondisi sang pasien yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri itu.

“Apa, Dok? Reyhan k-kenapa?”

“Bahkan lebih buruknya, Reyhan bisa kehilangan nyawanya dalam beberapa waktu ke depan, jika kondisinya semakin memburuk.”

Shock? Tentu saja!

Tubuh Jevan terasa melemas mendengar pernyataan dokter Sean.
Jevan menutup mulutnya dengan kedua mata yang kembali berkaca-kaca.

“A-apa? Dokter, dokter lagi b-bercanda, kan?”

“Nggak mungkin, Dok. Reyhan itu anaknya kuat, dia nggak akan kalah!” Suara Jevan mulai bergetar.

“Saya serius, Jevan. Kondisi Reyhan saat ini sedang kritis.” Dokter Sean menatap Jevan dengan tatapan sendu, dokter dua anak itu sangat mengerti apa yang tengah Jevan rasakan saat ini.

Apalagi dia juga sering tahu, jika Jevan adalah orang yang paling sering mengantarkan Reyhan keluar-masuk rumah sakit ini. Kabar buruk ini pasti menjadi pukulan tersendiri bagi anak itu.

“Maka dari itu kamu harus bersabar, ya? Jangan lupa berdo'a agar sahabat kamu segera sadarkan diri.”

Setelah percakapan itu, Jevan yang masih dalam keadaan shock berat mulai melangkahkan kakinya keluar dari ruangan dokter Sean. Ia menuju ke kamar tempat Reyhan dirawat.

Jevan memejamkan matanya sejenak sebelum membuka pintu. Setelah pintu terbuka, Jevan masuk dan menundukkan dirinya di kursi yang terdapat di samping brankar tempat Reyhan tertidur.

Ia menggenggam tangan sang sahabat yang terbebas dari selang infus, mengelusnya pelan.

Jevan tidak kuat lagi, buliran air mata mulai turun dari kedua netra Jevan.

“Rey...”

“B-bangun, yuk...” Ucap Jevan.

“Hobi kok tidur. Ayo b-bangun, Rey...”

Tidak ada sahutan dari belah bibir itu. Jevan menundukkan kepalanya, ia kembali menangis tersedu-sedu saat menyadari bahwa tangan Reyhan terasa sangat dingin. Bunyi monitor yang berada di sampingnya juga terdengar lemah. Apakah seburuk itu kondisi Reyhan saat ini?

Jevan mengusap air matanya, raut wajahnya seketika berubah saat ia teringat akan seseorang.

“Oh iya. Gue harus kasih tau bang Mahen.”

“Bisa-bisanya gue lupa ngabarin dia.” Jevan segera mengambil ponselnya dari dalam saku celana, anak itu terkejut bukan main saat menyadari jika sedari tadi ponselnya ternyata dalam keadaan mode pesawat.

Pantesan dari tadi nggak ada satupun notifikasi yang masuk. Orang hpnya aja gue mode pesawat.” Batinnya bergejolak, Jevan segera membuka data seluler. Jevan mengumpati dirinya sendiri saat melihat banyak sekali notifikasi yang muncul di benda canggih tersebut.

Ada banyak notifikasi dari sosial media juga dari aplikasi chat.

Jevan membuka aplikasi chat, ada banyak sekali pesan yang masuk disana. Ada dari Zidan, teman-teman satu tim, dan masih banyak lagi.

Namun, diantara banyaknya pengirim bubble chat yang masuk di ponselnya, ada satu orang yang sukses membuat napas Jevan seakan tercekat.

Dia adalah, Mahen. Kakak sang sahabat.

Bang Mahen
Last seen today at 18.30

36 unread massage & 58 missed voice call

|Jev
|Tolong anterin Reyhan pulang, ya.
|Hari ini gue nggak bisa jemput dia.
|Gue masih ada urusan di kampus.
|Nggak tau kenapa mendadak banget.
|Maaf kalau ngerepotin lo, thanks.
14.50

|Jev
|Udah sampe rumah belum?
|Reyhan tadi gimana? Dia oke kan?
|Gue khawatir banget sama dia.
|Hpnya nggak bisa dihubungin, Jev.
|Lo masih dijalan, ya?
|I'm so sorry for this.
|Sekali lagi gue minta maaf karena
udah ngerepotin lo, ya.
16.19

|Jev?
|Hpnya Reyhan kok masih nggak
bisa dihubungin, ya?
|Gue udah coba telepon berkali-kali
tapi tetep nggak bisa.
|He's really okay, right?
16.57

|Jevan
|I really hope you read my messages.
|Seenggaknya kasih tau gue gimana
keadaan kalian berdua.
|Sekarang gue nggak cuman mikirin Reyhan lagi. Tapi lo juga.
|You guys are really fine, right?
17.05

|Jevan?
|Gue baru aja masuk rumah.
|Kok Reyhan nggak ada dirumah?
|Dia di rumah lo, ya?
17.27

|Jev
|Kok hp lo ikutan mati juga daritadi?
|Kalian berdua janjian apa gimana
sih sebenernya?
|Please, Jangan isengin gue sekarang.
|Gue udah terlanjur panik ini.
|Kalian berdua lagi dimana?
|Pasti lagi ngumpul di rumah lo ya?
|Sharelock, gue kesana sekarang.
|Gue mau jemput Reyhan.
17.50

____________________

REYHAN [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang