14. Dream?

886 83 6
                                        

Sekitar empat puluh menit kemudian, kondisi Reyhan yang tadi bisa dibilang cukup parah pun akhirnya mulai membaik. Napasnya mulai teratur, bersamaan dengan turunnya air hujan pada malam itu.

Sesaat setelah Reyhan memperjuangkan hidupnya, hujan mulai mengguyur bumi dengan deras, seakan ikut sedih melihat kondisi Reyhan. Seakan mengerti suasana hati Mahen saat ini.

Sedari tadi, tepatnya pada saat kondisi Reyhan kembali drop sampai napas Reyhan mulai berhembus dengan teratur, Mahen tidak beranjak dari tempatnya. Laki-laki itu duduk diatas kasur dengan posisi tubuh menghadap adiknya.

Oh ya, jangan lupakan juga tangannya yang tidak berhenti mengusap pucuk kepala sang adik.

Kini, Mahen merasa seperti baru saja tersadar dari komanya. Sesaat setelah ia melihat dengan mata kepalanya sendiri saat Reyhan harus memperjuangkan hidupnya sembari meraung kesakitan, Mahen jadi semakin ingin membahagiakan Reyhan, ia menjadi sangat ingin melaksanakan tugasnya sebagai seorang kakak yang baik. Dan Mahen berharap, ia tidak terlambat untuk semua keinginannya itu.

“Kakak?” Panggil Reyhan dengan napas yang masih tersengal-sengal. Jemarinya sedikit demi sedikit mulai bergerak, tangan mungil itu berusaha menggenggam tangan Mahen yang besar dan sedikit kasar.

Mahen yang menyadari itu segera mengaitkan jemarinya dengan milik Reyhan, dan kini tangan dari kedua saudara itupun tengah bertautan, Mahen mengusap pelan punggung tangan sang adik dengan penuh kasih sayang.

“Ka-kak... Ma-malem ini kakak, huft... T-tidur sama Reyhan, ya? Reyhan takut, Kak...”

“T-tadi ada sosok besar banget, Kak... Se-rem...”

“Dimana?” Tanya Mahen yang jujur, juga merasa sedikit ngeri setelah mendengar perkataan Reyhan.

“Disa-na...” Tangan Reyhan yang terbebas dari genggaman Mahen menunjuk pojok ruangan.

“Reyhan t-takut... Reyhan belum siap pulang kesana, Kak...”

“Reyhan enggak.”

“Eng-enggak mau, Kak...”

Pertahanan Reyhan runtuh, air mata yang sedari tadi sudah ia tahan semaksimal mungkin pada akhirnya tetap tidak bisa ia tahan, kini buliran bening itu mulai membasahi kembali wajahnya yang memang sudah sembab.

Mahen melepaskan tautan tangannya dengan Reyhan, lalu membaringkan tubuhnya disamping Reyhan, ia membawa tubuh lemah itu ke pelukannya. Mahen memeluk tubuh itu sangat erat, begitu pula sebaliknya.

Ssst. Udah, Adek nggak boleh nangis terus, nanti badannya sakit lagi, loh.”

“Kalau dadanya sesak lagi, gimana?”

“Adek nggak boleh nangis, Adek harus tetap semangat, kakak ada disini. Kakak nggak akan tinggalin adek lagi.” Mahen berusaha menenangkan adiknya yang kini masih saja menangis.

“Udah nangisnya, ya? cup cup cup~”

“Udah malem, mending adek bobo. Tadi katanya mau bobo sama kakak, kan?”

“Sekarang bobo, ya? Istirahat, kasian badannya pasti capek.”

Mahen memang tidak mendengar satu katapun dari mulut Reyhan, tetapi anggukan kecil dari sosok di pelukannya itu sudah mampu untuk membuat Mahen merasa lega.

________________

02.45 WIB

“Argh...”

Reyhan mulai mengerang kesakitan tatkala kepalanya tiba-tiba kembali terasa sangat pusing, perutnya mulai bergejolak tidak karuan dan badannya juga terasa sangat remuk.

REYHAN [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang