12. I'm Sorry ya, Dek?

1.1K 91 4
                                        

Tess...

Tess...

Tess...

“Eh, mimisan lagi?” Lirih Reyhan sambil melihat telapak tangannya, ia bisa melihat cairan kental yang berasal dari hidungnya disana.

Dan, setelahnya...

Ehmph...”

Huek...

Huek...

Huek...

Reyhan mencengkeram bagian tepi wastafel dengan erat saat merasakan kepalanya berdenyut tidak karuan. Dadanya terasa sangat sesak, ditambah dengan hidungnya yang tidak berhenti mengeluarkan darah. Sungguh, Reyhan tengah merasa kesakitan saat ini.

Reyhan baru saja pulang dari sekolah, ia baru saja memasuki rumah dan laki-laki itu pun segera berlari ke kamar mandi saat hidungnya kembali mimisan hebat, ia juga merasakan perutnya yang bergejolak tidak karuan. Sebenarnya Reyhan sudah merasakannya selama di sekolah, tetapi lagi-lagi ia menahannya, sehingga kejadian seperti ini pun tidak bisa lagi dicegah.

Arghh...”

“S-sakit banget...”

Tubuh Reyhan melemas, kedua kakinya kini tidak bisa ia digunakan bahkan hanya untuk sekedar berdiri.

Reyhan mulai menangis, ia menangis keras di dalam kamar mandi dengan kedua tangan yang memegangi perut dan dada. Sungguh, ini sangat menyakitkan untuk dirinya.

Rasanya Reyhan seperti ingin menyerah...

“Ayah... B-bunda sakit, argh!

“Reyhan nggak k-kuat Ayah... B-bunda...”

“Kak Daniel...”

“S-sakit banget. Jevan...”

“Kak Mahen. Kakak s-sakit, Kak...”

“Bibi... Bi Ami s-sakit...”

“To-long... T-tolongin Reyhan...”

“Siapapun t-tolongin Reyhan...”

“Reyhan nggak k-kuat...”

Reyhan terus meracau, tangan kanannya sibuk meremas bagian ulu hatinya, pun dengan tangan kiri yang sibuk memukuli dada.

Sakit, itulah yang Reyhan rasakan saat ini.
Berkali-kali ia berteriak dengan sisa tenaganya untuk meminta pertolongan, tetapi yang Reyhan dapatkan hanyalah suasana hening yang memang sudah terjadi bahkan sebelum dirinya masuk ke rumah megah ini. Entahlah, kemana perginya orang-orang dirumah ini.

Hingga akhirnya Reyhan yang sedang membutuhkan pertolongan pun akhirnya kalah.

Ia kalah dengan rasa sakitnya, karena beberapa menit setelahnya hanya kegelapanlah yang ia rasakan.

Reyhan pingsan di lantai kamar mandi yang dingin, dengan keadaan tubuh yang dipenuhi oleh cairan berwarna merah yang berasal dari hidungnya sendiri.

Tetapi sebelum benar-benar diselimuti oleh kegelapan, Reyhan masih bisa merasakan sesuatu.

Yang ia yakini adalah sebuah pelukan.
Iya, pelukan.

Dan yang melakukannya tidak lain dan tidak salah adalah...

Mahen, kakaknya.

______________

“Engh...”

Lenguhan kecil terdengar dari belah bibir Reyhan, kedua matanya ikut mengerjap beberapa kali saat netranya mulai menangkap cahaya dari lampu tidur. Reyhan akhirnya bangun, setelah tidak sadarkan diri selama lima jam.

REYHAN [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang