01. Kakak

3.6K 188 174
                                        

Cklek.

Suara pintu yang terbuka itu mampu memecah keheningan yang sudah lama terjadi di sebuah ruangan bernuansa gelap dan sunyi. Dinding dengan warna cokelat muda itu nampak cocok sekali untuk seorang laki-laki dengan nama lengkap Mahen Desta Nugraha tersebut.

"Kakak?"

Sebuah suara dengan ritme pelan mengalun masuk dengan sopan kedalam gendang telinga Mahen. Dengan malas remaja jangkung berusia 20 tahun itu menoleh, wajahnya yang sedari tadi memang tidak berekspresi menatap sosok yang tengah berdiri di pintu masuk kamarnya dengan tatapan dingin.

Mahen hanya menatap sekilas remaja yang menurutnya sudah mengganggu aktivitasnya -yang sedang membaca buku, dan menggunakan deep voice nya Mahen berucap;

"Pergi."

Reyhan, remaja yang tidak lain adalah adik kandung dari Mahen itu terkejut mendengar ucapan Mahen, yang bahkan belum mendengarkan satu kata pun dari mulutnya, tetapi sudah mengusirnya dengan enteng, seperti tidak ada beban.

"Reyhan kesini mau ngajakin kakak makan malam, Kak." Ucap Reyhan sambil mencoba menampilkan senyuman terbaiknya.

"Makan dulu yuk, Kak." Gugup, Reyhan sedikit meremas lengan kanannya.

Sedang Mahen masih diam, tidak merespon sedikitpun.

"Hmm, Kakak?"

"Kakak nggak mau makan?" Reyhan masih belum menyerah meski jauh didalam lubuk hatinya, ada perintah untuk segera pergi dari kamar Mahen.

"Nggak." Jawab Mahen singkat.

"Kakak nggak laper?"

"Nggak." Reyhan menatap Mahen sendu. Laki-laki dengan tubuh jangkung itu bahkan tidak melirik Reyhan sedetikpun.

Pandangan Mahen tetap saja lurus, menatap buku di hadapannya dengan fokus. Padahal, Reyhan sempat merapikan pakaian dan rambutnya sebelum masuk ke ruangan ini.

Bingung, Reyhan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi agar Mahen menerima ajakan makan malam darinya.

Setelah beberapa saat diam, Reyhan dengan tekadnya yang belum juga menyerah pun kembali bersuara.

"Ta-tapi kata Bibi, sejak pulang dari kuliah tadi Kakak belum makan, Kakak yakin nggak lape-"

BRAK!

"GUE BILANG NGGAK YA NGGAK! LO TULI!?"

"KALAU MAU MAKAN YAUDAH MAKAN AJA SANA, NGGAK USAH NGAJAK-NGAJAK GUE!"

Reyhan terkejut bukan main saat Mahen menggebrak meja belajarnya dengan keras, sedetik kemudian Reyhan langsung menundukkan kepala dengan tangan kanan yang memegangi dada sebelah kirinya. Demi apapun, Reyhan sudah bekerja keras untuk menstabilkan tubuhnya seharian ini, tetapi dengan mudahnya -bahkan hanya dengan bentakan berdurasi beberapa detik, Mahen berhasil membuat penyakitnya kambuh.

"Nggak usah sok peduli sama hidup gue. Dan lo harus inget, lo itu bukan adek gue. Gue nggak pernah punya adek yang penyakitan!"

Mahen mendorong tubuh Reyhan dengan kasar.

"Ck, dasar penyakitan nggak tau diri." Mahen berucap pelan, tetapi bagi Reyhan lebih dari cukup untuk menusuk jantungnya sangat dalam.

Reyhan menatap Mahen dengan sendu.

Brak!

Mahen membanting pintu kamarnya.

"Ka-kak..." Reyhan kembali menunduk, hati serta jantungnya kini mulai terasa sakit.

Reyhan adalah seorang remaja yang saat ini berusia 17 tahun, ia menderita penyakit leukimia sejak usianya menginjak 10 tahun. Disaat itu Ayah dan juga Bunda sudah tidak ada di dunia ini.

Mereka pergi meninggalkan Reyhan dan kedua saudaranya saat Reyhan masih berusia 8 tahun.

Dulu, Reyhan pernah berpikir, jika penyakit yang ia derita ini sudah termasuk kedalam golongan penyakit parah dan sangat cukup untuk menghancurkan hidup serta masa depannya.

Tetapi ternyata Reyhan salah, karena satu tahun setelah menderita leukimia dan menjalankan transfusi darah, meminum obat-obatan setiap hari serta melakukan kemoterapi secara rutin setiap bulan, jantung Reyhan tidak kuat menahan obat-obat kimia yang digunakan untuk mengobati kanker darahnya. Dan kini, jantungnya pun turut terkena imbasnya.

Jantung Reyhan juga ikut melemah seiring berjalannya waktu. Ditambah dengan penyakit sesak napas yang ia derita akibat faktor keturunan. Itu membuatnya semakin hancur.

Belum lagi dengan kakaknya yang semakin hari semakin mengacuhkan dirinya. Itu membuat Reyhan semakin terpuruk.

"Sampai kapan Reyhan sama kakak harus kaya gini?"

"Kami jauh banget. Ya Tuhan... Reyhan pengen deket sama kak Mahen, Reyhan pengen jadi kaya saudara-saudara lain yang ada di luar sana..." Ucapnya lirih sambil menatap pintu berwarna coklat tua dengan tulisan 'Mahen's Room'. Sambil berjalan menuju dapur untuk melaksanakan ritual makan malam sendirian. Lagi, Reyhan menghapus air mata yang entah mengapa malah turun tanpa ia sadari.

Dan malam itu, Reyhan kembali merasakan rasa 'sakit' yang baginya sudah biasa, tetapi entah mengapa walaupun hal itu sudah terjadi berulang kali, ia masih berhasil dibuat menangis olehnya.

Dan Reyhan rasa, ia tidak akan pernah bisa terbiasa dengan rasa sakit ini. Sampai kapanpun.

Huang Renjun/ Reyhan JeanNugraha

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Huang Renjun/ Reyhan Jean
Nugraha.

Huang Renjun/ Reyhan JeanNugraha

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Mark Lee/ Mahen Desta
Nugraha.

___________________

Halo para readers~

Buat yang udah mau mampir, baca, apalagi votmen, saya ucapkan banyak-banyak terima kasih. Semoga kalian semua suka sama ceritaku ini, ya!

See u in the next chapter all, luv u<3

REYHAN [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang