16. Cimol

682 69 0
                                        

Saat semua masalah seakan membuatmu ingin berhenti dan menyerah pada kehidupan, yakinlah, pasti ada setidaknya satu alasan yang membuatmu tetap bertahan sampai sekarang.

Cobalah melihat ke belakang. Coba ingat bagaimana pintamu setiap malam pada Yang Maha Kuasa. Dengan begitu, maka tidak akan sedikit hal yang menyadarkan kamu, jika perjalanan saat ini merupakan doa-doa yang pernah kamu ulang di masa lalu.

Jangan pernah berpikir untuk menyerah, cobalah untuk percaya pada dirimu dan juga Tuhan.
Percayalah, bahwa Tuhan tidak akan sejahat itu untuk membiarkanmu tetap merasa sedih dan kecewa.

Percayalah, bahwa Tuhan pasti akan mengganti semua rasa sakit dan kecewa yang engkau rasakan saat ini dengan kebahagiaan yang tiada akhir, yang bahkan tidak bisa diukur oleh logika.

Sama halnya seperti kehidupan Reyhan yang awalnya menyedihkan. Karena Reyhan percaya akan ada hal baik di depan sana, sekarang semua hal menyedihkan itu pun seakan terobati. Doa-doa yang ia panjatkan pada Tuhan terjawab, dengan sikap Mahen yang mulai berubah.

Dan pada akhirnya, Reyhan mulai merasakan ketenangan, kehangatan, dan kenyamanan di dalam rumahnya.

Sama seperti yang ia impikan.

Hari ini hari Kamis, Reyhan pulang dari sekolah dijemput oleh Mahen karena Jevan tadi pagi mengirimkan pesan jika dia sedang tidak enak badan dan sudah izin ke wali kelas, jadi Reyhan pun berangkat dan pulang dengan Mahen.

Biasanya jika seperti ini, Reyhan akan berangkat dan pulang kerumah naik bus atau taksi, berhubung sekarang hubungannya dengan sang kakak sudah lebih baik, ditambah dengan Mahen yang juga kebetulan sedang libur kuliah, maka Mahen bersedia bahkan menawarkan diri untuk mengantar dan menjemput dirinya.

Mobil Mahen berhenti tepat di depan gerbang sekolah yang dulu juga pernah ia tempati untuk menuntut ilmu. Keberadaan mobil mewahnya sontak mengundang berbagai pandangan dari para siswa-siswi di sekolah elit itu. Ada yang menatap mobilnya dengan kagum, ada juga yang menatapnya dengan tatapan bingung dan terkejut yang sulit untuk Reyhan artikan.

Tapi Reyhan tidak menghiraukan tatapan-tatapan aneh yang mereka tujukan untuknya, toh bukan urusannya juga.

Reyhan masuk kedalam mobil dengan sebungkus makanan berbentuk bulat-bulat di tangannya. Reyhan membelinya saat menunggu Mahen tadi. Ia mencium punggung tangan Mahen, setelahnya mulai memasang seat belt untuk mengamankan diri.

“Beli apaan tuh?” Tanya Mahen memecah keheningan, mobilnya melaju meninggalkan lingkungan sekolah.

“Cimol.” Jawab Reyhan menatap bungkus plastik di tangannya.

“Kakak mau?” Reyhan menyodorkan cimol nya pada Mahen, Mahen menggeleng.

“Nggak.”

“Ngapain beli makanan kaya gitu sih, Dek? Itu kan nggak sehat, nggak baik buat kesehatan kamu.”

Reyhan mengernyit, tidak setuju dengan pernyataan sang kakak yang menurutnya merendahkan cimol kesukaannya.

“Ini enak tau, Kak. Terus, pedagangnya juga nggak jorok, kok. Jadi ini sehat.” Ucapnya membantah pernyataan Mahen, kemudian memasukkan satu buah cimol ke mulutnya.

“Kakak nggak boleh kaya gitu, kak, itu sama aja kakak menghina usaha orang. Menghina orang itu salah satu perbuatan jahat, kakak mau dipanggil orang jahat?”

“Maksud kakak bukan kaya gitu, dek. Maksudnya tuh-”

Tiinn!

Shit!” Mahen mengumpat saat sebuah sepeda motor menerobos lampu merah dengan seenaknya, mobilnya nyaris saja menabrak pengendara motor itu jika saja tidak ia rem dengan segera.

Mahen menatap Reyhan yang ada disampingnya, wajah anak itu terlihat shock dan memucat. Bentuk cimol ditangannya juga sudah gepeng semua karena tak sengaja dia remas dengan keras.

“Adek? Adek nggak apa-apa, kan?”

“Kaget, ya?” Mahen menepikan mobilnya di area jalan yang lumayan sepi, ia segera melepas seat belt miliknya dan milik Reyhan, dan membawa tubuh kecil yang masih mematung diam itu kedalam dekapannya.

Mahen ingat, jika terkejut bukanlah hal yang baik untuk kesehatan sang adik, apalagi penyakit Reyhan akhir-akhir ini sering kambuh.

“Ada yang sakit?”

“Bilang sama kakak, apanya yang sakit, hm?”

“Maafin kakak, ya. Kakak kurang hati-hati tadi. Orangnya tiba-tiba banget, Dek. Jadi kakak reflek nginjak rem karena kaget. Maafin kakak, ya?”

Diam, manusia mungil di dekapannya itu masih saja diam seribu bahasa. Mahen mengernyit heran, ia menunduk untuk melihat wajah manis sang adik yang kini tengah menunduk.

“Adek?” Reyhan mendongak.

“Ditanyain kok diem aja, sih?”

“Ada yang sakit nggak?”

“Enggak ada, Kak.” Jawab Reyhan singkat.

Sedetik kemudian Reyhan mengerucutkan bibirnya.

“Nggak ada yang sakit tapi mukanya cemberut gitu. Kenapa? Kakak kan, udah minta maaf.”

Reyhan lagi-lagi diam, ia menunduk dan menatap bungkus plastik cimolnya yang sudah kusut, pun dengan cimolnya yang sudah tidak layak di konsumsi lagi.

“Cimolnya udah nggak bisa dimakan lagi, Kak. Tadi Reyhan kaget, terus reflek remas cimolnya, sekarang dia jadi gepeng...” Tangannya terangkat menunjukkan bungkus cimolnya yang sudah kusut pada Mahen. Wajahnya benar-benar ditekuk dan itu malah membuat Mahen ingin tertawa.

Tetapi ia menahannya dengan sekuat tenaga, agar adik manisnya tidak semakin badmood.

“Kakak jangan ketawa, Reyhan lagi kesel, tau!” Reyhan marah, ia benar-benar marah karena cimol yang tadi ia beli dengan harga tujuh ribu dan masih ia makan sekitar lima biji itu harus ia buang hanya karena seorang pengendara motor yang menerobos lalu lintas. Kesal, Reyhan merasa sangat kesal saat ini!

“S-siapa yang ketawa? Kakak nggak ketawa, kok.” Elak Mahen.

“Reyhan liat sendiri tadi, kakak nutupin mulut pakai tangan, pasti lagi ngetawain Reyhan, kan?!”

“Kakak nyebelin. Yang bawa motor tadi juga nyebelin. Kesel, Reyhan kesel!” Emosi Reyhan memuncak, ia memalingkan wajahnya kearah jendela dengan tangan kiri yang masih meremas bungkus cimolnya.

“Iya-iya, kakak minta maaf, ya. Nggak boleh kesel sama orang lain dong, dek, nggak baik.”

“Apalagi sama kakaknya sendiri.”

“Diem, Reyhan kesel. Reyhan badmood!”

“Iya kakak diem, tapi kakak dimaafin, kan? Adek nggak marah sama kakak, kan?”

“Nanti kakak beliin cimol lagi deh, gimana? Mau berapa? Satu truk pun kakak beliin asal nggak ngambek lagi sama kakak.”

Reyhan yang mendengar itupun langsung membalikkan badan dan menatap Mahen.

“Reyhan udah nggak ngambek lagi, kok. Tapi, kakak harus beliin Reyhan cimol dua puluh ribu, ya!”

Buset dah adek gue, makanan kenyal-kenyal kaya gitu doang masa suka banget, heran. Batin Mahen bergejolak.

______________

REYHAN [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang