02. Breakfast

1.7K 163 139
                                        

Alarm yang terletak di samping ranjang single size itu berbunyi nyaring, menandakan bahwa hari sudah berganti. Reyhan segera bangun, dan menatap angka yang terlihat di alarm berbentuk karakter Doraemon miliknya. Reyhan bisa melihat angka 05.00 disana. Seperti hari-hari biasanya, Reyhan bangun pagi karena ia harus bersekolah.

Sebenarnya bukan itu alasan utamanya. Reyhan bangun pagi karena ia tidak ingin melewatkan kesempatan untuk bertemu dengan kakak laki-lakinya, Mahen di meja makan nanti.

Good morning world!” Serunya dengan penuh semangat.

Reyhan segera pergi ke kamar mandi, membersihkan diri lalu memakai seragam sekolahnya. Beberapa saat kemudian, ia sudah rapi dengan seragam putih abu-abunya. Reyhan tersenyum lebar, dengan langkah yang penuh semangat ia membawa kedua kakinya turun kelantai satu.

Reyhan bersyukur penyakit yang ia derita tidak mengganggu pagi harinya kali ini, karena biasanya Reyhan akan bangun dengan rasa pusing, disertai dengan mual dan bahkan tidak jarang Reyhan harus muntah darah di pagi hari.

Sangat menyiksa, tapi Reyhan tidak punya pilihan lain selain menjalani hidupnya meskipun penuh dengan rasa sakit.

Reyhan menaruh tas ransel berwarna hitamnya di kursi meja makan, setelah itu ia duduk.

Dihadapannya sudah ada Mahen yang memakan makanannya dengan khidmat. Laki-laki berusia 20 tahun itu bahkan tidak melirik Reyhan sedikitpun.

Reyhan tersenyum lembut, dalam hati ia tidak berhenti bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk sarapan bersama sang kakak.

Memang, bagi orang lain hal seperti ini adalah hal yang biasa dan memuakkan. Tetapi bagi Reyhan, moment seperti ini adalah yang paling ia sukai, dan Reyhan ingin tetap merasakannya, walaupun hanya setiap pagi.

Saat ia dan Mahen duduk berhadapan sambil menikmati makanan masing-masing. Reyhan suka itu.

Reyhan memakan makanannya dengan mata yang sesekali melirik kearah Mahen. Kakaknya itu terlihat sangat keren. Reyhan jadi iri.

Tubuhnya atletis, rahangnya terlihat tegas. Apalagi wajahnya, terlihat sangat tampan dan keren.

Kadang Reyhan sampai berpikir, mengapa dirinya dan Mahen sangat berbeda? Padahal mereka berdua kan saudara kandung...

“Stop!”

Reyhan tersedak makanan yang baru saja ia telan, ia benar-benar terkejut saat Mahen tiba-tiba bersuara, apalagi disaat Reyhan sedang menatapnya diam-diam.

“Eum i-iya, Kak? Ada ap-”

“Jangan natap gue terus.” Potong Mahen dingin.

“Nganggur banget mata lo, ya?” Kalimat Mahen merupakan pertanyaan, tetapi bagi Reyhan lebih terdengar seperti kecaman, yang jika ia melakukannya sekali lagi, hal buruk akan menimpa dirinya.

Reyhan menunduk, merasa sangat malu.

“I-iya, Kak, maafin Reyhan.”

Mahen tidak menjawab. Seperti tak ada sesuatu yang terjadi serta tanpa merasa bersalah sedikitpun pada sang adik bungsu, Mahen bangkit dari duduknya lalu melenggang pergi meninggalkan Reyhan, yang saat ini masih menghabiskan separuh dari makanan yang ada di piring.

Reyhan menatap punggung tegap itu dengan penuh keinginan.

Jujur, Reyhan sangat menginginkan kasih sayang dari Mahen. Reyhan ingin diperhatikan, Reyhan ingin berbicara, saling mengobrol dan bergurau dengan Mahen.

Ia ingin hubungan antara dirinya dengan sang kakak menjadi akur dan dekat. Tidak seperti ini. Mereka berdua memang berada di dalam rumah yang sama, atap yang satu, serta kamar yang bersebelahan, namun Reyhan merasa jika dirinya dan sang kakak setiap harinya malah semakin jauh.

“Asal kakak tau, Reyhan bersyukur banget masih bisa ngerasain sarapan bareng sama kakak. Terus kaya gini sampai nanti ya, Kak?”

Monolog Reyhan sambil tersenyum, menatap punggung tegap Mahen yang perlahan-lahan mulai menghilang ditelan oleh jarak.

REYHAN [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang