08. Pain Outside & Inside

1.1K 96 1
                                        

Jam di dinding menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, Reyhan bangun dari tidurnya dan segera menuju kamar mandi.

Setelah selesai mandi dan membersihkan diri, Reyhan turun ke lantai satu, seperti biasa ia akan melaksanakan ritual sarapan bersama kakak tersayangnya.

Hari ini hari Minggu, jadi sekolah libur. Tetapi meskipun libur, Reyhan tidak pernah bangun siang karena hal itu akan membuat keadaannya semakin memburuk.

Sebenarnya Reyhan ingin sekali menikmati hari libur dengan berjalan-jalan keluar rumah, dan bertemu dengan teman-teman. Tetapi lagi-lagi ia harus menahannya karena sadar betul, kondisi tubuhnya tidak memungkinkan untuk melakukan banyak hal diluar sana.

Reyhan duduk di kursi, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh rumah.

Lagi-lagi ia tidak melihat keberadaan Mahen.

Reyhan melangkahkan kakinya pelan, kembali menuju ke lantai dua, tempat kamarnya dan kamar Mahen berada.

“Kakak kemana, ya?” Lirihnya sembari menatap pintu kamar Mahen. Pintunya terkunci, itu tandanya Mahen tidak ada di dalam.

Den Reyhan? Aden sudah bangun?” Bi Ami tiba-tiba datang dan mengejutkan Reyhan, Reyhan reflek memegangi dadanya dengan kedua tangan. Gara-gara Bi Ami, kini jantungnya kembali berdebar-debar. Untung tidak terasa sakit.

“Eh maaf, Den. Aden nggak apa-apa? Ada yang sakit ndak?” Bi Ami jadi panik sendiri. Ia baru sadar jika dirinya mengagetkan anak bungsu dari keluarga Nugraha itu.

“Eng-gak, Bi. Reyhan baik-baik aja, kok.” Reyhan tersenyum.

“Huh... Syukurlah kalau begitu.” Bi Ami menghela napas lega.

Den Mahen kemarin pas mau berangkat kuliah pamitan sama Bibi, katanya mau nginep dirumah temennya, Den Wisma. Paling sebentar lagi pulang, kan hari ini hari Minggu, Den, kampus libur.” Jelas Bi Ami, Reyhan menganggukkan kepalanya.

Aden sudah sarapan belum? Kalau belum, sarapan dulu ya, Den, biar tubuhnya nggak sakit.”

“Iya Bi, siap.”

Reyhan kembali turun, lalu duduk di kursi makan.

“Bi Ami udah sarapan apa belum Bi? Kalau belum ayo sarapan bareng Reyhan.” Mendengar itu, Bi Ami tersenyum.

“Terimakasih banyak ya, tapi Bibi sudah sarapan tadi pagi-pagi sekali, Den. Sekarang bibi mau ke pasar dulu, stok sayur di kulkas sudah menipis soalnya.”

Aden sarapan sendiri nggak apa-apa? Kalau Aden nggak mau, Bibi bisa temenin Aden sarapan dulu, setelah Aden selesai baru Bibi berangkat ke pasar.”

Ucap Bi Ami dengan lembut. Reyhan jadi terharu. Bi Ami sangat peduli dengan dirinya, itulah sebabnya mengapa Reyhan menganggap Bi Ami sebagai ibu keduanya, setelah almarhumah Bunda.

“Hmm nggak usah deh Bi. Reyhan sarapan sendiri aja. Kasian Bibi kalau ke pasarnya kesiangan, nanti kepanasan.”

Bi Ami tersenyum, lalu menganggukkan kepala. Setelahnya, perempuan berusia kepala empat itupun segera pergi ke pasar.

Reyhan melaksanakan ritual sarapannya, setelah selesai ia pun berdiam diri di kamar.

Reyhan menghela napas panjang, ia merasa sangat jenuh sekarang.

Tiba-tiba Reyhan teringat pada Mahen, sang kakak.

Biasanya, saat hari Minggu seperti ini Mahen selalu ada dirumah. Ia akan melakukan banyak hal, tetapi yang Reyhan tau, hal yang paling sering lakukan oleh sang kakak adalah bernyanyi sambil bermain gitar.

Kakak Mahen itu sebenarnya bisa bernyanyi, bahkan suaranya bagus. Tetapi karena merasa gengsi, ia lebih memilih memendam bakat bernyanyinya dan beralih menjadi seorang Rapper, itu yang Reyhan kira pada awalnya.

Tetapi ternyata Reyhan juga salah, karena pada kenyataannya kakak juga memendam bakatnya sebagai Main Rapper. Hingga sekarang teman-teman satu Band-nya pun hanya mengenalnya sebagai seorang gitaris.

Padahal, Reyhan suka mendengar suara kakak saat sedang bernyanyi, apalagi sambil bermain gitar.

Bagi Reyhan, suara kak Mahen itu sangatlah mahal. Ia tidak bisa dengan mudah mendengarnya, walaupun mereka tinggal serumah.

Dan Reyhan akan merasa senang sekali jika mendengar kakak sedang menyanyi. Suaranya terdengar indah, apalagi petikan pada gitarnya.

Itu terdengar sangat merdu...

Saat mendengarnya, Reyhan pasti akan segera menempelkan telinganya pada dinding pembatas antara kamarnya dengan kamar kakak. Reyhan merasa bersyukur karena dinding dari kamar keduanya tidak dibuat kedap akan suara, jadi Reyhan pun bisa mendengar gold voice Mahen, walaupun samar-samar.

Bahkan tidak jarang, Reyhan ikut bernyanyi tanpa sepengetahuan sang kakak.

Jika mengingat hal itu, Reyhan jadi semakin 'ingin dekat' dengan kakak.

“Tuhan, Reyhan pengen banget ngerasain pelukan dari kakak. Semoga suatu hari nanti keinginan Reyhan bisa terkabul, amin.”

Monolog Reyhan yang berdoa kepada Tuhan, air mata kembali turun membasahi pipi tirusnya. Dari dulu ia dan juga Mahen tidak pernah dekat, karena Mahen yang memang pendiam dari kecil, ia tidak mudah menyapa kepada orang lain. Bahkan kepada Reyhan yang adik kandungnya.

Kakak dulu hanya dekat dengan Bunda. Hanya Bunda-lah yang bisa dekat dengan Mahen. Ayah dan kak Daniel saja tidak bisa.

Dan sifat pendiamnya semakin menjadi-jadi saat Bunda pergi meninggalkan dunia, tepat pada saat Reyhan berulang tahun yang ke delapan tahun. Saat itu Mahen berusia sepuluh tahun, sedangkan Daniel berusia lima belas tahun.

Dan sejak saat itulah Mahen menjadi pribadi yang semakin murung, dan dingin bagaikan es.

Jika saja Mahen tidak menuruti egonya dan sadar diri bahwa sikapnya itu tidak baik, ia pasti tidak akan seperti ini.

Ia tidak akan mudah meninggalkan Reyhan yang kondisinya semakin hari semakin lemah. Juga, ia tidak akan mudah membentak dan menyentuh Reyhan.

Lagi-lagi Reyhan hanya bisa menangis dalam diam. Jujur, tubuhnya tidak sakit, bahkan tidak sakit sama sekali. Tetapi terlepas dari itu, hati dan batinnya lah yang terasa sakit.

Reyhan juga manusia biasa. Ia juga punya batasan. Dan lagi, ia tidak akan pernah bisa terbiasa oleh rasa sakit ini.

REYHAN [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang